Membungkam Mulut Benalu
MATI KUTU SAAT ISTRI PERTAMA DATANG KE ACARA PESTA BAYI SUAMINYA
Episode_7
Membungkam Mulut Benalu

"Ok, terima kasih ya, Mas. Nggak rela aku uangnya kamu gunakan untuk istri mudamu itu." Saras mengembalikan ponsel milik Rayyan, tak lupa ia menghapus notifikasinya untuk menghilangkan jejak. Setelah itu ia mengambil kartu ATM-nya yang berada di dalam dompet suaminya. 

***

Setelah itu, Saras segera membereskan rantang tersebut dan bergegas keluar dari ruangan Rayyan, tak lupa ia juga mengembalikan dompet milik suaminya ke tempat semula. Kini Saras sudah berada di parkiran, setelah itu ia segera masuk ke dalam mobil dan beranjak meninggalkan tempat tersebut. 

"Sekarang tinggal meluncur ke resto, Dila pasti sudah nunggu." Saras melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kini tujuannya adalah resto tempat ia dan Dila sering makan bareng. 

"Mudah-mudahan proses perceraian aku dengan, mas Rayyan berjalan dengan lancar," gumamnya. Saras sangat berharap semoga Rayyan tidak mempersulit proses perceraian mereka. 

Setelah cukup lama dalam perjalanan kini Saras sudah tiba di resto, dan ternyata Dila sudah sampai sepuluh menit yang lalu. Saras berjalan menghampiri Dila yang tengah menunggunya, melihat sahabatnya datang, Dila tersenyum lalu meletakkan ponselnya. 

"Maaf ya, di jalan macet." Saras menarik kursi untuk duduk. 

"Iya, nggak apa-apa kok, aku juga belum lama," sahut Dila dengan tersenyum. 

"Gimana, berhasil?" tanya Saras. Ia memang menyuruh Dila untuk mencaritahu di mana rumah yang Rayyan beli tanpa depe dirinya. Awalnya Saras memang menyuruh orang lain, tetapi orang itu memiliki masalah yang membuat tidak bisa menjalankan perintahnya. 

"Berhasil dong, nggak sia-sia kamu nyuruh aku." Dila mengeluarkan tiga lembar foto, dan ia berikan pada Saras. 

Saras mengambil tiga lembar foto tersebut. "Jadi ini rumahnya, cukup mewah dan juga bagus."

"Ini alamat rumahnya." Dila kembali menyodorkan kertas yang berisi alamat rumah Rayyan.

"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dila. Sementara Saras masih nampak asik melihat-lihat foto tersebut. 

"Mungkin aku akan menggadaikan sertifikat rumah itu, dan aku akan membiarkan mas Rayyan yang membayarnya," jawab Saras. Ia memang sudah berencana untuk menggadaikan sertifikat rumah tersebut. 

"Ide yang bagus, aku setuju dengan rencana kamu itu," ujar Dila yang mendukung rencana sahabatnya itu. Meski bukan dia yang mengalaminya, tetapi Dila ikut geram dengan kelakuan Rayyan. 

"Oya, lalu untuk aset perusahaan yang kalian miliki bagaimana? Tidak mungkin kamu jual semuanya kan?" tanya Dila. Saras dan Rayyan memang diketahui memiliki satu perusahaan, dan ada dua cabang yang berada si kota berbeda. Semua itu mereka dapatkan bersama. 

"Untuk yang itu aku belum memikirkannya, bisa saja aku menjualnya, karena memang memakai atas namaku. Tapi aku juga butuh persetujuan dari mas Rayyan bukan," ujar Saras. Memang tidak mudah, karena semua itu mereka dapatkan bersama. 

"Ok, apapun keputusan kamu pasti aku dukung," sahut Dila. Sementara Saras hanya tersenyum seraya mengangguk. Setelah itu mereka kembali berbincang. 

***

Hari telah berganti, hari ini Saras ada janji untuk bertemu dengan Bima pengacara yang mengurus proses perceraiannya dengan Rayyan.  Bima merupakan putra dari sahabat orang tua Saras, mereka memang jarang bertemu dan baru sekarang keduanya dipertemukan kembali. 

