Tindakan Istri Cerdas
MATI KUTU SAAT ISTRI PERTAMA DATANG KE ACARA PESTA BAYI SUAMINYA
Episode_6
Tindakan Istri Cerdas

Saras tidak habis pikir, kenapa Rayyan bisa mempunyai pikiran seperti itu. Yaitu menceraikan Alexa dan mengambil anaknya, lalu memberi Alexa bayaran. Sayangnya Saras bukan wanita bodoh yang akan tergiur oleh tawaran konyol itu. Karena ia yakin jika itu adalah jebakan yang sengaja Rayyan rencanakan. 

***

"Saras bagaimana?" tanya Rayyan untuk memastikan, berharap semoga istrinya itu bisa diajak kerja sama. Tapi mungkin tepatnya kerja sama demi keuntungan sendiri. 

"Maaf, Mas. Tapi aku nggak mau, keputusanku udah bulat untuk bercerai, apa pun tawarannya aku tetap pada pendirianku." Saras menolak tawaran yang Rayyan ajukan. Karena bagi Saras, tidak ada kata maaf untuk suami yang berselingkuh, terlebih sampai menikah dan memiliki seorang anak. 

Rayyan menghela napas. "Jadi kamu benar-benar menginginkan perceraian ini."

"Iya, Mas. Mungkin ini yang terbaik untuk kita," ucap Saras, baginya tidak ada yang perlu dipertahankan lagi. Sementara Rayyan terlihat sangat gusar, usahanya untuk membujuk istrinya telah gagal. 

"Baiklah, tapi perlu kamu tahu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah setuju dengan perceraian ini," ungkap Rayyan, mata hitamnya menatap lekat wajah wanita yang selama ini sudah menemaninya. 

"Kita lihat saja nanti, aku pastikan kita akan tetap bercerai," sahut Saras. Sampai kapanpun, niatnya itu tidak akan berubah. Apa pun yang akan terjadi nanti, Saras tetap akan meminta bercerai. 

"Lebih kamu pertimbangkan tawaranku tadi, aku yakin kamu tidak akan rugi." Setelah mengatakan itu, Rayyan beranjak keluar dari ruangan istrinya. Sementara itu, Saras masih duduk sembari menatap kepergian suaminya itu. 

"Kamu pikir aku bodoh, Mas. Aku tidak akan tertipu oleh niat busukmu itu," gumamnya. Setelah itu Saras memutuskan untuk memulai pekerjaannya. Wanita berjilbab itu bangkit dan beranjak duduk di kursi kebesarannya. 

Saras mulai membuka berkas yang ada di hadapannya itu. Namun tiba-tiba ia teringat akan hasil tes yang pernah Rayyan lakukan. Tiga tahun yang lalu dokter mengatakan jika mereka sama-sama sehat, tapi kenapa sekarang hasil tes berubah. 

"Lebih baik aku tanyankan langsung ke Alvan." Saras mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor Alvan. Rasanya sangat mengganjal jika tidak dipertanyakan langsung. 

[Assalamu'alaikum, Van nanti setelah dari kantor aku mampir ke rumah sakit. Ada yang ingin aku tanyakan]

[Wa'alaikumsalam, boleh kamu tinggal ke sini saja. Kalau boleh tahu memangnya ada apa]

[Soal hasil tesnya, Van. Tiga tahun yang lalu kami juga melakukan tes, dan kata dokter keadaan kami berdua sama-sama sehat. Tapi kenapa hasilnya berbeda]

[Oh yang itu, ok. Hal itu bisa saja terjadi, bisa saja dulu salah diagnosa. Dan yang sekarang, mungkin gaya hidup Rayyan yang kurang sehat]

[Ok, udah dulu ya, assalamu'alaikum]

[Wa'alaikumsalam]

"Huft, mungkin benar apa yang Alvan katakan. Memang dua tahun belakangan ini, mas Rayyan tidak memperhatikan kesehatannya. Setiap aku nasehati, dia selalu masa bodo," gumamnya. Setelah itu Saras memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. 

***

Hari telah berganti, hari ini Saras berencana untuk pergi ke kantor tempat Rayyan bekerja. Saras mempunyai rencana yang telah ia pikirkan dari semalam. Setelah semuanya siap, Saras bergegas keluar dari rumahnya, berharap saat ia datang, Rayyan tidak sedang sibuk. 

"Ok, waktunya meluncur," gumamnya. Saras melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Dalam perjalanan Saras memilih fokus untuk menyetir, tetapi tiba-tiba ia teringat akan rumah yang Rayyan beli tanpa sepengetahuan darinya. Saras memang sudah menyuruh orang untuk melacaknya, mudah-mudahan orang suruhannya segera memberi kabar. 

