Dendam Kakak Ipar
Tiga
Dendam Kakak  Ipar


“Bu, Non Nayla muntah-muntah…” lapor Bi Inah saat aku sedang mengecek laporan keuangan di kantor. Terang saja aku langsung tancap gas ke rumah.


Begitu aku sampai, Nayla terbaring di kasurnya. Bi Inah pucat pasi. Syukurlah ambulan juga langsung datang, sesuatu telah terjadi. 


“Nayla…Ini Mama…” aku memanggilnya, mata Nayla sudah tertutup, tubuhnya lemas. Ada yang salah, sangat salah.


Tiba di rumah sakit, aku mengikuti kemanapun Nayla di bawa, dokter pun langsung mengambil tindakan cepat. 


“Kami sedang berusaha menyelamatkan nyawa putri Ibu. Sebaiknya Bu Putik langsung melapor ke kepolisian, karena hasil lab menunjukkan jika makanan yang dimakan putri Ibu sudah terkontaminasi bakteri mematikan.”


“Apa Dok??? Anak saya keracunan makanan???”


Belum pernah aku sampai sekalut ini, tiba-tiba saja harus dihadapkan dengan keadaan sulit. Nayla hampir saja tak tertolong jika aku terlambat. Dia masih lemah ketika aku masuk ke ruangan.


“Mama….” Hanya itu yang keluar dari gadis kecil berusia enam tahun itu.


“Iya Nayla Sayang, ini Mama…”


Wajah pucatnya membuatku makin teriris, aku pun langsung menanyakan detail makanan yang dikonsumsi Nayla selama aku di kantor.


“Saya tidak tahu persis, Bu. Tapi sepertinya Non Nayla mencicipi paket makaron yang dikirim tadi siang.”


“Macaron??? Dari siapa Bi???”


“Kata yang mengantar dari Ibu untuk Nayla.”


“Saya??? Saya tidak pesan makanan apapun! ASTAGA!”



*** 



Aku langsung lapor polisi begitu mendengar keterangan dari Bi Inah. Siapa pengirim macaron ke rumahku dan berniat meracuni anak-anakku?


“Bi, kalau ada paket harus lapor ke saya dulu. Ini saya kan masih dalam proses perceraian, pasti banyak pihak yang merasa dirugikan. Makanya kita sekarang harus warpada sama orang asing.”


“Iya, Bu. Maaf jika Bibik sudah salah dan tidak berhati-hati.”


Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan Bi Inah, karena memang si pengirim mencatut namaku untuk mengelabui orang di rumah. Sungguh biadab sekali, jika dia manusia pasti dia manusia yang sudah tidak punya hati.


Polisi mengambil sampel sisa makaron yang masih tergeletak di meja. Mereka akan membawanya ke lab untuk pemeriksaan lebih lanjut. 


Dan ketika aku kembali ke rumah sakit, aku bertemu dengan Mas Barfi. Dia tidak datang sendiri melainkan dengan Diah juga.


Melihat gaya mantan ART ku yang sudah seperti istri dultan itu membuatku menahan mual, entah bagaimana caranya Mas Barfi sampai menyukainya. Dan lihatlah, senyum yang pura-pura polos itu masih terkembang di sudut bibirnya. Keganjenan banget.


"Kamu apakan Nayla!" 


Belum juga aku menjawab, Mas Barfi sudah menyeretku, membuat keributan. Aku tak terima dan berontak. Sebelah tangannya melayang, dengan sigap kutangkis.


Dia tak akan bisa menyakitiku, dengan cara apapun.


"Mengapa tidak kamu tanya dengan Diah, Mas! Bukan kah dia orang yang paling bahagia jika sampai terjadi apa-apa sama Nayla!"


"Bu Putik! Bagaimana bisa Ibu menuduh saya sementara tidak ada bukti."


"Saya akan buktikan, coba saja kamu sembunyi ke lubang semutpun akan saya cari buktinya!"


"Silakan...tapi yang jelas saya tidak ada sangkut pautnya sama musibah yang menimpa Nalya."


