Masih sohib

Boneka, baju, tiket melancong, ah....

Ribet. Kudu ngasih apa kado ulang tahun Uli?

Dari tadi aku muter mall udah kayak satpam nggak dapat THR. Sempat ketemu Liyana, keponakan Aksa, sama Harry, tunangannya.

Kalau orang ketemu aku, statusku masih jomblo sejati. Maklum, cinta sejati belum nyadar. Eh!

Aku menggeleng, makin ke sini, otakku makin nggak bener. Apa karena usiaku, hingga Ovum-ku teriak-teriak, minta dibuahi? Astaga.

Kan? Gesrek otakku, ya Allah!

"Kenapa nggak ngajak?"

Allahu Rabbi. Baru aja minta dibuahi, eh udah nongol.

"Kamu sibuk. Lagian cuma nyari kado Uli. Bukan nyari cincin nikah."

Aku kenapa ya Allah? Hubungannya apa kado Uli sama cincin nikah?

"Boleh juga kalau mau lihat cincin nikah. DP lihat dulu."

Ish. "Nyari kado apa?"

"Boneka," jawab Aksa tanpa lihatin aku. Dia juga udah jalan duluan lewatin aku, dengan satu tangan di saku celana bahan.

Dianya santai. Aku yang nggak. Ada yang berdenyut nggak tahu diri di sana.

"Jangan main di belakang, bahaya!"

Celetukan Aksa memang nggak gede, tapi cukup nyaring di terima pendengaranku.

Sedikit berlari, langkah kusejajarkan dengan Aksa.

"Harus banget, main di belakang?"

"Apasih!" tas lengan, kudaratkan di punggungnya.

"Kan gini, bisa lihat. Kenapa harus di belakang?"

"Pede banget Mas!"

Merasakan langkah kaki Aksa terhenti, aku juga berhenti, dan menoleh ke belakang. Tepatnya dua langkah kaki di mana Aksa berada.

Dia kaya tertegun. Atau bingung gitu. Nggak tau apalah.

"Kenapa?"

Santai Aksa menggeleng. Kakinya kembali melangkah. Dan, aku jadi bingung.

Tadi Aksa berhenti, pas aku noleh, dia kaya lagi lihatin aku gitu. Tapi nggak ada ekspresi apapun.

"Lagi ada masalah di kantor?" pancingku setelah sesaat kami diam. Nggak enak, juga nggak biasa kalau lagi jalan berdua kami diem-dieman. Selalu ada ide yang aku bahas.

"Nggak."

"Terus?"

Bukannya jawab, Aksa malah ngalihin pertanyaanku. "Kamu cari apa? Itu stand boneka."

"Mainan aja. Boneka aku udah sering beli. Lagian Uli udah punya banyak."

"Dari kamu. Dari aku kan belum."

Iya, Iya! Beli. Kan aku nggak larang.

Gede Maaaakkkk! Besar, panjang, eh Tinggi. Maksudku bonekanya.

"Boleh warna ini?"

Merah menyala. Aku ingat-ingat lagi, kayanya belum ada boneka Uli berwana merah.

Aku mengangguk.

"Boleh beruang?" tanyanya lagi.

"Boleh." banyak sih beruang. Tapi nggak ada yang segede ini. Juga belum ada yang warna ini.

Hidup Uli dikelilingi boneka-boneka unyu, hidupku dikelilingi kehampaan. Apa sih?

Ya Allah...jodohku, udah lahir kan?

"Itu ada set mainan."

Aku melihat arah pandang Aksa. Tidak lama setelah dia bayar, kami masuk ke toko macam-macam set mainan anak.

Banyak banget. Ada kitchen set. Perabotan rumah, mulai dapur, kamar, ruang tamu sampai kamar mandi. Ada juga set olahraga.

Warnanya juga macam-macam. Unik. Berasa masuk IKEA. Hahaha

"Jadinya yang mana?"

"Nanti. Lihat-lihat dulu."

Aku tahu, Aksa bukan tipe yang sabar nungguin cewek belanja. Bisa dihitung ia temenin almarhum istrinya. Kecuali Haz, wanita yang membutakan mata hatinya. Waktunya akan selalu ada.

Elah...namanya juga cinta. Kontrakan  berasa apartemen.

Kulihat Aksa narik satu bangku, sementara aku lanjut lihat-lihat dulu.

Sumpah! Masuk ke sini berasa di upgrade lagi skill tentang kewanitaanku. Ah, maksudku, jiwa seorang perempuan.

Aku salah mulu ngomongnya.

Kitchen set, menjadi pilihanku. Lengkap tabung elpiji. Nanti aku yang ajarin bocah satu tahun itu masang gas.

"Itu apa?"

"Tabung gas."

Aksa mengernyitkan keningnya. "Ada juga versi mininya. Aku baru tau."

Kelihatan sih cengo-nya.

"Aku juga beli buat Arin. Pasti senang dia."

Aksa tersenyum. Bukan senyum pertama yang aku lihat. Tapi cukup menghangatkan...ah...apasih!

"Besok mau sendiri, apa aku jemput?"

"Sendiri aja."

"Yakin?"

Kepalaku mengangguk. Rumahku lumayan jauh dari kantornya. Aku sih nggak masalah tiap hari ngelayap, namanya juga perasaan. Mau gimana dong?

Aksa nyodorin ponselnya ke aku, tampak aplikasi WA yang terbuka. Pesan dari Arin.

Arin nginap di rumah Uli. Tadi di jemput mama Hana. Arin minta dibeliin baju warna yang sama kaya punya Uli.

"Emang baju Uli yang gimana?"

"Kamu kan punya nomor Hana. Apa harus aku yang chat?"

"Boleh," jawabku sambil balikin ponsel ke dia.

"Ya udah chat aja. Itu ada nomor Hana," balas Aksa, yang langsung kutanggapi dengan cari nomor Hana di kontaknya.

"Nggak ada."

"Adik ipar."

Sontak aku ketawa. Dulu aku pernah lihat nama kontak Hana di ponsel Aksa, Farhana cantik.

"Kok jadi adik ipar?" tanyaku masih dengan tawa yang susah reda, mengingat konyolnya kisah mereka yang kucomblangi. Dan akhir yang tragis dari kisah mereka.

"Kan emang adik ipar."

"I know. Harusnya, Hana atau apalah," candaku.

"Kejelasan harus dimulai dari hal kecil. Biar nggak merambat di hari esok."

Oke.

"Kamu nggak mau menjelaskan sesuatu?"

"Aku?"

Aksa mengangguk.

"Tentang?"

"Hatimu, misalnya."

Aku...bersin.

Aksa ngomong apa sih?