CINTA SAMPAI MATI BAB. 1
Kupeluk kakiku erat, kutenggelamkan wajahku di atas kedua lututku.
Air mata tidak berhenti jatuh dari pelupuk mataku.

Aku tahu ini salah!
Aku tahu ini sebuah dosa!
Aku tahu, tapi aku tidak bisa menghindarinya.
Sangat sulit bagiku, untuk lepas dari jerat cinta. Cinta yang tidak seharusnya ada.

Dia milik orang lain.
Dia suami bagi istrinya!
Dia ayah bagi anaknya.
Lalu aku!?
Siapa aku!?
Aku hanya gadis yang terperangkap dalam cinta tanpa asa.

Tuhan.
Jiwa ragaku milik MU
Rasa hatiku berasal dari MU.
Tolong hapuskan rasa cinta ini dari hatiku.

Aku ingin tangis ini berakhir.
Aku ingin kepedihan ini cukup sampai di sini.
Aku ingin ....
Tapi semua hanya sebatas keinginan, pada kenyataannya, air mataku terus mengalir, karena cinta ini begitu besar untuknya.

Samar kudengar suara Caca Handika mengalunkan lagu Cincin putih dari rumah terangga. Membuat air mataku semakin deras mengalir.

Kuhapus air mataku. 
Kubulatkan tekadku.
Kalau malam ini adalah malam terakhir bagi aku, dan dia.

Kami bertemu di tempat biasa kami bertemu.
Sebuah tempat di bawah pohon akasia yang tumbuh di tepi jalan kecil. Di bawahnya ada kursi beton yang biasa kami duduki.

Meski tempat ini di tepi jalan yang menjadi tempat lalu lalang banyak orang. Tapi penerangan yang temaram, membuat wajah kami tidak mudah dikenali orang yang lalu lalang di jalan.

Kami tidak berani mengambil resiko bertemu di tempat yang terang, karena dia, suami wanita lain!

"Kita harus berpisah," ujarku langsung pada inti pembicaraan.
Dia menolehkan kepalanya ke arahku.
"Berpisah?"
"Apa yang kita lakukan ini tidak benar Bang."
"Setelah hampir 2 tahun kita menjalani ini, kenapa kamu baru mengatakan ini tidak benar?"
"Hubungan ini tidak punya masa depan, untuk apa diteruskan!"
"Aku sudah bilang, aku akan menceraikan istriku, kamu tahukan jika pernikahan kami sebuah keterpaksaan, aku tidak mencintainya Na!"

"Mungkin aku sanggup merebut Abang dari sisi istri Abang, tapi aku merasa tidak sanggup memisahkan seorang anak dari Ayahnya Bang, aku tidak sanggup!"

"Aku mencintaimu Na, aku sangat mencintaimu!"
"Jika Abang mencintaiku, sudah sejak dulu Abang melepaskan istri Abang, dan memilih aku, tapi cinta Abang hanya semu, bukan sebuah kenyataan bagiku, keputusanku sudah bulat Bang, kita berpisah di sini, aku mohon maaf atas semua kesalahanku pada Abang."

Bang Yan berlutut di hadapanku. Digenggamnya erat kedua tanganku. Dikecupnya jari jemariku, air matanya membasahi jemariku.
"Tolong jangan tinggalkan aku Na, aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu Bang, tapi cinta kita tidak akan membuat kita bisa saling memiliki, Abang suami orang ... hiks ... hikss .... "

"Aku akan menceraikannya besok Na, aku berjanji padamu."
"Tidak Bang! Aku yang akan pergi dari kehidupan Abang!" Kurenggutkan jemariku.
Aku tegak berdiri di hadapannya.

BERSAMBUNG