Sebuah Tawaran
MATI KUTU SAAT ISTRI PERTAMA DATANG KE ACARA PESTA BAYI SUAMINYA
Episode_5
Sebuah Tawaran

"Aku yakin, mas Rayyan pasti akan datang lagi ke sini untuk mengambil sertifikat ini. Aku harus menyembunyikannya." Saras tersenyum. Setelah itu ia mengumpulkan berkas penting itu dan menyimpannya di tempat yang lain. Akan sangat berbahaya jika sampai diambil oleh Rayyan. 

***

Hari telah berganti, pagi ini Saras sudah siap untuk berangkat ke kantor. Kini wanita berjilbab itu akan membiasakan diri untuk hidup tanpa adanya seorang suami. Saras benar-benar sudah ikhlas melepaskan Rayyan, baginya suami seperti dia tidak pantas untuk dipertahankan lagi. 

"Sepertinya hari ini aku akan sibuk di kantor," gumamnya seraya merapikan jilbabnya, setelah dirasa sudah rapi. Saras meraih tas serta kunci mobil, setelah itu ia beranjak keluar dari kamarnya. 

Saras berjalan menuruni anak tangga, setibanya di bawah, ia bergegas menuju garasi untuk mengambil mobil miliknya. Setelah masuk ke dalam mobil, Saras melajukannya dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, dengan terpaksa ia menepikan mobilnya terlebih dahulu. 

"Siapa sih jam segini nelpon." Saras mengambil ponselnya, lalu menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan. 

[Assalamu'alaikum, halo ada apa, Van]

[Wa'alaikumsalam, bisa ke rumah sakit sekarang. Hasil tesnya sudah keluar]

[Ya sudah, ini aku langsung ke rumah sakit]

[Ok, aku tunggu ya, assalamu'alaikum]

[Wa'alaikumsalam]

"Alhamdulillah, hasil tesnya sudah keluar." Saras kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas, setelah itu ia melajukan mobilnya dan bergegas pergi ke rumah sakit. 

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, kini Saras sudah tiba di rumah sakit Medika Husada, bahkan kini wanita berjilbab itu sudah berada di ruangan Dokter Alvan. Jujur, jantung Saras rasanya tidak tenang, ia khawatir jika hasil tesnya mengecewakan. 

"Sudah siap?" tanya Dokter Alvan, yang tak lain sahabatnya dulu saat di SMA. 

"Sudah." Saras mengangguk. Meski perasaannya tidak karuan, sebisa mungkin ia tetap tenang. 

Setelah itu Dokter Alvan membuka amplop yang ada di tangannya. Setelah dibuka, Dokter Alvan segera membaca hasilnya, matanya sempat melirik ke arah Saras, terlihat raut wajahnya yang begitu panik. 

"Ini hasilnya, kamu lihat sendiri." Dokter Alvan menyerahkan hasil tesnya, dengan cepat Saras mengambilnya dan membacanya. Sedetik kemudian Saras nampak terkejut setelah mengetahui hasilnya. 

"Jadi yang mandul itu, Mas Rayyan." Saras bergumam, entah apa yang ia rasakan saat ini. Harus bahagia atau sedih, selama ini mertua dan suaminya sudah menuduhnya mandul, tapi sekarang sudah ketahuan siapa yang mandul sebenarnya. 

"Terima kasih ya," ucap Saras, ia benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri. Haruskah ia memberitahu tentang hasil tes yang pernah Rayyan lakukan. 

"Sama-sama, kamu yang sabar ya, pasti ini sulit untuk kamu terima," ujar Dokter Alvan memberikan nasehat. Pria itu memang tidak tahu tentang masalah yang tengah Saras hadapi saat ini. Bagi Saras itu tidak penting, mengumbar masalah rumah tangganya. 

"Iya, ya sudah aku pamit sekarang ya, assalamu'alaikum." Saras berpamitan untuk keluar dari ruangan Dokter Alvan. Karena setelah ini ia akan langsung meluncur ke kantor. 

"Iya, hati-hati, wa'alaikumsalam." Dokter Alvan mengangguk. Setelah itu Saras beranjak keluar dari ruangan Dokter Alvan. Setelah ini tujuan Saras adalah ke kantor, karena pagi ini ada meeting, berharap meeting belum dimulai. 

