Teror Mama Mertua
Enam
Teror Mama Mertua


PoV Putik


“Kembalikan perhiasan yang pernah Mama kasih ke kamu, Putik! Kamu tidak berhak lagi untuk memakai atau menyimpannya. Lagipula itu kan untuk diwariskan ke cucu Mama. Lah kamunya sekarang…sudah bukan menantu!”


Tiba-tiba saja sebaris pesan berisi kata-kata menohok masuk ke ponselku. Dari Madam Yunita, mantan mertuaku yang entah karena apa sampai mengungkit soal kotak perhiasan.


“Maaf Mama. Ada apa gerangan tiba-tiba Mama pengen mengambil semua perhiasan yang sudah Mama berikan padaku.”


“Menantu gak tahu malu, perhiasan itu sudah gak pantas buat kamu. Serakah sekali, semua dikuasai. Sampai-sampai anak saya hanya bawa baju saja keluar dari rumah yang sudah dengan susah payah dia bangun! Kembalikan keringat Barfi, setiap tetesnya saya tidak rela untuk kamu nikmati!”


Astaga, susah juga menghadapi wanita yang sedang dilanda emosi sepihak. Hanya menilai dari keadaan Mas Barfi sekarang. Padahal, jika saja dia mau menilai dari perspektifku sebagai istri yang diam-diam dipoligami tanpa pemberitahuan, apa masih sanggup meminta harta benda yang sudah diberikan?


Memalukan sebenarnya, katanya ningrat tapi perhitungan. Dan sekarang, aku coba mengingat dimana dan apa saja yang sudah kudapatkan dari Mama. Kotak perhiasan itu bahkan sudah dimasukkan sebagai bagian dari seserahan Mas Barfi. Mana mungkin kukembalikan.


“Tidak bisa, Ma. Kan itu sudah jadi milik pribadi saya.”


“Kalau kamu mau memiliki perhiasan itu, kamu harus tetap jadi menantu di keluarga ini. JIka tidak saya bisa tuntut secara hukum karena itu warisan turun temurun keluarga kami.”


Heuhhh!


Aku menghela napas berat. Secara aku hanya ingin menjaga hakku. Lagipula, taka da salahnya aku sedikit memberi pelajaran pada wanita yang setuju saja saat Mas Barfi menikah siri dengan Diah. 


Dimana nalurinya sebagai sesama perempuan. Masak dia tega berjamaah membohongiku, mengamini perselingkuhan Mas Barfi hingga tertutup rapat dari jangkauanku.


“Silakan saja kalau mau menempuh jalur hukum. Toh, kalau beritanya viral, Mama yang akan saya buat malu.”


“Ngancem kamu???”


“Iya.”


“Awas saja! Saya akan tarik kembali semua kekayaan yang kamu nikmati sekarang. Kamu pikir kamu bisa menjalankan perusahaan hanya berbekal pengalaman kerja secuil!”


Begitulah kalau hubungan sudah retak. Semua hal kecil bermunculan serupa aib yang harus digembar gemborkan. Aku sabar saja, lagipula ini sudah menjadi bagian jalan hidupku. Perpisahan dengan Mas Barfi juga berimbas pada retaknya hubungan dua keluarga. 


Bahkan Mamaku sendiri bilang jika Madam Yunita sudah memblokir kontak WA dan mengeluarkannya dari grup keluarga besar. 
Aku sendiri memang sudah keluar grup begitu akta cerai berhasil kudapatkan. 


Untuk apa berhubungan dengan keluarga yang hanya akan melihat celaku sebagai cara untuk menjatuhkan. Lebih baik aku diam dan bernapas, sebelum melompat tinggi melibas siapapun yang berniat jahat, termasuk Mama mertua.


Ancaman Madam Yunita memang bukan isapan jempol belaka. Satu persatu telepon masuk, membatalkan beberapa kerja sama. Setelah diselidiki, rupanya mereka adalah rekanan keluarga Mas Barfi, masih ada sangkut paut kerabat. Biarlah…aku tak gentar sedikitpun. 