Pukul delapan pagi Saras sudah dalam perjalanan menuju resto tempat ia akan bertemu dengan Bima. Mereka akan membahas tentang perceraian yang Saras ajukan, berharap semoga berjalan dengan lancar. Karena Saras tahu jika suaminya itu sama sekali tidak ingin bercerai. 

"Udah jam segini, pasti Bima sudah nunggu," gumamnya. Saras terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. 

Setelah hampir satu jam setengah, kini Saras tiba di resto yang tempat di mana ia membuat janji bersama dengan Bima. Usai memarkirkan mobil, Saras bergegas tutun, setelahnya ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam resto. Saras mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Bima. 

Setelah ketemu Saras bergegas menghampirinya, Bima tersenyum, setelah itu Saras menarik kursi untuk duduk. Ternyata Bima sudah memesan minuman dan juga minuman. Sementara itu dari kejauhan, ternyata ada pasang mata yang memperhatikan mereka. 

"Saras, jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku," ujar seorang pria yang tak lain adalah Rayyan. Sontak Saras dan Bima menoleh ke arah sumber suara tersebut. 

"Eh, kalian. Sedang apa di sini?" tanya Saras dengan santai. Walaupun ia cukup terkejut tetapi sebisa mungkin Saras bersikap tenang. 

"Seharusnya aku yang tanya sama kamu, sedang apa kamu di sini. Oh, apa ini alasan kamu meminta cerai, agar bisa bertemu dan berselingkuh dengan pria lain, iya!" bentak Rayyan, emosinya kini mulai menguasai dirinya. 

Plak, satu tamparan mendarat di pipi Rayyan. "Jaga bicara kamu ya, Mas. Aku bukan wanita murah*n, aku bukan wanita yang suka mengganggu kebahagiaan orang lain. Tidak seperti wanita yang ada di sampingmu itu, yang sukanya sama suami orang."

"Saras! Kamu nyindir aku." Alexa hendak menampar Saras tetapi dengan cepat Bima mencekal pergelangan tangan Alexa, lalu mengibaskannya dengan kasar.

"Jaga bicara kalian, saya bukan pria selingkuhannya. Karena dia adalah klienku." Bima angkat bicara, ia tidak terima dengan tuduhan yang mereka tujukan pada Saras. 

"Klien apa, wanita seperti dia bisa apa. Sok-sokan banget jadi orang," sergah Erika, wanita setengah abad itu terlihat kesal dengan Bima yang terang-terangan membela Saras. 

"Saya pengacara yang akan mengurus perceraiannya dengan, Rayyan," jelas Bima. Sontak mereka terkejut mendengar hal itu, terlebih Rayyan. 

"Haha, aku tidak percaya. Palingan kalian pasangan .... "

"Tidak ada yang tidak mungkin." Bima memotong ucapan Erika, seketika wanita itu terdiam. 

"Mungkin Saras menyerahkan tubuhnya agar proses perceraiannya dengan, Mas Rayyan bisa berjalan dengan lancar," timpal Safira. Mendengar itu Bima benar-benar tidak terima, karena Saras itu wanita baik-baik. 

Plak, satu tamparan keras mendarat di pipi Alexa. "Jaga bicaramu, aku bukan wanita seperti itu. Apa kamu tidak sadar dengan apa kamu lakukan, kamu sudah merusak kebahagiaan orang lain, kamu sudah merebut suamiku, dan sekarang kamu menuduhku berbuat hina seperti itu. Kamu bisa terkena hukuman, atas pencemaran nama baik, apa kamu mau masuk penjara."

Sontak Alexa bungkam, bahkan wajahnya mendadak pucat pasi, mungkin Alexa takut dengan gertakan yang Saras lakukan. Bukan hanya Alexa saja yang takut, Erika pun demikian.



__________&&&&&&&&&__________


Biar nggak penasaran, ikuti terus kisahnya ya. Komen bawelnya ditunggu ya, biar lebih semangat lagi nulisnya. 

Jangan lupa bantu follow, subscribe, love, komentar, dan bintang lima ya. Komentar kalian sangat berpengaruh, biar nulisnya lebih semangat lagi.