***

Waktu berjalan begitu cepat, pukul sembilan Saras baru saja keluar dari ruang meeting. Wanita berjilbab itu melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya. Saat tiba di ruangan, Saras cukup terkejut ketika melihat suaminya sudah tengah menunggu di sofa. 

"Untuk apa, mas Rayyan datang ke sini," batin Saras. Ia berusaha untuk tetap bersikap tenang, setelah itu ia melangkah masuk ke dalam ruangannya. 

"Sudah lama, Mas. Maaf tadi aku langsung meeting." Saras menaruh tasnya di atas meja, lalu berjalan menuju sofa dan ikut menjatuhkan bobotnya. 

"Lumayan lama, iya nggak apa-apa," ujar Rayyan. Pria itu tak henti memandangi wajah wanita yang ada di hadapannya itu. Kecantikannya memang tidak ada duanya, bahkan jika dibandingkan dengan Alexa.Saras jauh lebih cantik, karena bukan hanya wajahnya saja yang cantik tapi juga hatinya.

"Ngomong-ngomong ada apa, tidak biasanya kamu datang ke sini, Mas." Saras melemparkan pertanyaan, ada rasa curiga karena Rayyan jarang sekali datang ke perusahaan yang ia kelola. Bukan hanya jarang, tapi seperti tidak pernah, selama ini Rayyan sibuk dengan perusahaan miliknya bersama dengan sang istri. 

Rayyan berdehem. "Msksud kedatangan aku ke sini untuk mengajak kamu berdamai. Tolong batalkan niatmu untuk bercerai, aku berjanji akan melakukan apa saja, asal kita tetap bersama. Aku benar-benar tidak bisa pisah dengan kamu, Saras tolong kamu pertimbangan lagi."

Saras menghela napas, ternyata dugaannya benar. "Maaf, Mas tapi aku tidak bisa, keputusan aku untuk bercerai sudah bulat. Aku tidak suka dengan penghianatan, dan kamu yang memulainya lebih dulu, jadi jangan menyesal jika perpisahan yang akan menjadi jalan satu-satunya."

"Saras, untuk apa kita bercerai kalau kenyataannya masih dapat kita perbai. Apa kamu tidak sayang, kita sudah sepuluh tahun menikah, dan itu bukan waktu yang sebentar," ungkap Rayyan, ia berharap istrinya itu akan luluh. 

"Maaf, Mas. Tapi aku tetap nggak bisa," tolaknya. Saras cukup paham dengan pria di hadapannya itu. Seorang Rayyan tidak akan minta tanpa sebuah imbalan. 

Rayyan menghela napas, lalu mengusap wajahnya dengan gusar. Ia bingung harus bagaimana lagi, cara membujuk Saras agar mengurungkan niatnya untuk bercerai. Karena Rayyan punya rencana, agar ia bisa menguasai semua aset yang kini ada di tangan Saras. 

"Saras aku mohon, tolong beri aku kesempatan lagi. Jika kamu mau, aku akan menceraikan Alexa, dan kita bisa merawat Seril, untuk pancingan agar kamu bisa hamil. Aku yakin Alexa akan mau, apa lagi kalau kita kasih bayaran," ungkap Rayyan, mendengar itu Saras sempat tercengang. 

Saras tidak habis pikir, kenapa Rayyan bisa mempunyai pikiran seperti itu. Yaitu menceraikan Alexa dan mengambil anaknya, lalu memberi Alexa bayaran. Sayangnya Saras bukan wanita bodoh yang akan tergiur oleh tawaran konyol itu. Karena ia yakin jika itu adalah jebakan yang sengaja Rayyan rencanakan. 



__________&&&&&&&&&__________


Biar nggak penasaran, ikuti terus kisahnya ya. Komen bawelnya ditunggu ya, biar lebih semangat lagi nulisnya. 

Jangan lupa bantu follow, subscribe, love, komentar, dan bintang lima ya. Komentar kalian sangat berpengaruh, biar nulisnya lebih semangat lagi.