Bab 3. Siapa Yang Salah
Bab 3. Siapa Yang Salah

"Adelia!"

"Adelia!"

Teriak Radit dan Mika secara bersamaan.

Langkah Radit tepat waktu. Dia berhasil menahan tangan Adelia. Sedetik saja telat, lampu tidur akan menghantam kepala Ningsih.

"Apa yang kamu pikirkan Adel?"

Adel melirik ke arah tangannya. Tangan yang ditahan Radit. Tangan yang bergetar ketika pemilik tubuh baru sadar apa yang baru saja hendak dilakukan. Dia hampir saja membunuh orang yang di depannya. Tidak bisa berpikir jernih.

"Adel, lepas ya," bujuk Mika.

Mika dan sang suami kembali ke rumah Adelia karena ada berkas Adelia yang tertinggal di mobil. Berhubung masih dekat mereka putar arah kembali. Siapa tau Adelia memerlukan berkas tersebut secepatnya.

Mereka bisa masuk bebas ke adalah rumah adik dan adik ipar lantaran sudah diberikan akses masuk. Kapanpun mereka datang berkunjung bisa bebas masuk dengan kunci cadangan.

Mika meletakkan dokumen tersebut di ruang kerja Adelia. Setelah itu memutuskan pulang. Mereka pikir Adelia sudah tidur, jadi langsung pulang karena tidak mau mengganggu waktu istirahat Adelia.

Langkah mereka terhenti ketika mendengar suara ribut-ribut dari kamar ART. Penasaran apa yang terjadi. Setelah saling lirik memberi kode bertanya apa yang sedang terjadi, baru mereka meluncur ke tempat asal suara. 

"Kak Mika," seru Adelia dengan mata berkaca. Antara mau menangis hampir mencelakai orang dan kecewa dengan sang suami.

"Kamu lepaskan itu dulu. Kita bicara baik-baik ya," bujuk Mika hati-hati.

Adel kembali melihat ke arah tangannya. Di sisinya Radit masih memeluk Laura sambil menahannya.

Radit baru melepaskan tangan Adelia setelah yakin Adelia tidak akan melakukan hal tadi. 

Setelah tangannya terlepas, Adelia meletakkan kembali lampu tidur di tempat semula. 

Mika bergerak cepat memisahkan Adelia dan Ningsih. Menarik Adelia ke pinggir tempat tidur sisi lain, tempat Laura awal menangis. 

Ningsih langsung terbatuk hebat ketika tangan Adelia tidak mencekiknya lagi. Saluran pernafasannya sudah kembali normal. Sekarang dia bisa bernafas normal kembali.

"Radit, Adel, Ningsih ada apa ini?" tanya David sebagai penonton drama live action.

Mereka bertiga bungkam. Tidak ada yang buka suara. Radit fokus menenangkan Laura. Adelia masih syok sendiri. Lalu Ningsih yang masih mengatur nafas.

"Mas, tolong bawa Laura keluar dari sini," perintah Mika.

"Ah, baiklah," balas David tidak menambah masalah. Dia juga kasihan melihat Laura yang menangis dalam pelukan Radit.

"Laura, sama Om dulu ya," ajak David halus sambil menjulurkan tangan ke arah Laura.

Laura menolak. Dia semakin menenggelamkan wajah di dada sang Ayah.

"Sini sayang. Papa dan Mama mau bicara dulu."

"Nggak mau. Laura mau sama Papa."

"Laura, Laura sama Om dulu ya. Papa mau bicara dulu sama Mama," tambah Radit menyakinkan Laura.

"Mama!" seru Laura mengintip Adelia secara perlahan. Masih takut melihat sang Mama yang marah.

"Iya sayang. Papa janji nggak akan lama kok."

"Ok."

Radit segera menyerahkan Laura ke abang ipar. David menerima Laura dengan baik. Setelah Laura berada di gendongannya, mereka meninggalkan kamar. Sekarang di dalam kamar tersebut tinggal berempat.

Mika mengamankan Laura biar tidak menjadi mimpi buruk. Pemandangan melihat kedua orang tua mereka berkelahi bukan memori yang baik. Memori tentang hal buruk akan melekat seumur hidup. Lebih buruknya bisa terjadi trauma sampai alam bawah sadar.

"Adel, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu hampir mencelakai Ningsih. Ningsih sudah empat tahun bekerja di sini. Apa salah dia?" tanya Mika sambil mengelus bahu Adelia.

"Mbak tanya aja sama adik Mbak," tekan Adelia.

Alis Mika berkerut. Belum pernah dia melihat Adelia bersikap seperti ini. Sudah bisa dipastikan jika ini bukan masalah sepele.

"Radit," tuntut Mika.

"Mbak tidak perlu ikut campur. Ini masalah keluarga kami. Mbak pulang saja," ujar Radit tidak mau melibatkan sang kakak.

"Apa? Kamu takut kalau Mbak Mika tau sifat asli Mas," ejek Adelia.

"Ada apa sih. Kalian ini kenapa. Jangan kekanakan."