Satu jam lebih dalam perjalanan, kini Saras sudah tiba di kantor tempat suaminya bekerja. Setelah memarkirkan mobilnya, wanita berjilbab itu bergegas tutun, lalu mengayunkan kakinya masuk ke dalam gedung. 

"Mudah-mudahan, Mas Rayyan ada di ruangannya," gumamnya. Saras akan bertanya pada pihak resepsionis terlebih dahulu untuk memastikan jika suaminya ada di ruangan atau tidak. 

"Maaf, Mbak. Pak Rayyan ada di ruangan atau tidak saat ini?" tanya Saras pada pegawai resepsionis. 

"Ada, Bu. Saat ini, Pak Rayyan ada di ruangannya," jawab pegawai resepsionis tersebut dengan ramah. 

"Baik, Mbak. Terima kasih." Setelah itu Saras bergegas menuju ke lantai sepuluh di mana ruangan suaminya berada. 

Kini Saras sudah tiba di depan ruangan Rayyan, tanpa menunggu lama wanita berjilbab itu membuka pintu ruangan tersebut. Setelah pintu terbuka, terlihat jika suaminya nampak sedang sibuk dengan pekerjaannya. Setelah itu Saras melangkah masuk ke dalam, tak lupa pintu ia tutup kembali. 

"Saras kamu." Rayyan nampak terkejut melihat kehadiran istrinya itu, rasanya memang aneh. Tapi tidak bisa dipungkiri jika Rayyan merasa bahagia saat melihat Saras datang. 

"Maaf, Mas ganggu, aku ke sini untuk ngantar makan siang. Tadi aku masak cukup banyak, dan kebetulan aku masak makanan kesukaan kamu. Kamu mau kan, Mas." Saras berjalan menuju sofa seraya membawa rantang yang berisi makanan. 

"Jelas mau dong, udah lama nggak ngerasain masakan kamu." Rayyan bangkit dan berjalan menghampiri istrinya itu, rasanya seperti mimpi tiba-tiba Saras datang dengan membawa makan siang. 

"Ya udah, aku siapin sekarang ya, kamu cuci tangan dulu sana," ujar Saras seraya menata rantang yang berisi makanan tersebut di atas meja. 

"Ok." Rayyan beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangannya. Seketika perutnya terasa lapar saat mencium aroma masakan Saras. Setelah selesai Rayyan bergegas kembali. 

"Ayo, Mas dimakan dulu mumpung masih anget," ujar Saras dengan lembut dan senyum yang membuat suaminya itu mabuk kepayang. 

"Iya, oya kamu udah makan apa belum?" tanya Rayyan. 

"Udah tadi, sekarang kamu aja yang makan, Mas." Saras kembali menyuruh suaminya itu untuk segera memakan makanan yang ia bawa. Tanpa pikir panjang Rayyan langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya itu. 

Tidak butuh waktu lama, Rayyan sudah selesai, Saras tersenyum saat melihat suaminya begitu lahap menyantap makan siangnya. Dan tanpa hitungan detik, tiba-tiba pria berkemeja putih itu menguap, sedetik kemudian Rayyan menyenderkan kepalanya di sandaran sofa, dengan mata yang perlahan terpejam. 

"Yes, akhirnya usahaku berhasil juga." Saras tersenyum, setelah itu ia memastikan jika suaminya itu benar-benar tidur. Ternyata obat tidur yang ia campur ke dalam makanan bekerja dengan cepat. Setelah itu Saras segera melancarkan aksinya. 

"Ok, mudah-mudahan handphonenya tidak dikunci." Saras mengambil ponsel milik Rayyan, lalu memeriksa M-bangking untuk mengetahui ada berapa jumlah uang di ATM suaminya itu. 

"Dua ratus juta, lebih baik aku transfer, sisanya aku bawa aja kartu ATM-nya." Saras langsung mentransfer uang tersebut, beruntung PIN tidak diganti. 

"Ok, terima kasih ya, Mas. Nggak rela aku uangnya kamu gunakan untuk istri mudamu itu." Saras mengembalikan ponsel milik Rayyan, tak lupa ia menghapus notifikasinya untuk menghilangkan jejak. Setelah itu ia mengambil kartu ATM-nya yang berada di dalam dompet suaminya. 



__________&&&&&&&&&__________


Biar nggak penasaran, ikuti terus kisahnya ya. Komen bawelnya ditunggu ya, biar lebih semangat lagi nulisnya. 

Jangan lupa bantu follow, subscribe, love, komentar, dan bintang lima ya. Komentar kalian sangat berpengaruh, biar nulisnya lebih semangat lagi.