emak mamat
Pintu pun di buka, emak segera melangkah kan kaki nya kedalam. Melihat anknya yang terbaring lemah Emak pun menangis menggenggam tangan anaknya itu. Berbisik di telinganya.

"Mat ini emak mat, cepat sadar mat, jangan tinggalin emak, Mamat belum ngasih mantu buat emak, emak cuma punya Mamat." Ucapnya sembari sesenggukan sesekali menyeka air matanya yang terus deras mengalir.

  Keadaan haru biru, emak tak henti-hentinya menangis. Kemudian emak membuka tas yang ia bawa kemudian mengambil sebuah Al-qur'an lalu membacanya. Berdo'a supaya Mamat segera sadar. Air mata emak terus mengalir.

"Mat, bangun mat, jangan tinggalin emak." Kata itu juga yang selalu emak ucapkan, melihat anaknya tak sadarkan diri sejak tadi.

  Di luar kamar pak Gunawan memperhatikan, matanya berkaca-kaca merasa bersalah. Pak Gunawan kemudian masuk untuk menenangkan emak.

"Yang sabar ya bu, Mamat pasti akan segera pulih."

"Iya pak, saya gak mau kehilangan anak saya, dia anak saya satu-satunya, menikahpun belum sekarang keadaannya seperti ini.

"Memang usianya berapa bu ?."

" tiga puluh tahun pak." Jawab emak.

"Ibu sudah makan, kalau belum makan mari kita pergi ke kantin dulu?."

"Belum pak, mana bisa saya meninggalkan anak saya pak, rasanya makan pun tak berselera."

"Ibu, kalau ibu tidak makan nanti ibu lemas dan bisa sakit, jika ibu sakit kasihan Mamat bu pasti dia akan sedih." Emak sejenak berfikir, kemudian mengiyakan tawaran pak Gunawan.

"Baiklah pak, tapi saya gak bawa uang lebih."

"Ibu tenang saja, saya yang akan membayarnya, mari bu."

Emak dan pak Gunawan pergi keluar meninggalkan Mamat. Berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit menuju kantin yang berada di Rumah Sakit itu.