"Mbak mau tau apa saja yang dilakukan sama adik Mbak ini saat Adel tidak di rumah?"

"Adel, tolong jangan berputar-putar. Mbak tidak mengerti."

"Mbak tau, tadi Adel memergoki mereka berdua di atas tempat tidur," ujar Adel menekan di setiap kata. Masih marah memikirkan apa yang sudah dilakukan sang suami di belakangnya.

"Apa?"

Mika menutup kedua mulut. Bagaimana bisa adik yang sudah hidup bersama dan dalam pengawasan dari kecil bisa menjadi pria yang br*ngs*k dan tidak bertanggung jawab.

"Satu hal lagi yang harus Mbak tau, mereka tidak hanya tidur berdua, mereka turut membawa Laura dalam hubungan gelap mereka."

Kepala Mika seperti dihantam batu mendengar kalimat selanjutnya dari Adel. Pantesan saja Adelia bisa marah besar seperti itu. Mereka telah melibatkan Laura anak empat tahun setelah yang masih polos. Bagaimana mereka bisa mempertanggungjawabkan saat Laura bertanya nanti.

"Sekarang coba Mbak bayangkan kalau berada di posisi Adel, Mbak. Apa yang akan Mbak lakukan. Apa Mbak bisa diam saja."

Tidak ada perempuan yang akan diam saja diselingkuhi suami. Kecuali perempuan itu bodoh atau tidak memiliki rasa cinta. Perselingkuhan bukan hal yang wajar yang bisa dimaklumi. Ada janji dengan sang pencipta yang ikut diingkari.

Jika pasangan kamu memiliki kekurangan, lebih baik ajak bicara. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bukan malah nyosor sana sini seperti soang atau angsaataubangsa yang melihat mangsa.

"Radit, Mbak benar-benar kecewa sama kamu. Mbak ini juga seorang istri. Apa kamu sanggup melihat Mbak berada di posisi Adel. Apa yang akan kamu lakukan jika Mas David berselingkuh di belakang Mbak.

"Mbak, bukan seperti itu. Radit …."

"Cukup Radit, Cukup! Kamu tidak perlu banyak bicara lagi. Sekarang jelaskan sama Mbak, kenapa hal ini bisa terjadi. Apa yang saja yang sudah kalian lakukan," bungkam Mika.

"Mbak, sebenarnya …."

"Mas seperti ini pasti gara-gara perempuan tidak malu itu kan. Dia yang duluan menggoda Mas Radit. Mas Radit dulu sangat setia sama Adel, Mbak," potong Adelia masih mempercayai Radit dan lebih menyalahkan Ningsih.

"Ningsih, apa itu benar?" tuntut Mika.

Ningsih menoleh ke arah Mika. Sontak dia menggeleng kepala. Berkata secara bisu jika apa yang dituduh Adelia salah. Dia tidak pernah menggoda Tuannya.

"Halah, mana ada maling yang mau ngaku."

"Adel, kamu tenang dulu. Kita dengarkan pertanyaan belasan dari mereka berdua."

"Terus menurut Mbak siapa yang salah kalau bukan pembantu ini. Apa Mbak mau menyalahkan adik Mbak yang sudah Mbak kenal puluhan tahun dibandingkan pembantu yang masih bau kencur ini," kekeh Adelia.

"Kamu jangan menyalahkan Ningsih terus," bela Radit.

"Apa? Mas mau mengakui ini salah Mas gitu?"

"Semua ini salah kamu. Kamu penyebab semua ini terjadi," geram Radit atas sikap Adelia yang tidak pernah berkaca.

"Kok malah jadi salah Adel? Adel ini korban, loh. Mas kalau mau nuduh lihat situasi dong," sela Adelia.

"Iya Radit, kenapa malah semua ini salah Adel?" kritik Mika tidak setuju tuduhan sang adik.

"Paling Mas Radit cari alasan buat ngebela simpanannya. Simpan kok di kamar, ya cepat busuk lah."

"Adel, kamu jangan mancing lagi."

"Apa sih Mbak. Apa yang Adel bilang benarkan. Ketahuan selingkuh malah nuduh Adel yang salah. Kayaknya otak Mas Radit sudah terkontaminasi sama pembantu busuk ini."

Mika memilih kening yang mulai sakit. Dari tadi mereka hanya berputar-putar terus. Bagaimana masalah bisa selesai jika mereka seperti anak kecil. Tahu begini dia memilih pulang tadi.

"Oke, kamu tanya kenapa Mas selingkuh dari kamu. Mas akan jawab. Itu semua karena kamu tidak bisa menjadi istri yang baik," tekan Radit.

"Maksud Mas bukan istri yang baik bagaimana?"

"Radit, kamu jangan mengada-ada."

"Mbak diam dulu."

Mika langsung diam. Bukan hak nya juga ikut campur jika mereka tidak minta bantuan. Namun tetap saja ingin tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua.

"Sekarang Mas tanya sama kamu. Kapan terakhir kali kamu melayani Mas? Baik itu lahir maupun batin?"

Bersambung ....

Kira-kira berapa lama ya? 

Komentar

Login untuk melihat komentar!