Imutnya si bayi berbulu
Bismillah 

            "Anak Genderuwo "

#part_7

#kbm_cerbung 

#by:Ratna Dewi Lestari.

      "Mas--Mas Anton?" Ucap Warsih ragu. Ia memandang heran sosok dihadapannya itu. Anton balik bertanya," iya ini Mas, Dek. Kamu kenapa kok heran?"

     "Mas, tadi malam kan Mas sakit. Terus pingsan," Warsih masih tak percaya lelaki di hadapannya itu suaminya, Anton.

    "Iya, kan abis berantem dengan makhluk jadi-jadian itu kamu minta makan terus. Terakhir kita berantem terus Mas masuk kamar. Eee kamunya ga masuk-masuk. Mas khawatir, Mas susul kamu ke dapur. Kamu nya dah tergeletak pingsan Dek," jelas Anton panjang lebar.

    "Ga mungkin Mas, aku ingat semua kejadian semalam. Terus anakku mana Mas?" Warsih masih ngotot.

     "Anak apaan sih, Dek? Mas bener-bener ga ngerti," jawab Anton disertai dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung campur heran.

     "Anak kita Mas, anak berbulu yang mirip gorila itu Mas," Warsih masih kekeh dengan ceritanya. 

     "Tau ah Dek, Mas pusing. Itu Mas buatin nasi goreng. Di makan. Mas mau tempat ustad Zayadi. Mas ga mau kita di ganggu makhluk itu lagi." Ucap Anton sembari melenggang pergi. 

     Warsih hanya terdiam menatap kepergian suaminya. Ia masih tak percaya kejadian semalam itu mimpi. Ia yakin jika ia melahirkan malam itu. Semuanya tampak nyata baginya.

*

    Anton sudah terlelap, begitu juga Warsih. Ustad Zayadi tidak berada di kediamannya. Anton gagal untuk bertemu dengannya. Anton pun tak pergi mengojek hari ini. Badannya masih sakit dan pegal-pegal efek berantem tadi malam.

     "Oek-- oekkk--oekkk,"

     Warsih seketika terjaga mendengar bunyi suara anak bayi. Matanya terbelalak begitu melihat bayi di tengah-tengah kasurnya. Ia mendekati bayi itu. Bayi yang dibungkus kain hitam itu menggeliat menangis keras. Warsih menatap takut bayi itu. Ia serta-merta menggoyang tubuh Anton. Suaminya itu tak bergeming.

     Warsih bingung. Disela ketakutannya, ia mendengar sebuah suara nyaring dan menggelegar.

   "Cepat susui anakmu! jika tidak nyawa suamimu jadi taruhannya. Kau pasti tak mau suamimu mati, kan. Itu anakmu. Anak mu dan anakku. Hua--hahahahaha," 

    Warsih menatap kesegala penjuru melihat sosok yang berbicara padanya. Namun tak ada siapa pun disana selain dia dan suaminya, serta anak bayi di antara mereka.

     Dengan takut dan ragu-ragu Warsih mendekati bayi itu. Bayi yang ditumbuhi bulu itu nampak manis. Ia seketika berhenti menangis begitu berada di dekapan Warsih. Ia menatap sendu. Membuat hati Warsih berdegub. Ia merasakan bahagia menjadi seorang ibu. 

       Bayi itu menyusu dengan lahap. Walaupun menahan sakit akibat gigi bayi yang tajam, Warsih tak sedikitpun mengeluh. Ia nampak senang bisa menyusui bayi berbulu itu. 

**

     Hari ke hari tubuh Warsih semakin mengurus. Ia pun menjadi sering tertidur. Ia nampak semakin pucat seperti kekurangan darah. 

      Anton menatap heran istrinya yang semakin kurus saja padahal makannya semakin lahap. Ia berulang kali menanyakan prihal tubuh Warsih yang semakin kerempeng. Tapi selalu dijawab tidak ada apa-apa dari Warsih.

       Anton tak ingin menunda lagi. Motor di kendarai sekencang mungkin menuju rumah ustad Zayadi. Ia berharap ustad bisa membantunya keluar dari masalah rumah tangga nya selama ini.

        Sampai di kediamannya ustad Zayadi, Anton bergegas mengeruk pintu rumah ustad. 

       "Assalamualaikum," ucapnya seraya mengetuk pintu rumah ustad.

       "Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam.

       Seorang wanita paruh baya menyembul dari balik pintu. Wanita berjilbab panjang itu tersenyum menyambut kedatangan Anton.

        "Mau cari siapa Pak?" tanyanya ramah. Senyum tersinggung lebar di wajahnya.

         "Saya mau bertemu dengan Ustad, Umi Diah. Apakah Ustad sudah pulang Um?" Jawab Anton sesopan mungkin.

         "Alhamdulillah sudah, sebentar saya panggil Ustad dulu. Abi ada yang mau ketemu ini, ada perlu," panggil wanita itu yang diketahui sebagai istri Ustad Zayadi.

       "Iya Umi," sahut seseorang di dalam. Ia berjalan tergopoh-gopoh mendekati pintu.
    
       "Eh, Mas Anton. Ada perlu apa Mas," ucap Ustad Zayadi. Pria bertubuh atletis itu mengernyitkan dahinya. Baru kali ini Anton bertandang ke rumahnya.

       "Ustad, tolong saya Ustad. Istri saya di ganggu makhluk goib Ustad ," seru Anton mengiba.

      "Astagfirullah. Baik Mas Anton. Ayo kita segera melihat keadaan istri Mas," ajaknya.

       "Umi, Abi pergi dulu sebentar ," ujar Ustad yang diiringi anggukan dari istrinya.

      Anton memacu motornya secepat mungkin. Motor melaju bak kilat. Anton tak ingin menyia -nyiakan waktu . Ia tak ingin istrinya kenapa-napa. Anton akan terus berusaha hingga keluarga nya kembali damai, seperti sedia kala.

Bersambung...