Saat Istri Piknik

Saat Istri Piknik

"Ma, besok berangkat jam berapa?" tanya mas suami ketika melihat istrinya sibuk berbenah.

"Jam delapan, Pa. Setelah anak-anak berangkat sekolah. Papa nggak apa-apa kan mama tinggal dua hari ini?" jawab istri sambil memasukkan beberapa helai baju ke dalam tas.

"Nggak apa-apa sih, Ma." jawab suami kurang yakin.

"Papa juga kan, yang ngijinin Mama ikut rombongan piknik ibu-ibu PKK. Lagian ini kan wisata realigi. Nggak enak juga, Pa. Sama ibu-ibu masa' tiap diajak rombongan kok ditolak terus. Ya memang dulu anak-anak masih kecil, belum bisa ditinggal. Sekarang Dimas sudah kelas dua dan Dinda TK B. Kemarin anak-anak juga nggak apa-apa, waktu kutanya mau ku tinggal dua hari ini." panjang sekali untuk penjelasan pertama ini. Si suami diam menatap istrinya.

"Besok jangan lupa, kakak pulang sekolah jam dua belas terus antar pergi les jam dua. Pulang les nanti kasih minum susu, suruh mandi terus berangkat ngaji. Adik juga sama. Tapi besok adik nggak masuk sekolah nggak apa-apa. Mama udah ijin ke guru kelasnya. Nanti beli sayur sama lauknya di Mak Dar langganan Mama tu. Dia masaknya nggak pakai micin. Aman Pa. Untuk karyawan Papa tu, kalau siang suruh bikin kopi sendiri aja. Semua sudah Mama siapin di dapur," penjelasan kedua yang panjang juga. Suami masih diam.

"Baju seragam sekolah, sama seragam ngaji sudah Mama siapin dikamar anak-anak. Jangan lupa uang saku kakak kalau mau berangkat sekolah. Nanti Papa lupa pula. Terus jadwal pelajarannya di cek. Oh ya, sepulang sekolah anak-anak harus tidur lho, Pa. Tidur sebentar nggak apa-apa yang penting tidur siang. Adik biasanya suka mogok kalau suruh berangkat ngaji. Pandai-pandailah Papa membujuknya. Tapi kalau nggak mau ya sudah. Jangan dipaksa, toh paling juga nggak ngaji dua hari aja," penjelasan ketiga yg masih panjang.

"Ma, itu jadwalnya nggak bisa diundur ya?" Akhirnya mas suami buka suara. Nadanya berat. Belum juga ditinggal pergi. Baru dikasih tau disuruh ngapain aja selama ditinggal, si mas suami ini sudah pusing  tujuh keliling.

"Lho diundur gimana sih, Pa?"

"Diundur pas hari-hari libur gitu. Hari minggu misalnya."

"Ah si Papa ini, kan bisnya udah dibooking jauh-jauh hari. Lagian, Pa. Kalau pas hari libur bejubel pengunjungnya. Kami ibu-ibu ini cari yang longgar.  Biar aman." 

[ kalau hari libur biar anak-anak dibawa gitu kan, Pa? Dasar Papa ]

"Papa pusing dengerin penjelasan Mama tadi" ucap mas suami sambil garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.

"Nah, belum juga dijalani dah pusing. Papa tau nggak, begitulah kegiatan Mama hari-hari. Belum lagi kalau anak-anak bertengkar. Makanya kalau malam-malam Papa bangunin, tapi Mama nggak terbangun ya jangan marah. Kalau nggak capek Mama juga semangat, Pa."

Si istri melirik suaminya sambil senyum-senyum... ( Rasain deh, Pa. Besok bebas aku, Pa. Walaupun cuman 2 hari )

BESOKNYA ....

Istrinya telfon
"Anak-anak gimana, Pa?"
"Beres, Ma. Kakak nggak mau tidur, adik yang masih tidur."
"Okelah, Pa."  telpon ditutup

Sore harinya si istri dapat WA dari ustadzah TPA. Mata si istri yang sipit itu bisa juga terbelalak lihat gambar yang dikirim sang ustadzah ....

(Astaghfirullah)

Dengan cekatan ditelponnya mas suami.

"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam .... [Nada suara tinggi], Papa ini gimana sih, masak adik ngaji dipakein baju kayak gitu."

_____si adik pakai rok mini diatas lutut, kaos lengan pendek dan pakai jilbab seuprit. Rambut belakang kelihatan. Sebab  yang dipakai jilbab si adik waktu masih orok dulu____

"Adik yang pilih bajunya sendiri, Ma. Dia nggak mau dipakein baju yang dah disiapin Mama. Daripada nanti dia nangis, ya Papa biarin aja."

"Waduh, Pa. Ya malulah masa ngaji pakai rok mini."

"Masih anak-anak, Ma. Biarin ajalah."

MALAM HARINYA

Ada pesan WA masuk ke hp si istri
(Assalamualaikum, Ma. Kami dinner malam ini)
Ada foto mereka bertiga lagi makan.

Si istri langsung telpon suaminya

"Ya ampun, Pa. Masak ngajak anak-anak ke restoran kok pakai baju kumel gitu. Itu papa pakai sandal mama, kekecilan kan! Nggantung ditungkai. Apa nggak malu?," istri langsung nyerocos dengan kecepatan 100km/jam.

"Ngapain malu, Ma. Yang penting kita bayar kan!!" santai betul jawaban si suami.

"Habis yang Papa suruh ngambil foto tu siapa."

"Teman Papa yang kemarin mau ikut gabung bisnis kita."

"O .... Si janda genit, teman kuliah Papa itu kan?" si istri mulai lain nada suaranya.

"Nggak sengaja ketemu, Ma."

"Halah, Papa. Jangan-jangan malah janjian."

"Enggak ...."

KLIK si suami belum habis bicara telpon keburu ditutup, si suami memandang screen ponsel dengan heran.
(Cemburu lah tu)

HARI KEDUA

Si istri pulang jam delapan malam. Anak-anak sudah tidur awal, kata Papanya tadi siang mereka nggak mau tidur. Makanya masih sore dah mengantuk.

Rumah bersepah tak karuan. Mainan merata-rata diseluruh ruangan. Buku, bekas snack yang terbuka dan nggak habis dimakan berserak dimeja.

Tak banyak bicara si istri terus berkemas, menyapu, ngepel, nyuci piring bekas mie instan, masukin baju kotor ke mesin cuci, yang ternyata didalam mesin cuci dah penuh dengan cucian. Capeknya dobel. Capek jalan-jalan, dan capek beresin rumah.

Beginilah rumah kalau ditinggal perempuan, coba kalau yang piknik si suami. Saat pulang rumah bersih, dan anak-anak wangi.

Jam 10 selesai berkemas, tinggal teparnya aja. Mas suami mulai dempel-dempel ada maunya.

"Prasmanan aja, Mas. Buka tutup sendiri." kata si istri.

Tamat