Bab 6 [Episode Sebelum Nestapa]

Aku mengetuk pintu ruangan jurusan Fisika setelah menunggu lama di depan Fakultas. Ruangan yang enggak kalah nyamannya dari ruangan laboratorium. Bangkunya lebih empuk dengan busa tipis ditutupi karpet biru. Wifi? Sepertinya di daerah ini jauh lebih berlimpah dan pastinya nyaman. Rasa nyaman itu emang enggak ada bandingannya dibandingkan ketersediaan yang banyak atau kekuatan paling kuat sekalipun.

Setelah menyembulkan wajah di balik pintu. Kulihat pembimbing skripsiku tersedia di dalam ruangan. Ia terlihat tenang dengan kemeja putih dan bercelana keper hitam. Apalagi setelah salat asar, pancaran ketenangannya terpancar dari rambut yang basah. Aku berusaha untuk sopan saat menyapa dirinya.

"Nah, gimana udah diacc?" tanya Bapak bersiap menampung keluh kesah.

"Belum Pak." Raut wajah sedih ini emang enggak bisa dibohongi, tapi aku enggak nangis kok. Masih tetap kuat.

"Udah lama banget ya? Yaudah Bapak bilang ke pengujimu ya." Ia kemudian menelpon pengujiku setelah aku mengangguk pasrah. Pengujiku lebih tua dibandingkan pembimbing skripsiku. Ia mendengarkan dengan hikmat dan akhirnya mengucapkan sesuatu padaku setelah menutup panggilan. "Yaudah ke sana, biar ditandatangani sama Ibu. Jangan lupa, banyak-banyak berdoa ya."

Aku mengikuti instruksi pembimbingku dan langsung bergegas ke laboratorium lagi. Untungnya ada sepeda motor, jadinya enggak perlu waktu lama untuk bisa sampai ke sana dan tak lupa menyiapkan pena ketika dibutuhkan.

Saat pintu ruangan dingin itu kubuka, aku melihat tatapan tajam dari pengujiku. Aku enggak tau apa itu, tapi yang jelas ini bukan tatapan hangat. Melainkan tatapan paling dingin dibandingkan ruangan ber-ac ini.

"Kau ya, kau pikir hebat kali kau jadi orang. Mana pulpen kau," ucapnya tegas dengan nada penekanan paling keras khas Batak.

Deg, seketika kuberikan pena yang berada di tanganku. Kemudian ia menandatanginya dan melemparkan pena itu dengan ekspresi teramat kecewa dan memandang tidak suka. Pantulannya bahkan berbekas. Aku yang menyaksikannya lantas tak bisa berkata apa-apa. Ibu marah, ya ibu marah dan aku. Apa salahku? Kenapa ini harus menyakitiku? Kenapa?

Aku keluar setelah ia menyuruhku pergi dan air mataku mengalir deras saat aku keluar dari pintu ruangan dosen. Aku enggak bisa berkata apa-apa dan segera pulang membawa revisian yang sudah ditandatangani. Rasanya seperti bom yang menghujaniku tanpa ampun. Pertama, Mamaku sendiri dan sekarang ibu juga begitu. Apa yang harus aku lakukan?

"Gimana kak, jadi diacc?" tanya seorang lelaki yang juga ingin meminta tanda tangan sama Ibu di lorong pintu keluar.

Aku hanya bisa mengangguk sembari menyembunyikan wajah sedih. Kemudian berlalu pergi, setelah ia masuk ke dalam.

Enggak, pokoknya aku harus kuat lebih dari apapun. Langkah ini sudah terlewati dan aku harus bisa bangkit lagi. Hanya saja, sakitnya enggak ketulungan. Kalau begini, aku lebih baik dipukul saja dibandingkan hatiku yang terpukul. Badanku mungkin terlihat lebam, tapi hatiku enggak apa-apa bukan? Aku lebih milih itu saja deh. Aku bingung sekali, kenapa mudah sekali menangis. Kenapa aku enggak bisa mengeraskan hati di saat begini? Sekarang aku tersiksa sendirian. Hatiku remuk seketika.

**

Seminggu setelah proposalku diacc, kini giliran aku melakukan validasi media sebelum media yang akan digunakan layak diujikan di lapangan. Pengujiku merekomendasikan sebuah nama seorang dosen paling beken di kampus ini. Ya, aku sudah kenal dengan Bapak dan Ibu ini. Dua orang sejoli, suami istri yang menjadi dosen Fisika di Universitas Negeri Medan. Itulah mengapa banyak binaan PKM mereka lolos hingga ke tingkat Nasional. Masyaa Allah sekali. Mereka berdua saling mendukung satu sama lain.

