Sertifikat Rumah
MATI KUTU SAAT ISTRI PERTAMA DATANG KE ACARA PESTA BAYI SUAMINYA
Episode_4
Sertifikat Rumah

"Dia yang akan mengontrak rumah ini, jadi aku minta tolong kemasi barang-barang kalian dan tinggalkan rumah ini," ucap Saras, setelah itu ia berlalu dari hadapan mereka. Seketika Rayyan serta istri dan ibunya terkejut, karena omongan Saras benar-benar tidak bisa diremehkan. 

***

"Mas bagaimana ini, istrimu itu benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia mengusir kita, hanya karena sertifikat atas nama dia," ungkap Alexa dengan raut wajah panik, sementara itu Rayyan berusaha untuk tetap tenang. Karena ia sudah mempunyai tujuan, di mana sebuah rumah yang cukup mewah berhasil Rayyan beli tanpa sepengetahuan Saras. 

"Kamu tidak perlu khawatir, kemasi saja barang-barang kita. Ayo, Ma biar kita bisa cepat pergi dari rumah ini," ujar Rayyan dengan sangat santai, tapi justru hal tersebut membuat istri dan ibunya merasa heran. 

"Terus kita mau tinggal di mana, rumah mama kan sempit. Tidak seluas rumah ini," ujar Erika yang merasa bingung. 

"Mama tidak perlu khawatir, ayo." Rayyan mengajak ibu serta istrinya untuk segera mengemasi barang-barang mereka. Sementara itu, Saras saat ini tengah sibuk menemani bu Ani untuk berkeliling melihat rumah tersebut. 

"Bagaimana, Ibu tertarik untuk mengontrak rumah ini?" tanya Saras. Ia yakin jika orang yang bersamanya pasti akan sangat tertarik untuk mengontrak rumah itu. Walaupun tidak terlalu luas, tetapi tempat sangat strategis. 

"Iya, Bu. Saya suka dengan tata ruangnya, letaknya juga sangat strategis. Suami serta anak saya pasti akan sangat menyukainya," ungkap bu Ani. Mendengar itu Saras tersenyum, usaha untuk mengusir para benalu telah berhasil. 

"Oya, orang yang tadi siapa?" tanya bu Ani. 

"Oh, mereka yang dulunya mengontrak rumah ini. Sekarang kontrak mereka sudah habis," jawab Saras. Setelah itu ia kembali melihat bagian teras samping yang terdapat taman di sana. 

Sementara itu, Rayyan kini sudah selesai berkemas, Alexa terlihat sangat jengkel karena harus meninggalkan rumah yang sudah hampir setahun mereka tempati bersama. Namun, karena ketahuan oleh istri pertama kini ia harus menyingkir. 

"Udah dong jangan cemberut seperti itu, lebih baik sekarang kita pergi saja dari rumah ini, syok." Rayyan menarik dua koper menuju teras depan di mana mobilnya terparkir. Namun saat hendak membuka bagasi, tiba-tiba Saras datang dan berdiri di sebelahnya. 

Seketika Rayyan terkejut saat mendapati istrinya itu sudah berdiri di sebelahnya. Entah apa lagi yang Saras inginkan, bukankah rumah sudah ia kuasai. Jujur, Rayyan benar-benar kesal dengan sikap Saras yang seperti itu, padahal sebelumnya, istrinya itu sangat lembut tapi sekarang. 

"Ada apa lagi?" tanya Rayyan, sebisa mungkin ia menahan emosinya. 

"Cuma mau ambil ini." Saras mengambil kunci mobil yang Rayyan taruh disaku kemejanya. Seketika Rayyan terkejut, untuk apa apa Saras mengambil kunci mobil itu, bukankah dia datang membawa mobil. 

"Saras, maksud kamu apa?! Kenapa kamu .... "

"Kamu lupa atas nama siapa mobil ini," potong Saras dengan cepat, seketika Rayyan terdiam setelah ingat jika dari beberapa mobil yang mereka miliki memakai atas nama Saras. 

"Itu artinya aku berhak untuk menahan mobil ini," ujar Saras. Alexa yang mendengar itu seketika naik pitam, kesabarannya benar-benar sudah dimainkan oleh Saras. 

