Kandas
Sore yang cerah. Sebuah motor besar terparkir di halaman rumah Joglo yang asri.

Di ruang tamu, dua orang pria terlibat percakapan.

"Fatma, sudah menikah, Nak Hen. Setahun yang lalu. Sekarang sudah mengandung enam bulan."

Hendri terduduk lemas setelah mendengar penuturan Pak Yunus, bapaknya Fatma. Ada rona penyesalan dikedua wajah pria beda usia itu. 

Hendri tak menyangka, kepulangan ke pulau Jawa yang awalnya penuh dengan harapan dan kerinduan. Kini berbuah kesia-siaan dan kepedihan.

Fatma. Seorang gadis yang telah dipacari sejak sama-sama duduk di bangku SMA, yang tak pernah bergeser sedikitpun posisinya dihati. Kini sudah jadi istri orang. 

Memang salahnya. Setelah lulus SMA dia pergi ke Kalimantan dan hanya dua kali mengirim surat. Waktu itu memang belum ada telfon seluler. Jadi suratlah satu-satunya alat komunikasi.

Satu bulan setelah kelulusan, Hendri yang yatim piatu menyusul kakaknya yang bekerja di tambang batubara. Dua bulan Hendri sempat kerja menjadi kuli di pertambangan. Kemudian atas dorongan kakaknya, ia mengikuti tes masuk Angkatan Darat. Sekarang pangkat Letnan Satu sudah tersemat di depan namanya.

"Fatma pikir, Nak Hen, sudah memutuskannya. Makanya waktu di lamar Nak Yusuf, kami terima. Karena Fatma juga menyetujuinya, setelah cukup lama minta waktu untuk berfikir. Lima tahun Fatma menunggu, Nak Hen. Bukan waktu yang pendek, kan?"

Hendri semakin dalam menunduk. Setitik air mata menetes di seragam doreng yang dikenakannya. 

Seragam kebanggaan yang ingin dipersembahkan pada gadisnya tercinta. Hendy ingin membuat kejutan, bahwa setelah sukses ia pulang dan menikahi Fatma. Tapi indahnya angan, tidak seindah kenyataan.

"Ya, memang salah saya, Pak. Karena saya tidak pernah memberi kabar. Saya sibuk dengan tugas, hingga baru punya kesempatan pulang. Saya sempat ditugaskan ke Lebanon. Makanya tidak sempat memberi kabar."

Pak Yunus mengalihkan pandangan, menatap istrinya yang berdiri dengan tatapan sendu diambang pintu dapur. Tangan wanita itu gemetar memegang nampan. Rasanya tidak sanggup melangkah untuk menyuguhkan minum.

"Maafkan Fatma ya, Nak Hen."

Hendri memandang Pak Yunus dengan mata memerah. Tapi ada senyum di bibirnya. Senyum getir.

"Saya yang salah, Pak."

Bu Yunus akhirnya menghampiri dan meletakkan segelas teh hangat di meja.

"Ayo diminum dulu, Nak Hen."

Pria muda itu mengangguk. Lalu meraih gelas, menyesap sedikit untuk melonggarkan tenggorokan yang terasa tersekat oleh sesaknya rasa dibenak.

"Sekarang dinas dimana?" tanya Bu Yunus.

"Ini mau proses pindah ke Jawa, Bu. Tapi nggak tahu lagi setelah ini. Lanjut apa tidak. Fatma sudah menikah. Dan saya tidak punya saudara disini. Paman dan bibi sudah meninggal. Sepupu-sepupu saya juga sudah tidak tinggal disini lagi."

Hening menyelimuti. Ketiganya terbawa arus perasaan masing-masing. Hendri dengan penyesalannya, sementara Pak Yunus dan istrinya merasa bersalah, karena waktu itu yang mendorong Fatma untuk segera mengambil keputusan menerima pinangan Yusuf. Seorang arsitek teman dari putra sulung mereka.

"Fatma sekarang tinggal dimana?"

"Ikut suaminya tinggal di perumahan Wira Kencana. Baru pindah tiga bulan yang lalu."

Hendri berdiri, melangkah menuju foto pengantin yang berbingkai kuning keemasan, yang tergantung di tembok samping.

