Ayah Menikah Lagi
Jangan lupa subscribe untuk dapat notifikasi dari cerita ini, ya

*


"Bu, ini hari pernikahan Ayah, 'kan? Ayo, dong, Bu, kita ke pestanya. Aku kangen banget sama Ifah," rengekku. Namun, Ibu hanya terdiam. Mengapa Ibu tak antusias seperti diriku? Padahal, aku ingin sekali bisa bertemu dengan Arifah dan Ayah.

"Ayolah, Bu. Katanya, kan, Ayah dan Arifah akan pergi ke Inggris, mungkin ini terakhir kali kita bisa bertemu dengan mereka. Ayolah, Bu." Kembali kuguncang-guncangkan tangan Ibu, berharap ia bereaksi.

"Tapi, itu tempatnya jauh. Di hotel bintang lima lagi. Kita enggak punya baju yang cocok untuk dipakai ke sana. Malu nanti," jawab Ibu kemudian.

"Ya, udah, Bu. Kita pakai baju Lebaran aja. Itu kan, masih bagus. Yang penting, kita bisa ketemu sama mereka. Ya, ya, Bu?" pintaku memelas. Aku benar-benar berharap hati Ibu akan luluh dan kami bisa bersama-sama menghadiri pesta pernikahan itu.

Syukurlah, akhirnya, Ibu mau juga memenuhi permintaanku. Hari itu, kami bersiap-siap dengan memakai baju terbaik yang kami miliki. Aku bahkan sudah menyiapkan kado khusus buat Ayah dan Ifah.

Untuk Ayah, aku siapkan topi berwarna hitam. Sementara untuk Ifah, aku belikan ia sebuah bros berbentuk pita terbuat dari perak. Manis sekali, sama seperti Ifah. Bros yang sama juga kubeli satu untukku. Jadi, nanti kami bisa memakainya bersama-sama. Dapat kubayangkan bagaimana reaksi Ifah nanti saat menerima hadiah ini. Ah, ia pasti akan suka sekali. 

Kami berangkat dengan perasaan campur aduk. Ibu tampak terus terdiam. Sepertinya, ia memendam kesedihan yang mendalam. Sementara aku, ada sedih yang melintas, tetapi, rasa bahagia dan antusias untuk bertemu, lebih terasa mendominasi ruang hatiku.

Akhirnya, kami pun sampai di hotel mewah di daerah Jakarta Barat. Dapat kubaca, nama hotelnya adalah "Hotel Uthopia". Masya Allah, cantik dan mewah sekali. Hotel itu berdinding warna putih dengan ornamen yang mengesankan gaya modern. 

Memasuki lobi, aku merasa terus terpana dengan dinding marmer dan pernak pernik yang menghiasi hotel. Hingga seorang petugas menghentikan langkah kami. Ia memindai penampilan kami dari kepala hingga ujung kaki.

"Maaf, Bu. Yang boleh masuk ke tempat ini hanyalah tamu undangan," ucap petugas itu dengan ekspresi datar, tapi tegas.

Ibu lantas membuka tas sandangnya dan mengeluarkan kartu undangan, lalu menyerahkannya pada petugas itu. 

"Ini, 'kan, undangannya?" kata Ibu sinis.

Sang petugas memerhatikan kartu undangan dengan saksama. Tak lama kemudian, ekspresi wajahnya berubah dengan mata membulat. "Oh, iya, Bu. Maafkan sikap saya sebelumnya. Mari, silakan masuk!" 

Petugas itu lalu membukakan pintu ruangan tempat pesta dilangsungkan.

Kembali aku merasa terperangah memandangi kemewahan dan keindahan yang tak pernah kulihat secara langsung sebelumnya. Paling-paling, hanya di televisi. 

Dekorasi ruangan didominasi warna putih dengan hiasan rangkaian bunga di sana-sini. Tak mau menunggu lama, aku segera mencari sosok yang kurindukan. Kususuri orang-orang yang menatap kami dengan pandangan aneh. Hingga Ibu agak tertinggal karena kesulitan mengejarku yang terburu-buru.