Dengan cepat Alexa berjalan menghampiri Saras dan hendak melayangkan tamparannya, tetapi dengan cepat Saras mencekal pergelangan tangan Alexa. Bahkan Saras memelintir tangan madunya itu, seketika Alexa menjerit kesakitan. 

"Jangan pernah kamu sentuh pipiku ini dengan tangan kotormu ini." Saras mengibaskan tangan Alexa dengan kasar, terlihat jelas jika wanita dengan rambut sebahu itu tengah menahan amarahnya. 

"Mas kenapa kamu diam saja, kamu takut sama Saras," ujar Alexa yang melihat suaminya diam, tanpa mau menegur istri pertamanya itu. 

"Alexa sudahlah, kita pesen taksi saja." Rayyan mengajak istrinya itu untuk ke depan. Setelah itu ia bergegas untuk memesan taksi, sementara Saras tersenyum penuh arti, melihat para benalu pergi. 

"Ini belum seberapa, Mas. Masih ada kejutan lagi yang sudah aku siapkan, dan aku pastikan kamu akan menyesal karena sudah menduakanku. Selama ini aku diam, bukan karena tidak tahu, dan aku tidak sebodoh yang kalian pikirkan," gumamnya dalam hati. Saras masih berdiri di samping mobil seraya menyaksikan para benalu itu pergi. 

***

Waktu berjalan begitu cepat, setelah berhasil mengurus rumah yang akan dikontrakan itu, kini Saras sudah berada di rumah. Hari ini cukup melelahkan, terlebih ia juga harus ke kantor peninggalan kedua orang tuanya yang kini dikelola olehnya. 

Sementara perusahaan yang Rayyan pegang adalah hasil dari kerja kerasnya bersama dengan Saras. Di mana Saras yang sudah menemaninya mulai dari nol hingga sukses. Itu sebabnya Saras tidak akan tinggal diam saat suaminya mendua, tak rela jika madunya itu ikut menikmatinya. 

"Huh, sepertinya harus aku cek lagi, siapa tahu ada yang mas Rayyan sembunyikan dariku," ujar Saras. Kini wanita dengan balutan gamis itu beranjak membuka lemari tempat menyimpan beberapa berkas dan juga barang berharga miliknya. 

Kini Saras tengah mengecek tumpukan map yang tertata rapi di almari, tak lupa ia juga membukanya satu persatu. Tiba-tiba saja mata Saras menangkap sebuah map berwarna abu-abu yang terselip di antara tumpukan buku besar. 

"Ini apa, kok di sini." Tangan kanan Saras terulur untuk mengambil map tersebut. Setelah berhasil Saras langsung membukanya dan membaca isinya. 

"Ini kan sertifikat rumah, kenapa ada di sini," gumamnya Saras, ia cukup terkejut saat menemukan sertifikat rumah yang mungkin dibeli tanpa sepengetahuan dirinya. 

"Atas nama mas Rayyan, itu artinya mas Rayyan membeli rumah tanpa sepengetahuan aku," gumamnya lagi. Saras kembali terkejut saat melihat, sertifikat tersebut memakai nama Rayyan, suaminya. 

"Jangan-jangan sekarang mereka menempati rumah ini, pantas saja mas Rayyan tidak terlalu protes saat aku menyuruhnya untuk pergi dari rumah itu," ujar Saras. Kini ia harus berpikir lagi untuk bisa mengambil alih rumah itu.

"Kaki memang licik, Mas. Tapi kamu kurang cerdik, kenapa kamu menyimpan sertifikat ini fi sini, kenapa tidak kamu simpan di rumah yang kamu tempati bersama istri mudamu itu," gumamnya. Saras yakin, suatu saat nanti Rayyan pasti akan datang untuk mengambil sertifikat tersebut. 

"Aku yakin, mas Rayyan pasti akan datang lagi ke sini untuk mengambil sertifikat ini. Aku harus menyembunyikannya." Saras tersenyum. Setelah itu ia mengumpulkan berkas penting itu dan menyimpannya di tempat yang lain. Akan sangat berbahaya jika sampai diambil oleh Rayyan. 





__________&&&&&&&&&__________


Biar nggak penasaran, ikuti terus kisahnya ya. Komen bawelnya ditunggu ya, biar lebih semangat lagi nulisnya. 

Jangan lupa bantu follow, subscribe, love, komentar, dan bintang lima ya. Komentar kalian sangat berpengaruh, biar nulisnya lebih semangat lagi.