Diminta Menikah
Mataku menyipit ketika menangkap sosok itu mendekat. Seorang gadis berambut sebahu dengan polesan make up natural pada wajahnya. Dress elegan selutut berwarna putih gading membalut tubuh tinggi dan ramping itu.

Penampilannya selayak model iklan yang biasa muncul di televisi. Meski kacamata hitam menutupi area matanya, aku tetap dapat mengenali wajah yang telah lama tak pernah muncul di hadapanku itu.

Gaya berjalannya yang berlenggak-lenggok kemudian terhenti. Tangan kanan melepas kaca mata hitam hingga kini tampaklah dua bola bundar yang dahulu begitu bening dan sendu. 

Dia tumbuh dengan baik. Wajah halus terawat, pakaian modis dan anggun, sepertinya, semua yang ia pakai dari produk bermerk. Berbeda sekali denganku yang tanpa make up, kerudung lebar dan gamis lusuh seadanya. Mungkin, ia berpikir, kalau aku benar-benar tak bisa merawat diri.

Cukup lama kami membeku dan bersitatap hingga akhirnya dia lebih dulu membuka suara.

"Kakaaak!" panggilnya dengan ekspresi wajah ceria dan ramah. Sungguh berbeda dengan terakhir kali kami bertemu. Ia berlari menghambur ke dalam pelukanku. 

Hey, ada apa ini? Bukankah terakhir kali ia enggan kupeluk hingga melepaskan tanganku yang baru saja hendak memeluknya?

Kemudian, kurelai tangannya agar ia melepaskan pelukan yang aneh ini. Meski sejujurnya, sisi hatiku yang lain pun merasa sangat merindukannya.

"Siapa, ya, manggil saya Kakak? Anda enggak salah orang, 'kan?"

"Iih, Kakak! Kok, gitu, sih, ngomongnya? Enggak kangen, ya, sama aku? Aku udah capek-capek, loh, cari alamat rumah ini saking kangennya," rengeknya.

Whoyaa? Kok bisa? Bukannya terakhir kali, dia yang memutuskan hubungan dengan kami? Kenapa sekarang tiba-tiba jadi sok akrab begini? 


Namun, sejujurnya, aku merasa melayang juga mendengar ucapannya itu. Benarkah ia sungguh-sungguh merindukan kami hingga mencari-cari alamat rumah ini?


Meski merasa begitu, aku tetap memasang ekspresi dingin agar ia tak semudah itu menganggap kalau ia telah bisa meluluhkan hatiku.


"Oya, Kak. Ibu mana? Gimana kabar ibu dan Kakak selama ini?" tanyanya lagi.


Benarkah ia sungguh-sungguh merindukan kami?


"Ibu masih di dapur pesantren
 Ada sedikit urusan. Kakak yang jaga warung. Ini kamu beneran, Fah, kangen sama kami?" tanyaku sinis.


"Eits, Kakak lupa, ya, kalau namaku sekarang Adel, bukan Ifah lagi?" katanya tanpa menggubris tanyaku.



Benar, 'kan? Dia ternyata masih belum berubah.


"Hm, iya, deh. Adel," sebutku dengan malas.


"Nah, gitu, dong! He he. Ayo, Kak. Kita duduk, yuk! Sekalian mau liat warung Ibu," ajaknya seraya merangkul tanganku. Sok mesra!


Aku mengajaknya ke warung cilok kuah sederhana kami, lalu mempersilakannya duduk. Kubuatkan seporsi cilok kuah dan segelas teh manis.


"Ini. Tahu, deh, kamu doyan atau enggak." Kuangsurkan semangkuk cilok kuah yang masih panas ke arahnya.


"Ini bakso, Kak?" tanyanya dengan kening berkerut.
Matanya memerhatikan cilok yang baru saja ia sendok.


"Cilok kuah. Udah, dicoba aja!" jawabku enggan.


"Hehe, iya, Kak." Ia sedikit tertawa.


Dengan ragu, ia memasukkan cilok di sendok ke dalam mulut. Dari ekspresi wajahnya, kutebak ia tak begitu suka makanan ini.


Selesai mengunyah cilok tadi, ia lalu mengajakku bicara serius.


"Alhamdulillah, deh. Kalau Kakak dan Ibu sehat dan dalam keadaan baik. Aku jadi merasa lega." Ia kemudian menyeruput teh manis di hadapannya.


"Umm ... gini, Kak. Aku mau mengabari Kakak dan Ibu. Alhamdulillah, aku sudah dilamar dan sebentar lagi akan menikah." Ifah, eh, Adel lalu memperlihatkan cincin berlian yang tersemat di jari manisnya. Kilauannya sempat membuat mataku menyipit.


Jadi, dia sengaja mencari kami untuk menyampaikan hal itu? Bagus juga, sih. Berarti dia masih menganggap kami sebagai keluarga.

"Kalau Kakak sendiri gimana? Apa Kakak udah nikah?" tanya itu seketika membuat mataku membulat. 

"Euh, itu ... calon suami pun, Kakak belum punya, Del."

"Oya?" Adel terbelalak. Tak kusangka reaksinya akan sekaget itu.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Duh, gawat ini," gumamnya.

"Gawat kenapa?" Alisku berkerut.

"Oh, enggak. Engg ... jadi gini, Kak. Calon suami Adel itu, kan, dari keluarga terpandang. Keluarga Mangkudihardjo. Kakak pasti pernah dengar, 'kan? Itu loh, pemilik perusahaan batik Mangkudihardjo yang udah go internasional."

Aku kembali mengernyit. Maklum, jarang nonton televisi atau baca berita. Jadi, enggak begitu paham dengan yang Adel katakan.

"Kakak enggak tahu, Del."

"Serius? Ya, ampun. Padahal, perusahaan itu udah terkenal banget di seantero Indonesia, loh!"

"Hm," gumamku. Ini dia mau pamer atau apa, ya?

"Jadi, gini, Kak. Ibu dari calon suamiku itu, orang Jawa yang masih kental sekali memegang adat. Untuk urusan tanggal pernikahan saja, benar-benar harus sesuai primbon."

Alis kananku terangkat. Sungguh tak tertarik dengan apa yang dikatakannya.

"Dia juga sangat wanti-wanti soal pernikahan. Katanya, tak ada yang boleh menikah melangkahi seorang kakak. Apalagi, kakak perempuan. Nanti, khawatir berat jodoh dan jadi perawan tua."

"Ish. Kakak, sih, enggak percaya dengan hal semacam itu, Del. Dalam Islam juga, enggak ada larangan seorang adik menikah lebih dulu sebelum kakaknya."

"Iya, sih, Kak. Ngerti. Tapi, ini loh, calon mertua Adel ini bener-bener masih memegang adat. Masih kolot. Jadi, enggak bisa dinasihatin kayak gitu."

"Oh, gitu."

"Karena itu, Adel harap, Kakak bisa nikah lebih dulu. Supaya Adel bisa mewujudkan keinginan kami untuk segera naik pelaminan."

Mataku seketika membulat. Apa-apaan ini? Menikah? Apa aku tak salah dengar?
Mau menikah dengan siapa? Calon suami saja belum ada.


**


Baca juga cerita saya lainnya, yaa

1. Bukan Salah Jodoh
2. Mendadak Menikahi Nona Muda
3. Dinikahkan Sejak Kecil
4. Gadis Miskin Menjadi Kaya