Bayi berbulu Warsih
Bismillah 

          "Anak Genderuwo "

#part_5

#kbm_cerbung 

#by:Ratna Dewi Lestari

     
       Gemericik hujan menemani malam yang terasa sangat panjang bagi Anton dan juga Warsih. Bagaimana tidak. Berulang kali Warsih bangun dan meronta minta makan. Ia terus merasa lapar. Anton yang masih merasa sakit akibat pergulatan dengan makhluk asing itu harus berulang kali memasak untuk Warsih.

      Brakkkkkkk 

      Anton menggebrak meja kayu di dapur. Asap dari kayu bakar masih msngebul. Anton marah dan frustasi. Ia lelah dan sangat mengantuk. Sudah lima kali Warsih meminta Anton untuk menyediakan ubi rebus. Anehnya Warsih tak pernah kenyang.

    Warsih mendatangi Anton begitu mendengar bunyi gebrakan meja. Matanya merah menahan amarah. Sedangkan Anton pun menatap dengan kesal.

    "Apa-apaan kau Mas. Disuruh begitu saja sudah marah-marah!" bentak Warsih garang. Matanya melotot tajam ke arah suaminya.

   "Kau yang sudah gila Warsih. Seperti orang kesurupan bulak-balik makan tanpa henti. Kau pikir aku pembantumu, hah. Aku suamimu! Lakukan ini sendiri!" bentak Anton tak kalah sengit. Piring terbang menghantam dinding.

      Pranggggggg 

      Dan pecah berkeping-keping. Dengan geram Anton menghentakkan kaki dan pergi meninggalkan Warsih. Ia menuju kamarnya dan tertidur pulas. Sedangkan Warsih masih tegak mematung di dapur. Hatinya kacau. Baru kali ini ia melihat suaminya marah besar.

     Warsih pun heran kenapa ia menjadi sangat pemarah dan selalu lapar. Dalam hitungan jam perutnya terasa semakin membesar. Sengaja ia menyembunyikan dari suaminya. Warsih takut Anton khawatir dengan keadaannya.

    "Ahhhhhhhhhhhhh," teriak Warsih sembari memegang perutnya. Tiba-tiba ia merasa sakit yang tak tertahankan.

    "Mas--Mas Anton, tolong!" suara Warsih menggema keseluruh ruangan.

    Dengan malas Anton berjalan mendekati Warsih yang tersandar di pojok dinding dengan tangan memegang perutnya. Ia meringis kesakitan.

    Mata Anton terbelalak melihat keadaan istrinya. Perut Warsih kian membesar seperti balon yang ditiup. Warsih mengerang kesakitan. Anton dengan ketakutan mendekati Warsih yang kian melemah.

     "Kau kenapa Warsih?" tanyanya gemetar. 

      "Mas, perutku kenapa kian membesar Mas? Sa--sa--kit--Mas," ucapnya terbata.

      "Mas panggil Nek Ijah ya di desa sebelah. Kau seperti orang yang ingin melahirkan," seloroh Anton penuh kekhawatiran.

      "Jangan Mas, aku sudah tak tahan, tunggulah di sini bersamaku Mas," pinta Warsih menggenggam lengan Anton kuat.

       Anton lalu menggendong Warsih yang menjadi sangat berat malam itu. Dengan sedikit terhuyung Anton membawa Warsih ke dalam peraduan mereka. Warsih masih meringis kesakitan. Wajahnya dipenuhi keringat sebesar biji jagung.

      Diluar rumah hujan semakin deras. Kilat menyambar dan geluduk bersahut-sahutan. Angin kencang menggoyang pepohonan hingga ada beberapa yang tumbang. Suara tangis Warsih teredam dengan bunyi suara alam sekitar.

      "Aaaaaaaaaa Mas--sa--sakit," pekik Warsih.

     Dari selangkangannya keluar darah kental yang berwarna merah kehitaman. Anton bingung harus berbuat apa. Ia semakin panik. Genggaman tangan Warsih semakin kuat. Wajahnya memucat. Tangisnya kian menggema.

       Warsih kian melemah. Nafasnya semakin pelan. Anton berusaha melepaskan tangan Warsih, tapi dicegah. Warsih tak pingin Anton pergi kemana-mana.

      "Aaaaaaaaaaaaaaa," kali ini teriakan Warsih lebih kuat.

        Darah semakin banyak menggenangi kasur. Mata Anton tak lepas dari Warsih. Anton tersentak begitu melihat sesuatu menyembul dari kemaluan istrinya. Seperti kepala bayi tapi ditimbuhi bulu sangat lebat. Makhluk itu meronta. Anton segera menyambut bayi itu. Bayi yang dipenuhi bulu berwarna hitam. 

         Warsih menghela nafas dalam. Setelah pergulatan itu ia lemas tak berdaya. Ia hanya melihat nanar sosok yang barusan ia lahirkan. 

         Suasana tiba-tiba menjadi hening. Hujan seketika berhenti dan tak ada lagi kilat juga angin. 

        Anton melihat bayi yang kini berada di gendongannya. Ingin rasanya ia lempar bayi sialan itu yang ia yakin itu adalah keturunab dari makhluk biadab itu. Namun ia urungkan. Bayi itu menatap Anton dengan lembut. Ia begitu manis walaupun ditumbuhi bulu yang lebat . Persis seperti anak gorila tapi berwajah manusia.

       Anton menyerahkan bayi itu kepada Warsih. Dengan lemah Warsih menerimanya. Warsih tergugu melihat penampakan bayi yang dilahirkannya . 

         "Haruskah aku membuangnya Mas?" Tanya Warsih menatap Anton sedih. 

        "Jangan Sayang, bagaimanapun ia anakmu, walaupun bukan darah dagingku," jawabnya dengan menghela napas panjang. Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

     "Tapi, aku tak mau punya Anak begini," ia semakin histeris.

      "Tapi anak ini tidak bersalah Warsih! Tanyakan hatimu apa tega kau membuangnya!" Bentak Anton marah.

        Warsih menatap bayi laki-laki itu. Bayi itu tampak imut dan lucu walaupun berbulu. Hatinya kian tersentuh. Jiwa keibuannya mulai muncul. Tapi sanggupkah ia menghadapi gunjingan orang-orang perihal bayinya dengan bentuk yang berbeda. Entahlah. Pikiran nya kacau dan hatinya semakin galau.

******* bersambung*******