Dia Nyaris Sempurna
Namun, apakah mungkin seorang lelaki dengan ilmu yang tinggi, keturunan seorang ustaz, berwajah tampan pula, akan bisa berjodoh dengan perempuan sederhana dan penuh kekurangan seperti diriku?

Segera aku menggeleng. Pikiran apa ini? Bagaimana hal seperti itu bisa terlintas? Sungguh tak tahu diri rasanya jika aku berandai-andai seperti itu.

Dia lelaki yang nyaris sempurna. Namanya Muhammad Ayyash, seseorang yang sudah kukagumi sejak diri ini bahkan masih belum mengenal arti cinta yang sesungguhnya.

Selepas perceraian ayah dan ibu, kami sempat mengalami keterpurukan. Ibu tak sanggup lagi membayar uang kontrakan, hingga akhirnya kami diharuskan untuk segera pergi. 

Bersyukur, teman ibu memberitahu kami kalau Pesantren An Najah membutuhkan tukang masak untuk menyediakan makanan bagi para santri. 

Ibu kemudian menemui Ustaz Muzzammil, ayah dari Ustaz Ayyasy, untuk melamar menjadi tukang masak di pesantren. Alhamdulillah, ibu diterima. 


Bahkan, kami diberi fasilitas tempat tinggal. Sejak saat itulah kami tinggal di lingkungan pesantren. 


Aku bertemu dengannya saat pertama kali menginjakkan kaki di Pesantren An Najah. Saat itu, kami tidak tahu jalan menuju asrama putri. Lalu, ibu meminta bantuan Ustaz Ayyash remaja yang sedang berjalan bersama dua santri lain. 


Dengan ramah, Ustaz Ayyash mengantar kami, sambil sesekali aku dan dia saling melempar pandang. Entahlah, apa mungkin itu hanya perasaanku saja. 


Momen paling mengesankan adalah saat secara tak sengaja, tasku terjatuh, dan ia dengan sigap mengambilkannya. Sebuah desiran aneh muncul di hatiku. Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Aku bersyukur selain tinggal di lingkungan pesantren, juga jadi bisa ikut belajar bersama para santriwati. Hampir semua kelas kegiatan kuikuti layaknya santri lain. Hanya kegiatan tertentu yang membutuhkan dana lebihlah, yang tak bisa kuikuti.

Setelah lulus setingkat SMA, aku kembali bertemu dengan Ustaz Ayyash yang saat itu sudah menjadi kakak senior. Aku sering membantu Ibu menitipkan kue buatan Ibu untuk dijual juga di toko herbal yang saat itu dijaga Ustaz Ayyash. 

Seiring waktu, toko herbal yang dikelola Ustaz Ayyash juga mulai mengembangkan bisnis dengan menjual barang toko secara online. Aku sering ikut membantu mengemas paket untuk pengiriman.

Pada saat itulah, seringkali mata ini melirik ke arahnya. Astaghfirulloh, jangan ditiru, ya, karena sebenarnya, hal itu kurang baik untuk kesehatan hati, he he.

"Izzah," panggilan ibu itu sontak membuatku tersadar dari lamunan. Ia lantas masuk ke kamar dan duduk di sampingku.

"Euh, iya, Bu?" tanyaku.

"Ifah baru saja pulang. Alhamdulillah, ya, adik kamu itu tumbuh dengan sangat baik," ujar ibu dengan wajah semringah.

"Euh, iya, Bu," jawabku tanpa minat.

"Zah. Kok, ibu jadi kepikiran, ya, bener pingin kamu cepat nikah. Sebenarnya, sebelum Ifah datang, ibu sudah kepikiran tentang hal itu. Usia kamu juga, kan, udah cocok untuk menikah," lanju ibu.

"Duh, itu lagi. Izzah masih belum terpikir, Bu. Ini aja Izzah belum bisa ngebahagiain Ibu. Masih belum bisa mandiri dan jadi orang sukses. Duh, rasanya benar-benar belum siap, Bu," sanggahku.

"Hm, gitu. Tapi, buat ibu, kalau kamu nikah, itu malah jadi kebahagiaan tersendiri, Zah. Rasanya lega. Meski ibu belum bisa jadi ibu yang baik dan memberi banyak hal buat kamu." Ibu tertunduk dan mulai terdengar isak yang tertahan dari bibirnya.

"Ya, Allah. Ibu kok, ngomongnya gitu? Justru Izzah yang belum bisa membalas semua yang udah Ibu beri. Izzah yang masih banyak kekurangan, Bu," timpalku dengan rasa penyesalan.

Sejak hari itu, hampir setiap hari ibu menanyakan tentang kesiapanku untuk menikah. Juga, mulai menawariku untuk dijodohkan dengan beberapa pria yang menurutnya cocok. Duh, aku jadi pusing sendiri.

Sampai akhirnya, hari itu salah satu santriwati mengabariku kalau ibu tiba-tiba saja pingsan dan sudah dibawa ke rumah sakit. Astaghfirulloh, aku kaget luar biasa. Sebab, ibu tampak baik-baik saja saat berangkat ke dapur pesantren tadi pagi.

Dengan tergesa, aku segera berlari menuju ruang UKS Pesantren. Tiba di sana, ternyata sudah ada mobil ambulans yang disiapkan pihak pesantren untuk membawa ibu ke rumah sakit. 

Ya Allah, ada apa dengan ibu? Biasanya, beliau selalu kuat. Rasa-rasanya, tak pernah tiba-tiba pingsan seperti ini.

Tanyaku itu akhirnya terjawab setelah dokter memeriksa kondisi ibu.

"Ada penyumbatan di jantung ibu Adek. Untuk bisa menyembuhkannya seperti sedia kala, perlu dilakukan operasi by pass," jelas sang dokter.

Jujur, aku merasa begitu kaget dan tak menyangka mendengar hal ini. Sebab, selama ini ibu tampak baik-baik saja dan tak pernah mengeluh sakit. Apa ibu memang sengaja menyembunyikan rasa sakitnya dariku, ya?

Lebih mencengangkan lagi, ketika dokter menyampaikan perkiraan biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi tersebut. Ya, Allah, itu adalah jumlah yang sangat besar.

Entah dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Kata dokter, operasi harus segera dilakukan demi menyelamatkan nyawa ibu.

Ya, Allah, apa yang harus hamba lakukan? Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?



**


Baca juga cerita saya lainnya, yaa

1. Bukan Salah Jodoh
2. Mendadak Menikahi Nona Muda
3. Dinikahkan Sejak Kecil
4. Gadis Buruk Rupa Menjadi Kaya