Kekasih Awal dan Akhir
KAU KEKASIH AWAL DAN AKHIR
#cerpen

Sore telah mendekati senja. Semburat jingga di langit barat perlahan memudar. Aku masih duduk disudut kota ini sambil menghisap rokok yang terjepit disela-sela jari. Sambil memandang kesibukan lalu lintas jalan utama. Entah kenapa, rasanya enggan untuk segera pulang. Padahal aku bisa membayangkan kerepotan yang terjadi di rumah kala menjelang senja begini.

Repot apa? Anak-anak tentunya. Setiap hari aku yang banyak mengurus mereka. Mulai bangun hingga menjelang tidur. Kadang terlalu lelah menjalani semua ini. Aku menunduk. Melihat puntung rokok yang ku jatuhkan dan terinjak oleh ujung sepatu.

Aku menghela nafas berat. Lelah. Apalagi ketika mengingat omelan panjang Mbak Marni, kakak sulungku.

"Benar ya, Her, istrimu hamil lagi," tanya Mbak Marni suatu siang, ketika aku mampir sebentar ke rumahnya.

Aku mengangguk, "ya." 

Tentu Mbak Marni mengetahui hal itu dari bidan Sari, karena disana aku membawa Lena periksa.

Mbak Marni berdecak lirih, sambil melengos. Sudah kuduga sebelumnya, kalau tanggapan mereka akan seperti ini. Bukan hanya keluarga, tanggapan orang luar pun pasti sama. Maklum, mereka tahu kondisi keluarga kami. 

"Kalau istrimu itu nggak ngerti pakai kontrasepsi, harusnya kamu yang jaga diri. Masa iya, untuk urusan begitu saja harus selalu mbakmu ini yang mengingatkan."

Aku hanya diam. Memang kakakku benar. Selama ini Mbak Marni-lah yang selalu datang ke rumah pada tanggal-tanggal tertentu dan mengajak Lena ke bidan desa untuk pemakaian alat kontrasepsi. Entah itu apa namanya aku kurang tahu.

Mungkin akhir-akhir ini Mbak Marni lupa atau sudah bosan dengan keadaan yang membebaninya selama empat tahun belakangan ini. Dan aku ... tentunya tidak memperhatikan sama sekali. Apalagi aku juga harus bekerja dan mengurus tiga anak yang masih berusia dibawah sepuluh tahun semua. 

Benturan di kepala waktu kecelakaan yang dialami Lena empat tahun yang lalu membuatnya mengalami destarasi mental. Benturan itu menyebabkan perdarahan diotak dan harus menjalani bedah syaraf. Setelah usai operasi, perilaku Lena jauh berubah. Dia seperti anak kecil dan labil. 

Aku ingat ketika baru keluar dari rumah sakit. Lena berteriak ketakutan saat melihat darah mengalir diantara pahanya. Dia sudah lupa bagaimana mengatasi siklus bulanannya.

"Sudah berapa bulan?" tanya Mbak Marni lagi. Tanpa memandangku.

"Dua bulan."

"Terus ... mau tetap dilahirkan bayi itu. Anakmu si Edi baru umur dua tahun setengah, Her. Mbak nggak bisa bayangin gimana repotnya kamu. Mbak bisa bantu ya kadang-kadang saja. Kalau Mbak lagi longgar. Kamu tahu 'kan, Mbak juga jaga anaknya si Dian. Kalau ibunya lagi ngajar."

Aku diam. Memandang jauh ke angkasa lepas. Sinar matahari siang begitu menyilaukan. Selama ini memang Mbak Marni mulai sibuk mengurus cucu pertamanya. Mungkin karena hal ini juga, kakakku itu mulai lupa jadwal pasang KB buat istriku.

"Gimana?"

"Apa aku harus jadi pembunuh calon anakku sendiri, Mbak?" Getir sekali ku rasakan saat mengucap kalimat itu.

Ganti Mbak Marni yang diam. Aku menghela nafas dalam-dalam.

"Kalau begini mbak juga bingung, Her."

Lamunanku buyar ketika bunyi klakson terdengar bersahutan. Aku mengangkat wajah. Rupanya ada penyeberang yang nyelonong saja tidak melihat kiri kanan.

Aku bangkit dari duduk. Membuka mobil chery butut yang diberi oleh bapak mertua, agar memudahkan aku membawa Lena berobat dan membawa anak-anak hanya sekedar untuk keliling kota dimalam Minggu. Ya, sebenarnya sampai sekarang aku masih membawa Lena terapi pada seorang psikiater.

***

"Ayah pulang ... Ayah pulang," teriak Reno sambil dilagukan. Saat melihatku turun dari mobil di garasi. Reno anak keduaku.

Aku tersenyum. Sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Sepatu kulepas didepan sebelah pintu utama, ketiga putraku berebutan untuk bisa memeluk. Seperti biasanya, Edi yang paling bungsu teriak-teriak karena dihimpit kedua abangnya.

Aku menggendong Edi di lengan kiri, sementara Reno di lengan kanan. Adam berlari duluan masuk ke ruang dalam.