Rejeki Allah yang atur, tinggal cara kita menjemputnya mau dengan cara halal atau haram. Dan aku akan tetap berpijak pada prinsipku, tidak akan menjilat dan memohon-mohon pada mereka yang sudah berkhianat, terprovokasi oleh perkataan Madam Yunita.


*** 


Aku membuka lemari di malam hari, tepat ketika kupastikan kedua anakku sudah tidur. Pukul sembilan tepat dan rumah memang sudah sepi. kedua pelayanku juga sudah beristirahat. 


Kotak itu memang diberikan saat pertunangan. Sepaket dengan gaun pengantin dan beberapa tas bermerek. Kalung, gelang dan cincin. Juga ada kalung mutiara dan berlian warisan keluarga. Setahuku dan seingatku, Mama mengatakan jika aku harus meneruskan warisan itu kepada menantuku kelak.


Jelas sekali terngiang. JIka benar demikian, bukankah kotak perhiasan ini akan jadi hak istri anakku, Elyash jika dia sudah besar nanti. 
Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi, anak Mas Barfi dan Diah juga laki-laki. Dan saat ini, Diah yang diakui sebagai menantu keluarga itu. 


Berpikir keras, akhirnya aku fokus pada satu rencana. Kusimpan kembali kotak perhiasan dan bersiap untuk langkahku esok.


Beruntung sekretarisku mengatakan jika dua hari lagi aku mendapatkan janji temu dengan Bapak Murdani, Papa mertuaku. Beliau memang satu-satunya yang tidak merespon perceraianku dengan Mas Barfi.


Bertemu di lounge Amaritta hotel, Papa Mertuaku masih seperti semula. Tidak ada yang berubah, bahkan dia sangat menyayangkan kegagalan pernikahan kami.


“Papa tidak tahu soal pernikahan rahasia Barfi. Jika Papa tahu sedari awal, pasti akan bisa dicegah. Rupanya, hanya Papa juga kamu yang tidak tahu.”


“Tidak ada yang perlu disesali, Pa. Hanya saja, saya agak terusik dengan keinginan Mama Yunita untuk mengambil kembali perhiasan yang sudah dia berikan. Saya tahu itu memang sangat bernilai, tetapi tidakkah hal putra saya Elyash jadi pertimbangan.”


“Apa??? Yunita menelepon kamu minta dibalikin perhiasan???”


Jika aku tak berterus terang, mungkin Mama akan terus mencecarku. Tapi jika aku mengambil lngkah ini, aku sudah menghitung resiko besar yang akan kutanggung.


“Maaf, saya bukannya mengadu, Pa. Tapi saya harus bicara dengan Papa karena Elyash kan masih cucu Papa walaupun saya dan Mas Barfi sudah bercerai.”


“Itu benar, kamu harus jernih menilai persoalan ini. Saya bisa mengerti mengapa Yunita meminta kembali, saya pikir ini ada hubungannya dengan kondisi Barfi sekarang. Papa ingin anak itu sadar dan bisa mengambil pelajaran dari hidup. Dia sudah menghina Papanya sendiri dengan menikahi ART kamu, Putik.”


“Makasih, Pa. Sekali lagi, saya tidak bermaksud membuat Papa dan Mama Yunita bertengkar karena persoalan ini.”


“Tidak..tidak. Kamu tidak usah respon lagi sekalipun Yunita melaporkan ke polisi. Dia perlu tahu dan sadar jika perhiasan itu sebetulnya juga bukan milik pribadinya. Itu diserahkan oleh Ibu saya kepada Yunita sebagai menatu. Dan diteruskan Yunita ke kamu. Nah, nantinya kamu ke menantu kamu. Begitu yang benar…”


Aku bersyukur atas sikap objektif Papa mertuaku yang tidak memihak. Bagaimanapun, bercerai itu bukan hanya soal perpisahan dua hati, tapi juga menyeret banyak orang yang tadinya satu keluarga besar harus menerima resiko tak nyaman. 