Hingga akhirnya, aku menemukan sosok itu. Gadis cantik dengan dress putih rok lebar, selayaknya tuan putri. Di kepalanya, terdapat pita yang menguncir sebagian rambutnya di tengah. Sementara poninya, ia biarkan menutupi dahi dengan tertata rapi.

"Ifah! Ifah!" panggilku. Namun, ia masih belum juga menengok. "Ifaaah!" teriakku kemudian. Bukan hanya Ifah yang menoleh, tetapi juga orang-orang di sekitarnya berdiri.

Ifah lalu mendekatiku. "Kak Izzah, Ibu."

Baru saja aku mau memeluknya, ia langsung menahan tanganku.

"Namaku sekarang bukan Ifah, tapi Adel," ucap Ifah. Belum lagi selesai rasa terkejut akan aksinya menahan tanganku, kini ia mengejutkanku lagi dengan kata-katanya barusan.

"Adel? Nama dari mana itu?"

"Dari Mommy. Katanya, nama Arifah itu kampungan. Jadi, ia kasih nama aku yang lebih cantik. Adelia Venusa."

Dahiku mengernyit. "Mommy? Siapa itu?"

"Ya, Ibu baruku. Siapa lagi? Dia cantik, kaya, dan baik banget. Enggak suka marah-marah kayak Ibu," jawabnya membuatku merasa berang.

"Ifah, Ibu itu Ibu kandung kita. Kalaupun ia marah, itu pastinya demi kebaikan kita!" tegasku.

"Adel. Namaku sekarang Adel. Terserah, deh, Kak. Aku emang sayang, sih, sama Ibu. Tapi, aku juga senang sekarang. Yang tadinya sedih kehilangan Ibu, sekarang udah enggak begitu terasa lagi. Karena aku punya banyak mainan, baju bagus. Terus, Ayah dan Mommy sering ajak jalan-jalan ke tempat seru."

"Tutup mulut kamu, Ifah! Kok, kamu bisa, sih, ngomong gitu tentang Ibu? Oh, jadi sekarang, kamu sudah senang karena jadi orang kaya, gitu?"

"Iya, dong! Kakak kalau mau, masih bisa, kok, ikut dengan kami. Nanti kakak bisa jadi cantik juga kayak aku gini. Enggak pake baju jelek kayak gitu lagi."

"Astaghfirulloh. Keterlaluan kamu, Fah!" Hatiku terasa begitu nyeri mendengar perkataan Ifah barusan. Kulirik Ibu yang sedang berjalan mendekati kami. Kerudung dan baju lusuhnya, juga wajah kusamnya yang tak tersentuh make up, sungguh berbeda dengan orang-orang yang ada di sini, termasuk Ifah.

Lalu, netraku kembali kuarahkan pada Ifah. Kutatap dua bola matanya tajam.
"Surga itu ada di telapak kaki Ibu. Tanpa Ibu, maka tak ada surga. Maaf Iffah, Kakak tetap milih bersama surga kita," jelasku mantap.

Kemudian, kudengar tawa dari belakangku. Aku pun menengok. Dua orang berpakaian serasi berwarna putih, tengah berdiri dengan senyum sinis terukir di wajahnya. Itu adalah Ayah dan perempuan cantik di sebelahnya, pastilah istri baru Ayah.

"Ya, udah. Kakak pergi aja sama surga Kakak. Semoga nanti enggak akan menyesal dengan pilihan itu." Tak kusangka, kata-kata itu keluar dari mulut Adik yang amat kusayangi. Ia lalu berjalan mendekati Ayah dan berdiri di sebelahnya. Sungguh tampak selayaknya potret  keluarga bahagia. Kontras sekali dengan hatiku yang terasa teriris-iris.

Dua sudut garis bibir mereka terangkat, tapi tampak bagai seringaian dalam penglihatanku. Siapa mereka? Bukankah mereka orang-orang yang kucintai? Tapi, mengapa kini tampak begitu asing dan mengucilkanku? Ayah, adikku yang manis? Kenapa kalian berubah jadi seperti ini?


***

Ikuti juga cerita saya lainnya, ya ...

**


Baca juga cerita saya lainnya, yaa

1. Bukan Salah Jodoh
2. Mendadak Menikahi Nona Muda
3. Dinikahkan Sejak Kecil
4. Gadis Buruk Rupa Menjadi Kaya