3. Kematian keponakanku


Nurani berjalan sambil tersenyum sendiri. Tadi di sekolah nggak sengaja ia beradu pandang dengan Raihan, kakak kelasnya yang menjadi Ketua SKI, saat acara rapat di kantor OSIS. Nur ikut rapat, karena dia menjadi sekretaris SKI.

Aduh, Nurani nggak bisa ngilangin bayangan senyum Raihan. Ih, manis nian.

Sang Bayu yang menyapa alam menggugurkan ribuan bunga dan daun flamboyan, menciptakan suasana yang romantis.  Apalagi, sang Surya malas untuk menampakkan diri, sejak awan hitam itu menghampirinya.

Baru setengah jam yang lalu meninggalkan sekolahnya, ia sudah ingin kembali, agar bisa bertemu dengan Raihan lagi. Wah, rindu itu memang menyiksa. Siapa bilang rindu itu indah? 

Namun, di ujung gang lamunannya berakhir. Banyak sekali orang berkerumun di sekitar rumahnya. Nurani berlari ingin segera tahu apa yang terjadi. Hatinya sangat cemas, melihat beberapa orang tampak bersedih.

"Ada apa Bu?" tanya Nurani pada ibunya yang matanya sembab.

"Aldi meninggal Nur..." ucap ibunya lirih.

Sontak, lemas dan lunglai tubuh Nurani mendengarnya. Air matanya meluncur deras membasahi pipinya.

"Mengapa ibu nggak menelpon Nur?"

"Ibu nggak mau mengganggu sekolahmu. Kami juga sibuk mengurus surat-surat di Rumah Sakit," jawab ibunya.

Nurani mendekati kak Alfiah dan memeluknya. Siang itu rumah Nurani bersimbah air mata.

Aldi adalah putra Kak Alfiah, kakak Nur yang tertua. Ia baru berusia tiga tahun. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Tak hanya keluarga yang sedih, tapi juga tetangga sekitar. Beberapa hari ini Aldi memang malas makan, dan tampak tidak sehat. Waktu diperiksakan ke klinik, cuma diberikan obat turun panas, dan vitamin untuk nafsu makan, namun Tuhan tidak memberikan umur lebih padanya.
Tadi pagi dia dibawa ke Rumah Sakit. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata ususnya penuh dengan bakteri, dan nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Berhari-hari Kak Alfiah terus menangis. Matanya bengkak karena tak berhenti mengeluarkan air mata. Ia benar-benar terpukul oleh kematian anaknya.

"Sabar Kak Alfi, ini sudah kehendak Allah," terdengar suara kak Ima di kamarnya.

Nurani ikut memegang tangan kakaknya.

"Aku ngerti Im. Ngerti banget, kalau apapun yang terjadi adalah kehendak Allah, tapi menjalaninya ini yang berat sekali," sanggah Kak Alfi.

"Yah, mau bagaimana lagi Kak, anak adalah titipan Allah. Bila Sang pemilik mengambilnya kembali, kita tidak bisa menolaknya," sambung kak Ima.

"Iya, aku tahu. Tapi kalian kan tahu sendiri, berapa lama kami menantikannya. Sepuluh tahun Im. Coba bayangkan. Dan sekarang, baru dititipi tiga tahun, sudah diambil. Memang, akhir-akhir ini, rezekiku lumayan sekali, sampai aku bisa beli motor baru. Tapi ternyata, Allah malah mengambil milikku yang paling berharga. Anakku... Huu uu..." kak Alfi menangis. 

"Padahal, aku sudah bayar zakat, sudah bersedekah, sudah umroh..." keluh kak Alfi. 

"Kak Alfi, soal kematian sama sekali tidak ada hubungannya dengan amal baik kita. Umur manusia adalah masalah yang benar-benar sudah ditentukan waktunya. Ada yang hanya diberikan jatah hidup setahun, dua tahun, satu jam, bahkan masih di dalam kandungan. Tapi ada juga yang sampai seratus tahun lebih. Semua sudah ditentukan waktunya. Tak ada yang bisa mengajukan atau mengundurkan," lanjut kak Ima.