"Dan satu lagi saya tekankan sama kamu Diah! Jangan pernah muncul di depan anak saya. Bagaimana mungkin mereka akan terima kamu, mantan baby sitter mereka jadi Ibu tiri! Itu gak banget!"


"Sombong kamu, Bu. Wajar dong kalau Mas Barfi lebih senang cerita ke aku daripada istrinya yang sudah gak berarti apa-apa lagi!"



"Pergi atau saya panggil satpam!"



***



Syukurlah Mas Barfi dan Diah akhirnya pergi. Keadaan Nayla sudah berangsur membaik. Aku tak tinggal diam dengan insiden ini, entah siapa yang sudah terlibat dengan percobaan jahat ini.


Maka ketika hasil pemeriksaan laboratorium keluar, didapatkan keterangan jika macaron itu sudah kadaluarsa. Wajar saja jika Nayla keracunan.


Semua bukti sudah diambil polisi, termasuk kemasan plastik pembungkus paket itu.
Dua minggu menunggu hasil, sebuah keterangan membuatku ternganga. 


Pemesan macaron bukan Diah ataupun Mas Barfi, melainkan akun palsu yang rekening pembayaran atas nama Nansy, kakak iparku.



Ya Tuhan, cobaan seberat ini sungguh membuatku merasa jatuh. Jika bukan karena melihat binar di mata Nayla, mungkin aku memilih pergi dari hidup yang sudah menghimpitku.


Sayangnya aku tak rela hidupku tertindas oleh nasib, aku memilih melenggang dengan elegan. Biarlah...biarlah hari ini Diah bisa tertawa bahagia, tapi besok akan jadi milikku seutuhnya!



***


Nancy ditahan polisi di rumahnya. Kami masih tinggal di kota yang sama; Medan. Dan aku langsung menemui ipar tak tahu diri itu. Dia janda dan hidupnya lebih banyak menumpang dengan kami sebenarnya.


Beberapa bulan dia pernah menumpang, dan aku tak  keberatan. Dia juga membantu merawat Nayla dan Elyash ketika aku sedang sibuk-sibuknya mengelola bisnis. Tapi, sejak hubunganku dengan Mas Barfi retak, Nansy berpihak pada adiknya dan terus menyalahkanku.


"Kamu yang gak bisa merawat diri, makanya Barfi sampai jatuh cinta sama Diah!"
Wanita itu menatapku nyalang, pasti tak menyangka jika polisi berhasil menemukannya.


"Tak tahu terima kasih! Sudah syukur aku baik sama kamu selama ini, rupanya ini balasan kamu ke aku, anak-anakku!"


Dia tertawa, memperlihatkan sisi lain yang tak pernah kusangka. Jika bukan psikopat pasti dia punya bakat terpendam untuk menyakiti orang dengan kejam. Betapa mudahnya segalanya berubah...


Terbayang sosok Nansy yang begitu kupercaya, banyak hal kerap kubagi dengannya. Ternyata sanggup berbuat sehina ini.


"Katakan mengapa kamu ingin aku dan anak-anakku celaka!"


"Karena kamu mengambil semuanya!"


"Itu salah Mas Barfi sendiri! Jika dia berani mempoligami atau menalakku maka seluruh harta kami jadi milikku dan anak-anak. Kamu...pasti tak terima karena akan kehilangan transferan bulanan juga. Jujur saja!"


Dia kembali tertawa, dan aku tahu tawa itu tanda kekalahannya.



***


"Oh, jadi kamu akan memenjarakan Nancy setelah dia banyak membantu kita?"


"Dia Kakak Ipar benalu, untuk apa lagii Aku menampungnya. Mengapa tidak di calon rumah kontrakan kalian saja!"


Mas Barfi marah besar mendengar penghinaanku. Secara aku baru dapat informasi jika dia sedang jencari kontrakan dengan harga miring.


"Belum tentu juga pelakunya Nancy!"



"Biar polisi yang akan menangani, saya hanya melaporkan dan meminta siapapun yang sudah berbuat jahat pada Nayla dihukum berat, walaupun itu tantenya sendiri!"[]


Bersambung...💕🥀🌸