"Kenapa, Ayah, pulangnya telat?" Protes si sulung, Adam. Setelah kami duduk di karpet depan tivi.

"Iya. Besok ayah usahakan pulang lebih cepat," ucapku sambil mengusap kepala ketiga jagoanku bergantian.

"Kami nggak ngaji, 'kan jadinya. Karena telat mandi," gerutu Reno.

"Iya, ayah minta maaf, ya." Aku tersenyum melihat bibir Adam dan Reno mengerucut sebal. Sedangkan Edi anteng sambil menonton kartun kesukaannya.

Aku diam memperhatikan sekeliling. Mencari dimana Lena. Lantas aku menoleh pada si sulung.

"Bunda mana, Mas?" tanyaku. Setelah lahir Reno waktu itu, kami memanggil Adam dengan sebutan 'Mas'. Biar kedua adiknya juga terbiasa memanggil begitu.

"Ada di kamar. Bunda tidur saja dari tadi siang."

Aku tersenyum pada Adam yang memandangku. Anak-anak belum tahu kalau mereka akan punya adik lagi.

"Oke. Kalian nonton tivi dulu. Ayah mau mandi, nanti ayah panggil untuk sholat Maghrib berjamaah, ya. Habis itu kita makan sama-sama."

Adam mengangguk. Dan aku melangkah masuk kamar. Di atas ranjang, Lena meringkuk menghadap dinding. Ku pegang dahinya, memastikan kalau dia tidak demam.  Syukurlah, suhu badannya normal. Tapi tetap diam saat kusentuh. Matanya juga terpejam.

Aku melangkah ke arah lemari pakaian, mengambil baju ganti. Kemudian bergegas keluar kamar untuk mandi. Kulewati anak-anak yang menertawakan adegan lucu di film kartun kesukaannya.

Ada yang tersayat pedih dibenak ini. Keceriaan mereka sudah biasa tanpa didampingi oleh sosok ibu. Adam terpaksa harus dewasa sebelum waktunya. Dan menjadi pelindung kedua adiknya. 

***

"Sayang, ayo bangun makan malam dulu," ucapku membangunkan Lena. Tapi ia hanya menggeliat sebentar, sama persis saat kubangunkan untuk sholat Maghrib tadi.

"Ayo, makan dulu. Ntar kelaparan, lho." 

Lena masih diam. Menatapku sejenak, lalu kembali memejamkan mata. Kalau tidak mengingat apa kata dokter, entah berapa kali aku marah dalam sehari semalam. 

"Bapak harus sabar, ya! Karena faktor utama kesembuhan pasien seperti istri, Bapak, adalah semangat dan dukungan dari keluarga."

Aku menghela nafas pelan, dalam dan lelah. Ku selimuti kakinya, setelah itu beranjak menemui anak-anak di ruang tengah.

"Ayo anak-anak kita makan. Bunda belum mau makan."

Ketiga bocahku berdiri, dan berlari ke ruang makan. Si kecil yang ketinggalan, akhirnya ku gendong. 

Adam dan Reno mengambil piringnya sendiri di rak. Edi aku dudukkan di kursi anak yang dulu ku beli waktu Reno masih kecil. Biar dia mudah untuk menjangkau meja dan makan sendiri.

Tudung saji yang dibuka Adam hanya menampilkan menu yang masih sama seperti tadi pagi. Ayam goreng dan sayur sop. Tapi anak-anak sudah biasa makan seadanya.

Lagi-lagi kami makan malam tanpa Lena. Dia mulai malas beraktivitas sejak sebulan usia kandungannya.

Aku meladeni anak-anak yang makan sambil bercengkrama. Terkadang aku ikut tersenyum dengan candaan mereka. Sedangkan didalam sini, entah ada perasaan yang bagaimana.

***

Pukul sepuluh malam anak-anak sudah tidur. Adam dan Reno tidur dalam satu kamar. Sedangkan Edi masih tidur dengan kami.

Sebelum keluar kamar kupandangi wajah istriku. Jujur, apapun keadaannya Lena masih tetap cantik. Dia adalah wanita yang tangguh ketika masih sehat dulu.

Aku keluar kamar dan merebahkan diri di sofa ruang keluarga. Memandang langit-langit ruangan, dalam remang lampu malam.

Usiaku baru tiga puluh lima tahun. Dimana itu adalah usia pria yang penuh ambisi,  semangat, birahi dan juga emosi. Emosi dalam arti menggebu-gebu dalam meniti karir. Tapi takdir hidup membawaku seperti ini.

"Her, kamu masih muda. Jaga saja anak-anakmu. Biar bapak bawa Lena ke Semarang bersama kami. Nanti sembuh akan kami kembalikan padamu."

Aku ingat sekali, ketika kedua mertua dan mas iparku menawarkan hal itu. Tapi sebagai suami, aku tidak ingin menjadi pria pecundang. Apapun keadaannya, Lena akan tetap kurawat sendiri. Apalagi kecelakaan itu juga karena aku yang memboncengnya, saat pulang kondangan dari teman.