Cukup lama ia memandang. Seorang pengantin perempuan berbusana muslimah warna broken white, dan pria tampan berjas dengan warna senada berdiri gagah. Sama-sama tersenyum seolah menatap ke arahnya.

"Boleh saya tahu alamat Fatma, Pak. Saya tidak akan menemuinya. Saya hanya akan melihat dari kejauhan."

Hendri meminta izin, setelah kembali duduk di sofa.

"Sungguh, saya tidak akan macam-macam. Saya hanya ingin tahu dari kejauhan saja."

"Baiklah. Biar nanti diantar sama Alisa. Daripada nanti mencari-cari," kata Pak Yunus.

"Terima kasih, Pak."

Pak Yunus memandang istrinya.

"Bu, Alisa ada di rumah, nggak?

"Ada, Pak. Hari ini dia nggak kuliah. Sebentar ibu panggilkan Lisa ya, Nak Hen."

Bu Yusuf segera berdiri lantas melangkah keluar lewat pintu samping. Tepat sebelah rumah mereka adalah rumah adik perempuan Pak Yunus, ibunya Alisa.

Tidak lama menunggu, Bu Yunus kembali muncul dari pintu, di belakangnya mengikuti seorang gadis berjilbab ungu.

"Lisa masih ingat nggak sama Mas Hendri?" tanya Pak Yunus pada keponakannya.

Alisa tersenyum. Kemudian mengangguk.

"Ingat. Budhe sudah cerita tadi, Pakdhe."

"Ini Alisa yang dulu masih kecil itu ya. Sekarang sudah gadis," kata Hendri setelah berhasil mengingat sesuatu.

Dulu setiap kali ia main ke rumah Fatma. Alisa sering nimbrung, dan main bongkar pasang disebelah mereka ngobrol. Sering dia menyuruh Alisa pergi ke warung untuk membeli cemilan.

Setelah cukup berbasa-basi. Pak Yunus meminta Alisa untuk mengantar Hendri ke rumah Fatma.

"Biar saya bawa motor sendiri aja, Pakdhe."

Alisa kembali ke rumahnya untuk mengambil motor.

"Kalau lagi ada di Jawa, dolan saja kemari, Nak Hen. Walaupun kalian tidak berjodoh. Tapi kita masih bisa bersilaturahmi, kan!"

Pak Yunus berkata sambil memeluk pria muda itu. 

Akhirnya setelah berpamitan, Hendri mengikuti Alisa di belakang. Keduanya melewati jalanan tengah sawah yang sejuk dengan pepohonan yang rindang di kiri kanannya.

Di ujung sana nampak komplek perumahan tempat Fatma tinggal. Alisa memberhentikan motor dibawah pohon akasia, tak jauh dari gapura masuk. Hendri ikut menepi. Membuka kaca helm teropongnya.

"Mas, saya tunggu disini saja, ya. Nanti Mbak Fatma mengenali saya. Mas Hen, lurus saja. Rumahnya nomer dua dari gapura. Dari sini sebelah kiri jalan."

Hendri mengangguk. Kemudian kembali melajukan motor dengan pelan.

Didekat bangunan satpam, Hendri berhenti.  Matanya melihat seorang wanita bergamis kembang-kembang sedang duduk di teras. Pagar rumah itu belum selesai dibangun, makanya ia bisa melihat dari jarak yang lumayan jauh. 

Benaknya berdesir melihat wajah wanita yang dirindukannya bertahun-tahun. Pria itu merasakan dadanya terasa teremas-remas. Sakit karena penyesalan. Cintanya kandas setelah lama bersemayam.

Tidak lama kemudian, mobil warna silver memasuki halaman. Hendri melihat seorang pria berkemeja warna putih turun dari kendaraan. Tampak Fatma berdiri menyambut, mencium tangan, dan pria itu mengecup kening sang istri kemudian mengusap kehamilannya. Potret keluarga bahagia.

Hendri menunduk. Menenangkan gejolak didalam sana. Setelah itu motor berbalik arah dan kembali melaju, menemui Alisa yang masih menunggu.

Keduanya beriringan, mengendarai motor masing-masing ke arah matahari tenggelam. Semburat jingga masih merona di barat sana. Angin yang semilir, menambah sendu suasana menjelang senja.

End