Papa meletakkan ponselnya di meja, di speaker. Sesaat kemudian, sudah kudengar suara renyah Mama Yunita.


“Halo Pah, kenapa telepon. Papah masih di Medan kan?”


“Iya, Papa ketemu Putik dan bicara empat mata. Memang ada keperluan ketemu klien di lounge yang sama. Jadi, Mama benar ingin menarik kembali perhiasan warisan Ibu?”


“Loh, Papa ini gimana…menantu kita yang sekarang itu kan si Diah. Barfi sendiri yang bilang jika dia cinta mati, Mama ya restui saja yang penting Barfi bahagia. Nah, yang Mama gak terima itu, soal harta yang dikuasai Putik. Mama gak tega lihat Barfi dan Diah sekarang menderita Pah!”



“Itu sudah resiko cinta, lagipula salah sendiri mengapa menyia-nyiakan perempuan yang Papa pilihkan untuk Barfi. Kurang apa Putik untuk keluarga kita? Jadi Papa harap, Mama bisa mengerti jika Putik punya dua orang anak, cucu kita. Mereka yang berhak atas perhiasan warisan itu, bukan anak-anak Diah!”



“Papa pasti sudah dipengaruhi perempuan itu kan? Putik pasti sudah bicara macam-macam, fitnah Mama sembarangan sampai Papa bisa ngomong begini ke Mama!”



“Enggak, ini orangnya depan Papa, kok. Santai saja, Putik sudah sangat dewasa mengambil sikap dan keputusan, Ma. Mama tuh yang harus belajar menerima keadaan, biarkan Barfi belajar mengenali cinta yang benar-benar cinta, dan cinta yang hanya nafsu sesaat saja!”



“Terserah Papa! Mama sudah gak peduli lagi mau jadi apa anak dan cucu kita. Jika sampai terjadi apa-apa sama Barfi dan Diah, Papa orang pertama yang akan Mama salahkan karena sudah menelantarkan anak sendiri!”



*** 



Aku sengaja pulang cepat karena urusan kantor juga sudah kuselesaikan lebih awal. Menemani kedua anakku mengerjakan Pe-er sudah jadi hal yang paling kunantikan. 


Keduanya tampak senang karena aku juga menyempatkan memasak makanan kesukaan mereka. 


Tawa riang Nayla dan Elyash yang berkejaran di taman belakang rumah membayar lunas letihku seharian. Menjelang sore, keduanya berenang sementara sebelum aku bermain bersama mereka, aku menyempatkan diri minum segelas es kopi dan membuka koran sore.



“Mantan CEO nekat berjualan di trotoar, demi bertahan hidup setelah kekayaan dikuasai mantan istri.”



Uhukkkk! Aku tersedak demi membaca sebuah judul berita di pojok bawah. Menampakkan dua manusia yang terlihat ngenes banget, namun jelas itu sosok Mas Barfi dan Diah. 



Jadi mereka masih sempat-sempatnya memfitnah dengan judul berita menyudutkan?! 



Menggelegak darah dalam nadi, cobaan demi cobaan datang silih berganti, seperti musim yang tak bisa diprediksi. Jika aku tak kuat, ada banyak pihak yang akan menertawakanku. Dan tawa anak-anakku di kolam renang mungkin akan berubah jadi tangis.



“Mama…ayo buruan! Mama renang juga!” 


Elyash naik dan menyeret tanganku. Sudah selesai kubaca berita itu, semuanya berisi tentang kekejaman istri pertama yang telah merebut harta bersama. 


Sungguh tak beradab fitnah yang ditebarkan pasangan penghianat itu. Mengamuk bukan caraku, berita harus juga dibalas dengan berita, tunggu saja![]


Bersambung...🌸🥀💕