5. bab lima
Foto suamiku (5)

***

H-2 sebelum acara reuni, aku mengajak Mas Fajar makan romantis di sebuah restoran yang sudah kusewa beberapa jam yang lalu. 

Kami disediakan tempat khusus dengan aneka lilin dan bunga-bunga mawar segar. Romantis sekali. 

Sayangnya untuk saat ini hatiku sudah tidak mengenal lagi apa itu romantis. 

Aku memang mencintai dan menyayangi Mas Fajar. Lima tahun aku hidup dengannya tidak perlu kujelaskan lagi seberapa besar cintaku padanya. 

Namun, sebuta dan segila apapun cinta, logika harus tetap dipakai. Jangan sampai aku dimanfaatkan dan apa yang diperjuangkan oleh almarhum Papa harus direbut begitu saja. 

Jujur aku mengakui bahwa aku sangat-sangat bodoh. 

Aku terbuai sikap romantis Mas Fajar sampai tidak sadar setahun belakangan ini memang ada yang berubah darinya. 

Dia yang selalu mengusulkan agar aku lekas membuka banyak cabang. Namun, di waktu yang bersamaan dia juga menjadwalkanku meeting dengan calon investor ketika dia akan survey tempat. 

Kupikir niatnya baik, agar usaha kami makin maju. Rupanya aku salah. Ada maksud tertentu dari apa yang dia lakukan. 

Seolah memang sengaja direncanakan agar dia yang bertanda tangan atas kepemilikikan sertifikat. 

Aku mengingat-ingat, dia sudah memegang tiga sertifikat tanah dan swalayan atas nama dia. Itu kenapa aku harus sabar dan tidak boleh gegabah menuruti emosi. 

Satu Minggu lebih aku meminta Fitri yang bekerja sebagai admin staf di kantor untuk menghubungi pengacara dan mengajukan perubahan nama tanpa sepengetahuan Mas Fajar. 

Urusan tanda tangannya biar aku yang memikirkan. 

Sahabat-sahabatku memang bisa diandalkan meski terkadang suka ngelunjak dan berkelakukan absurd. Kerja mereka patut diakui jempol. 

Fitri berhasil menyerahkan surat untuk balik nama sertifikat tanah swalayan yang ada di daerah Lawang. Sengaja aku melakukannya bertahap, supaya pihak pengacara juga tidak curiga. 

Jadi malam ini, aku sengaja mengajakku dinner romantis dan seniat itu membooking pelayanan istimewa dari restoran ini.

Aku memesan makanan kesukaan Mas Fajar yaitu steak dan sate kambing bumbu kacang. Tak lupa jus buah naga favoritnya. Lihat, bahkan aku sangat hafal apa yang dia sukai. Namun, sekali lagi dia tega mengkhianatiku begitu saja. 

Dan, tentu saja sebotol red wine untuk melancarkan aksiku.

Aku memperhatikan dia makan dengan lahap.

Makan, Mas. Makan terus dan habiskan, batinku dalam hati. 

Kuakui Mas Fajar cukup pintar. Mainnya sangat halus. Tapi dia lupa bahwa di sini aku adalah pelatih. Jadi tak seharusnya dia bermain-main dengan pelatih. 

WhatsApp-nya diubah pada pengaturan semula, sejak dia kembali ke Surabaya. Jika saja aku tidak melihat videonya di tiktok yang kini sudah dihapus, tentunya aku tidak tahu jika dia sedang berbuat sesuatu di belakangku. 

"Kamu nggak makan? Mas suapin ya, Sayang?" tawarnya mendekatkan garpu ke arahku. 

Aku menggeleng sembari tersenyum. "Melihatmu makan saja aku sudah kenyang," kataku membuatnya tertawa hingga tersedak.

Aku menyodorkan jus buah naga dan dia meminumnya. 

Tak lupa aku menuang red wine ke dalam gelas. Mas Fajar minum begitu banyak hingga dia mulai sedikit tidak sadar. 

Bagus. Aku tersenyum kecut. 

Setelah kupastikan dia mabuk berat, aku mengajaknya pulang. Aku yang menyetir mobil karena kondisinya tidak memungkinkan. 

Saat tengah fokus menyetir, ponselnya berbunyi. Aku menepikan mobil dan melihatnya sebentar. 

Jamal. 

[Sayang kamu di mana? Dari sore nggak ada kabar.] Isi pesan yang dikirimkan oleh kontak bernama Jamal. 

Aku tertawa hambar. Permainan apalagi ini? Trik apalagi yang dia gunakan. 

Mas ... Mas .... Harusnya kau tak perlu seperti itu. Sampai mengubah kontak wanita jalang selingkuhanmu itu menjadi Jamal. 

Iya, aku memang bodoh. Tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi. 

Aku buru-buru meletakkan ponselnya lagi saat Mas Fajar mengerjapkan mata. 

"Duh, mana jalanan macet lagi," ujarku pura-pura. 

***

Di rumah, dengan bantuan Bi Ani aku memapah Mas Fajar dan membawanya ke kamar. 

Aku mengambil surat yang Fitri berikan tadi di laci. Tak lupa mengambil pulpen.

Baiklah, kini saatnya aku yang bermain, Mas!

Komentar

Login untuk melihat komentar!