Ayah Memilih Istri Barunya
Jangan lupa subscribe yaa ^^

*

Ya, udah. Kakak pergi aja sama surga Kakak. Semoga nanti enggak akan menyesal dengan pilihan itu." Tak kusangka, kata-kata itu keluar dari mulut Adik yang amat kusayangi. Ia lalu berjalan mendekati Ayah dan berdiri di sebelahnya. Sungguh tampak selayaknya potret keluarga bahagia. Kontras sekali dengan hatiku yang terasa teriris-iris.

Dua sudut garis bibir mereka terangkat, tapi tampak bagai seringaian dalam penglihatanku. Siapa mereka? Bukankah mereka orang-orang yang kucintai? Tapi, mengapa kini tampak begitu asing dan mengucilkanku? Ayah, adikku yang manis? Kenapa kalian berubah jadi seperti ini?

Lututku terasa lemas, tubuh ini mundur perlahan tanpa dikomandoi. Hingga dua telapak tangan terasa memegang pundakku.

"Izzah, kamu di sini?" Aku berbalik. Itulah suara surgaku.

Dapat kulihat dua bola mata Ibu sempat tertahan pada tiga sosok di hadapan kami. Pertama ke arah Ayah, perempuan di sampingnya, lalu lama sekali ia menatap Hingga bulir bening muncul menggenangi matanya.

Ibu, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ibu harus bercerai dengan Ayah? Mengapa Ia mesti menikah lagi dan membuat dua orang yang kusayangi berubah menjadi orang yang tak bisa kukenali lagi?

"Irma, Irma. Kamu yakin datang ke sini dengan pakaian seperti itu? Ish, ish. Untung saja tidak ada yang mengenali kalau kamu adalah mantan istriku." Ayah berdecak.

Apa ini? Kenapa Ayah tega bicara seperti itu?

"Tenang saja, kami tidak akan lama, kok. Mungkin, Izzah hanya ingin memberikan hadiah. Setelah itu, kami akan langsung pergi," ucap Ibu sinis. 

Ibu lantas membuka tas sandangnya, lalu mengeluarkan dua kotak terbungkus kertas kado. Yang satu bermotif batik, satu lagi berwarna pink dengan gambar Hello Kitty.

"Ini. Izzah membelikan kalian kado. Terimalah!" Ibu menyodorkan dua kotak itu pada mereka. Netra Ayah tampak memindai dua kotak itu, sebelum akhirnya ia mengambil kotak itu dengan raut wajah tanpa minat.

"Baik, kami rasa, sudah saatnya untuk pergi. Kami permisi dulu," pamit Ibu. Matanya kembali terarah pada Ifah. Ibu lalu berjongkok dan memeluk Ifah erat.

"Ifah, ikut Ibu, yuk, Nak!" Akhirnya, Ibu luluh juga. Runtuh sudah pertahanan diri yang selama ini ia bangun. Tentu saja, Ibu mana yang bisa berpisah dengan buah hatinya begitu saja, 'kan?

Terdengar isak tangis Ibu yang membuat hatiku terasa nyeri. Namun, tak lama Ifah melepaskan pelukan dan tangan Ibu yang tadi melingkar di punggungnya.

"Maaf, Bu. Adel maunya tinggal sama Ayah dan Mommy. Ibu sama Kak Izzah aja," ucap Ifah dingin.

Ibu hanya mampu tertunduk, lalu mengarahkan netranya pada Ayah dan istri barunya. Ibu berdiri lalu berkata, "tolong jaga Ifah baik-baik, ya, Mas." Ibu menyusut air mata dengan telunjuknya.

"Heh, tentu saja, Irma. Aku pasti bisa menjaganya dengan baik. Semoga kau juga bisa menjaga Izzah dengan baik," ucap Ayah dengan nada meremehkan.

Jujur, hatiku benar-benar terasa pedih sekali melihat Ibu diperlakukan seperti itu. Entah apa yang telah merasuki Ayah dan Ifah hingga mereka bisa setega itu memperlakukan kami seperti ini.

"Ayo, Mas, kita sudah ditunggu banyak tamu." Si Mommy baru Ifah itu akhirnya buka suara. Senyum kemenangan tampak menghiasi wajah dengan make up tebalnya.

Bagiku, ia tak tampak cantik sama sekali, hanya berupa polesan dan pakaian bagus yang melekat di tubuhnya. Bukankah semua perempuan bisa tampak cantik jika memakai sesuatu yang serba cantik seperti itu

"Oke, Sayang. Irma, Izzah, Ayah pergi dulu, ya, semoga kalian bisa hidup dengan baik. Engfak usah buru-buru pulang. Nikmati saja dulu makanan yang ada di sini. Pasti jarang, kan, kalian bisa makan enak dan mewah seperti yang ada di sini?" Kata-kata Ayah begitu merendahkan, begitu dalam menusuk hati ini. Hingga aku takkan pernah bisa lupa kata-kata itu.

"Oya, ngomong-ngomong, terima kasih untuk hadiahnya." Ayah menyunggingkan senyum miring yang tampak meremehkan. Senyum yang sama juga kudapati pada wajah Si Mommy baru. 

Hanya Ifah yang tampak dingin dan nyaris tanpa ekspresi. Mungkinkah ia memendam kesedihan di dalam hati? Entahlah. Setelahnya, mereka berbalik tanpa pernah menengok lagi.

Ibu masih memandangi punggung mereka yang kian jauh dengan isakan yang ia tahan. Sementara aku? Bahkan, aku rasanya tak sanggup lagi untuk merasa sedih dan meneteskan air mata, saking sakitnya rasa hati ini oleh sebab ucapan mereka.

Aku tidak akan pernah lupa hari itu, hari di mana Ayah dan Ifah memulai hidup barunya. Juga aku, dengan hati dan tekad yang baru. Hatiku yang panas dan diliputi kepedihan ini seakan merapalkan janji akan kubalas semua perbuatan mereka hari ini. Akan kubuktikan bahwa aku dapat hidup lebih baik dan lebih sukses dibandingkan mereka.


***

Ikuti juga cerita saya lainnya, ya ...

1. Bukan Salah Jodoh
2. Mendadak Menikahi Nona Muda
3. Dinikahkan Sejak Kecil
4. Dihina Miskin dan Jelek Padahal Kaya