Aku baru saja selesai mengikuti PKM Penelitian beberapa bulan yang lalu melalui kolaborasi dengan jurusan teknik. Jadi, pekara bangunan, teknik sipil ada jugalah koneksinya di sana. Apalagi rekanku merupakan ketua tim kreator yang baru terbentuk. Itu berarti kedekatan kami sudah bisalah menjadi lobi-lobi ke orang yang bisa kumintai tolong untuk validasi. Mungkin kemarin istrinya tidak bisa menerimaku dalam memvalidasikan media soalku. Enggak apa, masih ada Bapak itu yang lebih sering melihatku mondar-mandir di gedung putih kala persiapan Monev PKM.

"Jadi Kil, mau validasi?" tanya Kiki setelah menghampiriku duduk di sofa empuk tepatnya di gedung S2. Nur yang merupakan mahasiswa berprestasi waktu itu sudah berada di sampingku menunggu giliran masuk.

"Iya."

"Yaudah kita bareng-bareng aja masuknya."

Kami bertiga masuk ke dalam ruangan dan aku mengekor dari belakang. Nuansa ruangan tenang dengan privasi sedang. Tampak ada dua orang dosen di dalam. Dosen pertama yang merupakan dosen validasi. Sedangkan yang berada di dekat pintu masuk adalah dosen muda ganteng dengan perawakan hitam manis. Aku sedia menunggu hingga urusan Kiki dan Nur selesai lebih dulu. Ya, aku merupakan pendatang baru di ruangan ini dan menunggu merupakan cara paling terapik dalam mengambil situasi.

"Ada apa tuh?" tanya Bapak kepadaku.

"Pak, saya mau validasi soal yang telah saya buat," ucapku bersiap memberikan kertas validasi yang entah berapa banyak kali revisi ngeprint. Jelas, sudah banyak kali kertas terbuang hanya untuk mendapatkan soal dan rubrik penilaiannya.

"Ha, kamu mau validasi sama saya? Saya enggak bisa main langsung validasi gitu saja. Apalagi saya enggak kenal dengan kamu sama sekali. Kalau mereka berdua ini memang sudah menjadi bimbingan saya sejak dulu. Jadi, saya bisa mengetahui mereka itu bagaimana."

Hah? Aku ditolak, nyes. Jadi, selama ini yang telah kulakukan mengikuti arahan kampus itu apa? Bapak itu enggak kenal sama aku sama sekali.

"Yaudahlah sini validasimu biar Bapak tengok," ucapnya setelah duduk di meja kerja miliknya.

Aku yang duduk lantas bersiaga memberikan apa yang Bapak itu minta dan mendekatinya. Kuserahkan kertas putih yang sudah berbulan-bulan sakit kepala kukerjakan. Jujur mendapatkan soal itu enggak mudah bagiku dibandingkan aku yang sudah memiliki keahlian dalam menguraikan sesuatu. Soal yang aku kerjakan ini merupakan keluar dari zona nyamannku. Jadi, kalau ada perbandingan mana lebih mudah antara mengerjakan modul atau soal. Jelas, aku pasti memilih modul. Itu seperti jalan tol menguraikan kata ala novel.

"Apa ini? Enggak ada yang layak satu pun malah? Ini enggak bisa, mana mungkin anak SMA mampu mengerjakan soal ini. Kalau di kalangan mahasiswa mungkin bisalah. Terus, enggak relevan malah dengan yang ada saat ini. Kalau yang ini bolehlah. Nah yang ini? Banyak yang enggak layak," ucapnya sembari menandai mana-mana saja yang tidak berkenan di hatinya. "Jadi begitu ya, bukannya Bapak enggak mau, tapi Bapak enggak tahu kamu."

Sudah ditolak, dikasih harapan, ujung-ujungnya ditolak. Baiklah, mungkin ini memanglah takdirku. Aku pun enggak bisa apa-apa. Jadi, aku memilih pamit lebih dulu pada Kiki dan Nur yang masih berada di dalam ruangan menyaksikanku tadi ditolak. Jelas, bibirku terkunci menyaksikan serangkaian ini semua. Tubuhku mungkin berjalan, tapi sakitnya enggak ketulungan. Rasanya seperti dibombardir tanpa ampun.

Allah, ke mana aku harus melangkah? 

Bersambung