Janda Cerdas
Lima
Janda Cerdas


PoV Putik


Memandang akta cerai yang disimpan di lemari arsip, aku menghela napas berat. Tidak ada satu istripun di dunia ini yang memimpikan untuk jadi seperti diriku sekarang, janda.


Terlebih ketika melihat kenyataan bahwa memang dibalik story Diah, jelas sekali Mas Barfi tersenyum bahagia. Bagaimana mungkin mereka bisa menjalani hidup dan cinta diawali sebuah kebohongan besar.


“Maaf Putik, Kalau Mas terus terang nanti kamunya pasti langsung tendang Mas keluar rumah. Makanya, selama ini kita berdua main di belakang. Gak sampai ketahuan kamu, semua setuju pernikahan kami kecuali….”


“Kecuali siapa? Aku???”


“Kecuali Papa.”


Papa mertuaku memang kenalan Papaku, mereka sahabat sejak memulai bisnis. Itu juga salah satu penyebab aku mau menerima lamaran Mas Barfi, yang bertemu denganku di salah satu acara seminar bisnis. 


Kala itu memang semuanya terlihat rapi dan meyakinkan. Tidak terbersit lelaki yang sepertinya menikahi pekerjaan sebagai istri pertamanya sanggup menduakanku dengan seorang ART.


Mamaku berasal dari kampung yang sama dengan Diah. Saat kami ke rumah Nenek, saat itulah orang tua Diah memohon agar putrinya diberi pekerjaan. Karena kasihan Mama akhirnya mengirim Diah ke rumahku. Diah yang lugu dan penurut, entah dari sudut mana bisa menaklukkan kesetiaan suamiku.


Tidak ada yang bisa dipercaya, selain dirimu sendiri!


Bisikan dalam hati menyadarkan lamunanku, segera kukembalikan akta cerai itu ke dalam map. Memandang jauh ke batas cakrawala di jendela, aku tahu tugasku sangat berat. Tak semudah yang terlihat.


Kedua anakku lah sebenarnya penyemangat paling kuat, yang mampu membuatku tak menyerah meski dilibat masalah. Tidak sedikit karyawan yang meragukan kemampuanku, bahkan terkesan merendahkan karena selama ini aku memang jarang sekali ikut campur urusan kantor.



Tetapi, tidak ada yang tidak mungkin. Berbekal pernah bekerja di perusahaan Papa, akhirnya aku bisa menentukan ke arah mana perusahaan itu akan dikembangkan. 


Tentu saja sebuah beban yang awalnya nyaris memakan seluruh waktu jagaku. Kedekatan dengan kedua buah hati jadi berkurang, namun itulah pengorbanan seorang Ibu.


Di akhir pekan adalah waktu emas. Aku menghabiskan khusus untuk Nayla dan Elyash. Kemanapun mereka ingin pergi, aku menuruti. Seperti akhir pekan lalu, kami menghabiskan seharian di perkebunan stroberry di Berastagi.


Tentu saja aku mengapload foto kebersamaan kami di story. Sontak langsung mendapat respon dari Mas Barfi.


“Mah, Papah beneran nyesel sudah kehilangan momen berharga seperti yang Mamah lewati sama anak-anak sekarang. Plis, maafin Papah…”


“Menyesal? Setelah kamu juga punya anak lain dari Diah. Kalau melihat anak kamu itu, sepertinya kehamilan Diah bukan karena ulah pacarnya, melainkan…”


“Papah khilaf Mah.”


“Khilaf kok sampai punya anak dan bisa senyum lebar di story Diah!”



Tidak dibalas lagi. Pasti tak punya alasan untuk mencari pembenaran. Memang aku yang mengusir Diah ke luar rumah setelah mendapati Diah muntah-muntah di suatu pagi.

 Dari gejalanya, aku tahu Diah sedang berbadan dua. Setelah kupaksa mengaku, akhirnya Diah mengaku jika pelakunya adalah pacarnya. Padahal Iblis itu ada bersamaku. 



*** 



Melewati jalanan kota Medan yang ramai, aku mulai terbiasa dilibat kesibukan sedari pagi. Memang ada asisten dan sekretaris pribadi, tetapi tetap saja aku tak mau kinerjaku kalah dengan mantan suamiku dulu.


Sebetulnya Mas Barfi itu pekerja keras, tetapi cinta rupanya punya jebakan yang tak bisa dia lawan. Mana mungkin aku mau dipoligami apalagi dengan seorang mantan ARTku. 


Enggaklah, aku masih punya harga diri sebagai perempuan sekaligus seorang Ibu yang berusaha menjaga kesucian rumah tanggaku.



Jika kuteruskan pernikahan dengan Mas Barfi, sementara dia sudah menikahi Diah tanpa sepengatahuanku. Tidaklah harmonis lagi hubungan kami, mana mungkin aku sanggup membayangkan membagi hari dan malamku dengan wanita lain. 

Aku bukan bidadari yang dinikahi untuk sebuah ketaatan tertinggi. Aku wanita yang belum mati rasa soal kecemburuan.


Wajar saja jika aku tak bisa mentolerir kebohongan. Ketika cinta lain muncul di hati suamiku, saat itu juga cintaku akan mati. Bagaimana mungkin seorang lelaki mengatakan cinta ke wanita lain, di belakang istrinya yang tetap dituntut setia. Bukankah itu sebuah penghianatan?


Sesampai di kantor, aku mengabiskan beberapa menit untuk  berbicara dengan sekretarisku. Semua agenda hari ini kuingat baik-baik. Dan tak satupun akan terlewati. Menyenangkan sekaligus menegangkan dengan kesibukan baru, namun bahagia karena ini caraku melawan derai tangis yang mencoba melemahkan pertahananku sebagai Ibu.



Masa depan Nayla dan Elyash kini jadi api yang membakar semangat. Jika aku lemah, bagaimana masa depan anakku. Tidak mungkin Mas Barfi bisa diharapkan, bahkan Papanya sendiri saja tak mau menerimanya lagi.


Kabar itu berembus dari seorang rekan yang bekerja di kantor Pak Murdani di Singapura. Dari sana aku taku jika Mas Barfinanda diusir dari kantor Papanya ketika hendak meminta pekerjaan.


Aku senang, artinya tidak semua orang diam dan menyetujui. Walaupun aku juga sakit hati karena Mama mertuaku diam saat Mas Barfi memperkenalkan Diah ke keluarga mereka.


Aku percaya, siapapun yang menghianati cinta murni seorang istri, ada kafarat yang menyertainya. Sebuah penebusan atas cinta yang dicurangi. 


Untuk setiap tetes keringat istri yang mengurus rumah tangga dan anak-anak, yang dengan setia menjaga marwah dirinya untuk suaminya. Bagaimana mungkin dunia sanggup memikul beban dosa lelaki penghianat? JIka bukan dengan kesengsaraan yang menyiksa di depan mata.


Sekarang, aku tahu keadaan Mas Barfi dan Diah. Mereka hampir bangkrut dan jatuh miskin karena tidak ada tangan yang menolong. Aku tak peduli, mau mereka jadi apapun itu sudah pilihan hidup yang harus mereka jalani. 


Termasuk ketika seorang sahabat mengirim foto Mas Barfi dan Diah berjualan di trotoar, diusir satpol PP. Aku hanya bisa tersenyum dalam hati, begitulah cinta kalau ditumbuhkan di jalan yang salah, Mas![]


Bersambung...🌸🥀💕