Seseorang yang Mengusik
Mataku seketika membulat. Apa-apaan ini? Menikah? Mau menikah dengan siapa? Calon suami saja belum ada.

"Memangnya kamu pikir, nikah itu main-main apa? Kakak belum punya calon suami. Apalagi, sebentar lagi bulan Ramadhan akan segera tiba. Maaf, Del. Kakak enggak bisa memenuhi permintaan kamu," jawabku ketus.

"Ayolah, Kak. Plis. Soalnya, satu-satunya tanggal baik bagi kami untuk menikah itu, ya ... setelah Lebaran. Kata Simbok, kalau enggak menikah pada saat itu, maka kami belum bisa menikah tahun ini dan harus ditunda tahun depan." Ifah masih terus berusaha membujukku.

"Simbok? Siapa itu?" tanyaku dengan alis berkerut.

"Calon mertua Adel, Kak."

"Oh, hm. Ya, udah. Nikah ya, nikah aja. Kakak juga enggak masalah, kok, kalau dilangkahi," jawabku cuek.

"Masalahnya, kata Simbok, kalau adik perempuan melangkahi kakaknya, nanti akan terjadi malapetaka dalam rumah tangga. Ada aja masalah yang bikin pernikahan jadi enggak langgeng," sergah Ifah dengan wajah sedikit memelas.

"Ooh. Kakak ngerti sekarang. Jadi, sebenarnya kamu datang ke sini, mencari kakak dan ibu, itu bukan karena kamu kangen sama kami, 'kan? Tapi, karena ingin pernikahan kamu bisa berjalan sesuai keinginan calon mertuamu itu, 'kan?!" tanyaku dengan nada sedikit meninggi. Jujur, hatiku semakin merasa kesal mendengar ucapannya.

"Yaa ... itu ...." Ifah terlihat mencari-cari alasan.

"Kenapa enggak sekalian aja, sih, Del, kamu bilang kalau udah enggak punya kakak dan ibu lagi? Bilang aja kalau kami udah enggak ada. Beres, 'kan? Jadi, kamu enggak perlu dateng ke sini dan minta tolong sama kakak." Nada suaraku kali ini meninggi. 

Namun, Ifah tampak tertunduk dan memasang wajah sedih. Ada apa ini? Tingkahnya itu membuatku merasa tak enak hati saja.

"Assalamu'alaykum!" Sebuah suara membuyarkan keheningan yang tercipta di antara aku dan Ifah.

Kami sama-sama menengok ke arah sumber suara. 

"Wa'alaykumussalam," jawab kami hampir bersamaan. Ada Ibu yang sedang berdiri tegak dengan kantong kresek hitam tergenggam di tangan kanan dan kirinya.

"Lagi ada tamu, ya, Zah?" tanya ibu seraya menatapku dan Ifah bergantian.

"Ibu!" Ifah langsung menghambur ke pelukan perempuan yang telah melahirkannya.

Kantong kresek yang dipegang ibu seketika terlepas dan jatuh ke lantai. Ibu tampak sangat tersentak dengan hal yang begitu mendadak terjadi. Hal yang mungkin tak pernah terlintas dalam pikiran sebelumnya.

"Ifah, ini kamu, 'Nak?" tanya ibu seraya membalas pelukan. Bagaimanalah,  sudah sekitar tiga belas tahun Ifah pergi dari kehidupan kami. Tentu saja, hati ibu sudah dipenuhi oleh rasa rindu yang bertumpuk kepadanya.

"Iya, Bu. Ini Ifah. Ifah kangen banget sama ibu," rengek Ifah. 

Ibu memperat dekapannya. Suara isakan terdengar dari bibir mereka. Lalu, Ifah berjongkok, dan memegang kaki ibu. Hal yang membuat ibu cukup terkaget dibuatnya. Aku sendiri pun tak menyangka bahwa Ifah akan melakukan hal semacam itu.

"Maafin Ifah, ya, Bu. Ifah udah ninggalin Ibu," mohon Ifah sambil menangis.


Tumben, dia mau menyebut nama itu lagi. Bukankah sebelumnya ia tetap minta dipanggil Adel?

Bak sedang menonton sebuah pertunjukan drama, aku menyaksikan betapa Ifah tampak begitu tulus meminta maaf. Ibu lalu mengangkat tubuh Ifah agar kembali berdiri dan merengkuhnya dalam pelukan.

"Enggak apa-apa, Ifah. Dulu, kan, kamu masih kecil. ibu maklum, kok. Ibu juga kangen banget sama kamu, 'Nak." Ibu mengusap rambut Ifah. Terlihat sekali kerinduan dan rasa sayang dari wajah ibu yang kini berurai air mata.

Andai saja aku tak tahu sifat asli Ifah, mungkin aku juga akan luluh seperti ibu. Ia memang sangat pandai berakting, sudah seperti ratu drama profesional saja.

"Ayo, duduk dulu." Ifah dan ibu kemudian duduk kembali di salah satu bangku yang ada di warung. "Bagaimana kabar kamu? Sehat dan baik-baik, kan, selama ini?" tanya ibu. 

Matanya tak henti menatap gadis yang masih menahan isak tangis di hadapannya.

"Alhamdulillah Ifah baik, Bu. Malah sebentar lagi, insya Allah Ifah akan segera menikah."

"Wah, masya Allah. Yang bener, Fah? Jadi, karena itu kami mencari kami?" Wajah ibu tampak berseri mendengarnya.

"Iya, Bu. Tentu aja. Ifah ingin banget ngasih kabar ini ke Ibu dan kakak, sekaligus mengundang kalian ke pernikahan nanti," jawab Ifah penuh semangat.

"Wah, gitu, ya? Tapi, ibu boleh kenal dulu siapa calon suami kamu?"