"Kenapa harus Aldi?..." kak Alfiah masih mengeluh.

Kak Ima diam sejenak. Dia ikut meneteskan air mata.

"Kak Alfi tentu tahu manusia terbaik di dunia ini. Rasulullah Saw. Tapi beliau tidak pernah punya kesempatan melihat wajah ayahnya, karena sudah meninggal saat beliau masih dalam kandungan ibunya.
Begitu juga ibunya. Anak yang baru berusia enam tahun sudah menjadi yatim piatu. Bahkan beliau harus ikhlas, saat kembali ditinggalkan oleh kakek yang amat menyayanginya, pada usia delapan tahun.
Bertubi-tubi beliau harus mengalami kehilangan karena kematian orang-orang yang disayanginya, bahkan pada masa kecilnya. Kalau ingat hal itu, rasanya cobaan kita tidak seberat yang beliau terima," tutur kak Ima, terus mencoba menenangkan kak Alfiah.

"Rasulullah juga pernah mengalami kematian orang yang sangat disayanginya Kak. Bahkan dua kali dalam setahun. Beliau sangat terpukul oleh kematian istri dan pamannya Abu Thalib. Akhirnya Allah menghiburnya dengan mengadakan Isra' Mi'raj untuk beliau," lanjutnya. 

Alhamdulillah, Kak Alfi bisa menerima ucapan kak Ima. Sementara Nurani hanya bisa terisak-isak, sambil bersandar pada bahu kak Alfiah.

Beberapa menit waktu berlari meninggalkan mereka.

"Memang berat musibah Kakak. Aku juga sedih sekali, Kak. Kita sama-sama minta pertolongan Allah, agar diberi kekuatan untuk bersabar dan ikhlas menerima takdir ini. Nanti malam kita tahajjud bertiga ya," akhirnya Nurani buka suara.

Kak Ima dan anaknya tidur menemani kak Alfiah. Sementara Nurani kembali ke kamarnya.

******

Hujan deras dan dinginnya udara di malam itu, tak menghalangi ketiga kakak beradik itu untuk bangun, dan mengadu pada Allah dalam sujud. Segenap keluh kesah tertumpah hanya kepada Allah, Sang pemilik hidup.

********

Hari ini, genap tiga hari sudah kepergian Aldi. Sudah tiga hari pula Nurani tidak masuk sekolah, karena demam.

Kak Alfi terlihat lebih tenang, meskipun wajahnya masih menyimpan duka yang mendalam.

"Assalamu'alaikum...!"

Terdengar suara beberapa orang dari luar pintu.

"Waalaikum salam," jawab Ibu Nurani.

"Silakan masuk Nak. "

"Iya Bu, terima kasih," jawab seorang cowok yang paling cakep.

Dari dalam kamarnya, Nurani mendengar suara yang selalu dirindukannya. Dia mengintip lewat tirai pembatas pintu.

"Lho, Kak Raihan...," desah Nur lirih.

"Oh jantung, nggak usah menabuh beduk segala, kenapa sih?" keluh Nurani.

"Ya Allah, dia ke rumahku..."

"Nur, ada teman-temanmu lho!" teriak Ibu.

" I..i..iya Bu, sebentar!" jawab Nur gugup.

Ia masih lemas gara-gara melihat cowok yang ditaksirnya itu.

Nurani keluar dengan menyungging sebuah senyum. Ia menyalami Mbak Risa, Mbak Titik, dan Reni, teman sekelasnya.

"Kami dengar kamu sakit, dan juga kami ikut berdukacita," ucap kak Raihan mewakili teman-temannya dari SKI.

Aduh, suaranya...sopan dan merdu, membuat perasaan Nurani makin tak karuan.

"Terima kasih semuanya ya,"  ucap Nur perlahan.

***********

TerimaπŸ™πŸ’• kasih sudah berkenan membaca. 

TerimaπŸ™πŸ’• kasih pula bila bersedia menekan tanda like atau berkomentar. 


Komentar

Login untuk melihat komentar!