Malam makin hening. Hingga detak jam dinding terdengar begitu jelas. Satu demi satu kenangan melintas dengan pantas. 

"Yah, kapan Bunda sembuh," tanya si sulung suatu hari.

"Semoga tidak lama lagi, ya. Jangan lupa selalu doakan Bunda," jawabku memenangkannya. 

"Yah, kenapa orang-orang bilang kalau Bunda tidak waras," ganti Reno yang bertanya sepulang dari bermain. Dan itu adalah pertanyaan yang membuat dadaku seperti tertusuk belati. Bagaimana caraku menjelaskan pada anak berusia tujuh tahun.

Kurengkuh Reno dalam dekapan. 

"Jangan dengarkan omongan mereka. Bunda tidak apa-apa. Bunda hanya sakit biasa dan akan sembuh secepatnya."

"Kapan Bunda bisa ngantar jemput Reno sekolah?"

"Nanti kalau Bunda benar-benar sudah sehat dan bisa naik motor lagi."

Reno mengangguk. Aku cium berkali-kali pipinya yang tembem. Dia terkekeh geli karena gesekan kumis dan cambang yang sekarang jarang terurus.

"Mas," panggilan dari Lena membuat lamunan buyar seketika. Aku membuka mata dan menoleh. Istriku berjongkok di sebelah. Aku segera duduk.

"Kenapa tidur disini?" tanya Lena.

"Mas belum tidur tadi."

Lena duduk di sampingku.

"Mas, aku hamil ya? Mbak Marni tadi siang kemari dan bilang."

Aku mengangguk sambil menggenggam jemari tangannya, "ya."

Padahal dua Minggu yang lalu bidan Sari sudah memberitahunya. Dan dia sudah lupa.

"Kenapa?"

"Mas, akan tambah repot."

"Nggak. Siapa bilang repot. Semoga ini anak perempuan. Biar ada yang merawat disaat kita tua nanti." Aku bicara sambil tersenyum dan merengkuh pundaknya. 

***

Pagi-pagi Adam sudah menyapu hamalan depan. Sedangkan Reno menyiapkan jadwal pelajarannya hari ini. Aku memasak di dapur, dan ditemani Lena yang sesekali hanya bengong. Enam butir telor sudah aku goreng pagi itu. Karena tidur larut tadi malam, makanya sehabis subuh tertidur lagi.

Empat tahun terakhir yang cukup melelahkan. Sebelum berangkat kerja di percetakan, aku harus memastikan semua urusan rumah telah selesai.

"Kamu ini suami paket komplit, Her," ucap Neni teman sepekerjaan. Janda dua anak yang sempat menggodaku. 

Namun, sekuat hati aku berusaha bertahan dan mengabaikan. Walaupun terkadang bisikan setan itu ingin menyesatkan. Aku selalu ingat wajah polos anak-anak dan wajah ayu Lena, yang telah menemaniku berjuang selama ini.

"Besok, jadwal kita ke dokter Mega, Dek."

Lena memandangku dengan tatapan sendu dan begitu dalam. Tidak seperti biasanya. Mungkin dia sendiri terlalu lelah dan kasihan padaku. Sebenarnya aku tidak berjuang sendirian. Seluruh keluarga besar kami, terutama keluarga Lena memberi semangat dan membantu dalam hal finansial. 

Setelah urusan rumah selesai dan dua anak sudah kuantar ke sekolah, aku segera bersiap berangkat kerja. 

Aku melangkah ke rumah Mbok Nah samping rumah. Untuk berpamitan dan menitipkan Lena dan Edi, kalau ada apa-apa aku suruh mengabari. Beliau adalah tetangga yang paling dekat. Karena rumah kami berada diujung Desa, dan terpisah bentangan sawah dari rumah penduduk lainnya.

***

Semilir angin malam menerobos lewat jendela ruang tengah yang masih terbuka, membuatku terayun dalam kenangan. Ya, kenangan tentang Lena. 

Ini tahun ke sepuluh kepergiannya. Ia membiarkan aku menua sendirian dan meninggalkan anak, menantu dan cucu-cucu kami. 

"Ayah, nggak usah khawatir. Ada Leni yang akan jaga, Ayah, disini. Nanti kalau Mas-masku longgar, mereka akan pulang. Leni hanya empat hari sambang ke mertua. Mumpung anak-anak liburan sekolah," ucap Leni memenangkan saat berpamitan tadi pagi.

Leni, si bungsu yang dulu sempat jadi dilema ketika tumbuh di rahim Bundanya. Sekarang adalah satu-satunya anak yang tinggal berdekatan dan menemaniku melalui sisa hidup tanpa wanitaku lagi.

Di sofa usang ruang tengah biasa aku merenung. Aku memejamkan mata, menikmati suara alunan instrumental yang terputar di tape recorder.

Aku mengenangnya. Mengenang kekasih pertama dan terakhir dalam hidupku. 

SELESAI