"Boleh banget, dong, Bu! Nanti Ifah kenalin, ya!" 

"Wah, iya, iya. Ibu ingin sekali tahu siapa calon menantu pertama ibu seperti apa." Dengan wajah polos, ibu menyunggingkan senyum. 

Sepertinya, ibu merasa begitu bahagia dengan kabar dari Ifah itu. Ia merasa masih dianggap ibu oleh anak yang dulu telah memilih pergi meninggalkannya.

Sepertinya, misi Ifah akan segera dijalankan. Kusilangkan dua tangan di dada sambil memerhatikan kata-kata selanjutnya yang akan Ifah tuturkan.

"Sayangnya, ada sedikit masalah, Bu. Calon mertua Ifah sangat saklek. Menurut Beliau, kalau dalam keluarga ada adik perempuan yang mau menikah, maka dia enggak boleh melangkahi kakak perempuan menikah lebih dulu. Tapi, tadi, kata Kak Izzah, Kakak belum nikah, ya, Bu?" 

Nah, seperti yang kuduga, Ifah mulai melancarkan maksud dan tujuan yang sebenarnya.

"Oh. Iya, Ifah. Kakakmu memang belum menikah. Tapi, ibu rasa, enggak masalah kalau kamu nikah lebih dulu. Ya, 'kan, Zah?" tanya ibu sambil melirikku.

"Iya, kok, Bu. Izzah enggak masalah," jawabku dengan memasang wajah tertekuk.

"Tapi ...." Lalu Ifah menjelaskan semuanya panjang lebar pada ibu. Bla bla bla. Tentu saja dengan ekspresi wajah mengiba yang sepertinya dengan mudah akan membuat hati ibu luluh.

"Hm, begitu, ya." Ibu menghela napas. Alisnya tampak berkerut, sepertinya turut berat memikirkan solusi dari permasalahan Ifah.

"Karena itu, Ifah sangat berharap Kak Izzah bisa menikah segera, supaya Ifah juga bisa menikah sesuai rencana." Ifah menggenggam tangan ibu. Wajahnya masih tampak memelas. Entah mengapa, melihat itu malah membuat perutku terasa mual.

"Hm, Izzah. Apa kamu benar-benar belum punya calon?" Seketika mataku membulat mendengar pertanyaan ibu.

"Belum, Bu," jawabku seraya menggeleng.

"Hm, apa enggak bisa Bu, Kak Izzah dicarikan calon suami? Dijodohkan gitu?" serobot Ifah.

"Ifah! Memangnya kamu pikir, pernikahan itu main-main apa? Ya, enggak bisa sembarangan juga, dong, cari calon suami?!" sergahku. 

Hatiku benar-benar terasa panas dengan semua tingkah gadis yang padahal baru saja hadir kembali dalam kehidupan kami.

"Eh, tapi, kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Ifah itu enggak ada salahnya juga, kok, Zah. Apalagi, usia kamu juga sudah 24 tahun, sudah sangat cukup untuk segera menikah," ucap ibu kemudian.

Aku menghela napas berat. "Tapi, kan, Bu, enggak semudah itu cari calon suami. Lagipula ... lagipula Izzah enggak mau cepat-cepat ninggalin ibu," jawabku.

"Izzah, enggak ada salahnya, kok, kita usaha cari jodoh buat kamu. Sekalian membantu Ifah, juga untuk kepentingan kamu. Tapi, ibu pastikan, akan mencari jodoh yang terbaik buat putri ibu. Jadi, kamu enggak usah merasa khawatir, ya. Sekalian kita berdoa juga sama Allah. Minta diberikan yang terbaik," nasihat ibu lembut. 

Dapat kulihat Ifah tampak tersenyum-senyum penuh kemenangan mendengar ucapan ibu barusan. Entah mengapa, senyuman itu membuat hatiku terasa kian mendidih.

"Maaf, Bu. Tapi, Izzah enggak mau! Terserah Ifah mau jadi menikah atau enggak. Itu urusan dia!" Setelah berkata begitu, kutinggalkan ibu dan Ifah. 

Rasanya hati tak sanggup berlama-lama lagi berdekatan dengan mereka. Dapat kudengar suara ibu masih memanggil namaku. Maaf Bu, kalau kali ini, aku tak bisa memenuhi keinginanmu. 

Aku terus melangkah masuk ke dalam rumah menuju tempat ternyaman bagiku: kamar. Di sanalah kemudian kutumpahkan segala sesak yang sejak tadi menghimpit.

Ifah, kenapa kamu tiba-tiba datang dan membawa masalah seperti ini? Keadaan yang tadinya damai, kini jadi terasa menyebalkan.

Menikah? Enak saja meminta orang menikah secara mendadak seperti itu. Memangnya aku ini apa? Dipikir mudah mendapatkan jodoh dalam waktu singkat? Apalagi, calon suami saja aku tak punya. 

Meski sebenarnya, telah ada sebuah nama yang diam-diam kusimpan di palung hati terdalam. Seorang lelaki dengan tutur kata lembut dan wajah yang teduh. Dia adalah seorang ustaz muda di pesantren "An Najah", tempat kami sempat tinggal di sana.

Ah, mengenai hal itu, aku jadi kembali teringat akan masa lalu. Saat ayah dan ibu berpisah dan takdir akhirnya membawa aku dan ibu untuk tinggal di lingkungan pesantren. Ya, seperti yang sekarang ini masih kami jalani.

Namun, apakah mungkin seorang lelaki dengan ilmu yang tinggi, keturunan seorang ustaz, berwajah tampan pula, akan bisa berjodoh dengan perempuan sederhana dan penuh kekurangan seperti diriku?



Jangan lupa subscribe, ya ^^