Pengejaran Maklhuk menyeramkan
Bismillah 

      " Anak Genderuwo"

#part_11

# kbm_cerbung 

#by:Ratna Dewi Lestari.

   
     "Cepat Warsih !" teriak Anton dengan tangan siap menggapai Warsih yang berlari.

     "Mas !" langkah Warsih seketika terhenti. Bayi berbulu itu menghadangnya. Tatapannya marah dengan mata merah menyala. Ia mengeram, menyeringai seakan ingin memangsa Warsih.

    "Hahahaha ... kau akan kekal selamanya disini Warsih! jangan harap kau akan kembali!" ejek sosok menyeramkan itu yang kini kembali berdiri tegak.

    Warsih kini terpojok. Kakinya gemetar hebat. Si bayi berbulu mendekat perlahan. Tetesan liur bercampur darah menggenang di lantai papan. 

    "Makanlah Nak. Ia Ibumu sekalian mangsamu!" ucap sang makhluk berbulu.

   "Mas ... tolong aku!" Warsih mengiba. Lututnya terasa lemah tak berdaya. Keringat dingin mengucur menahan takut.

   Dengan dibantu doa oleh Ustad, Anton berlari mendekati Warsih yang terpojok. Anton tak banyak bicara. Hanya mulutnya yang komat-kamit membaca doa.

   Bayi itu hampir saja menyentuh kaki Warsih, tetapi dengan satu sepakan dari Anton, si bayi berbulu terpental hebat hingga membentur dinding kayu.

    BRAKKKK 

   "Berani-berani nya kau menyakiti anakku!" bentaknya marah.

   Makhluk itu lantas melesat hendak mencelakai Anton. Namun Anton tetap gagah berdiri menantang sembari memeluk erat isterinya. Lantunan doanya semakin kencang. 

    Makhluk-makhluk diluar sana tak berani mendekat. Mereka yang mendengar sebagian berlari ketakutan. 

    "Warsih ... tolong kami!" teriak wanita-wanita diluar rumah yang jadi korban penculikan, sama seperti Warsih.

    Makhluk itu ikut terpental hebat. Darah mengucur deras dari mulutnya. Dengan sigap Anton menarik tangan Warsih dan berlari keluar rumah. 

   Dari mulut Anton masih terdengar lantunan doa hingga membuat makhluk diluar rumah menyingkir dan lari tunggang-langgang.

   "Warsih! tolong kali Warsih! sahut beberapa orang wanita yang menunggu Warsih di depan rumah.

   Warsih menatap Anton. " Tolonglah mereka, jangan buang waktu, jika makhluk itu bugar kembali, kita bisa mati disini!" ucap Anton.

   "Cepat lepaskan bayi-bayi itu! Itu bukan anak manusia!" perintah Warsih.

    Wanita-wanita itu dengan serentak membuang bayi yang mereka gendong dan berlari mengikuti Warsih dan Anton.

    "Ayo cepat! waktu kita tak banyak!" seru Anton.

    "Gerrrrrrrrrrrrrr," suara erangan makhluk itu terdengar kuat. Anton dan Warsih beserta 8 wanita itu berlari menghindari makhluk berbulu itu.

      Bruk !brak!bruk!

    Suara langkah kaki terdengar bersahut-sahutan. Langit malam teramat gelap. Tak ada sedikitpun cahaya dari bulan ataupun bintang. Hanya terdengar suara binatang malam. Mereka berlari dan terus berlari. 

     Lama mereka berlari tapi tak satupun rumah yang mereka jumpai. Padahal sewaktu masuk ke dalam pintu gerbang, ini adalah perkampungan dengan rumah panggung di sisi kanan dan kiri jalan. Kini yang mereka lalui hanya jalan setapak yang panjang dengan hutan yang mengelilingi.

    Mereka seolah berlari tanpa tau tujuan pasti. Tapi, suara ustad Zayadi terus terdengar ditelinga Anton dan menyuruhnya terus berlari dan jangan melihat ke belakang. 

    Dengan napas terengah mereka tetap berlari. Salah satu dari 8 wanita tadi berhenti. Ia tak sanggup lagi berlari.

    "Ayo Mbak! jangan berhenti. Sebentar lagi kita sampai tujuan!" seru Anton.

    "Tidak, aku sudah tidak sanggup lagi," ucapnya terengah-engah.

       Zluppppppp 

       "Aaaaaaaaaa ...,"