Diluar Dugaan
JUDUL: MAHAR GALERI UNTUK PEMBANTU

#Pembantu_Rasa_Bos_2
#Mahar_Galeri_Untuk_Pembantu
#Gallery_Maharani 

Bab 7. Diluar Dugaan
--------------------------

Hariku semakin sibuk. Tanggapan rancangan Prehistoric diluar dugaan. 

Tidak hanya dari pembeli saja, tetapi juga mendapatkan apresiasi dari organisasi pengusaha furnitur di negara ini. Rancangan ini mendapat penghargaan The Best Furniture Design di tahun ini. 

Galeri semakin banyak yang mengunjungi. Apalagi, produk ini dimuat di tabloid bulanan mereka yang disebar ke seluruh dunia. Kami pun tidak mengira begini jadinya.  

Apalagi ada review dari pelanggan yang ternyata dia adalah designer terkenal tingkat dunia. Bahkan, aku tidak tahu dia yang aku temui dan memborong pajangan di galeri mempunyai pengaruh besar.  Atas rekomendasinyalah, banyak pelanggan-pelanggan baru.

Email penuh dengan permintaan pesanan. Dari meminta untuk gabung di projek ataupun sekedar mengisi rumah pribadi. Kami benar-benar kewalahan. 

Beruntung ada Litu yang siap selalu. Dibantu pihak produksi di Jogjakarta dan Klaten. Litu kelihatan sekalai bersemangat. Walaupun sering terlihat raut mukanya yang serius dan tegang, mulai jarang ada senyum apalagi tawa. Kasihan juga, sih.

"Bu Rani, saya mengajukan penambahan karyawan untuk membantu saya," pinta Aitu kemarin. 

"Boleh. Diambil dari kantor Pak Kusuma atau mencari sendiri? Kamu atur bagaimana baiknya. Toh, nantinya kamu yang bekerja dengan mereka." 

"Untuk membantu saya handle tamu. Namun tetap semua melalui saya. Dan, penanganan tamu lebih lanjut akan diteruskan mereka," jelas Aitu sambil menyerahkan berkas yang harus aku tanda tangani.

"Baiklah. Buka lowongan. Kamu sortir, nanti forward ke email saya. Nanti saya tentukan mana yang cocok," perintahku.

"Siap, Bu Rani!" 

"Tetap diingat, mereka semua atas pengawasan kamu, ya?!" tekanku sekali lagi.

"Siap! Saya kewalahan mengatur waktu. Karena itulah membutuhkan perpanjangan tangan," jawabnya dengan raut wajah yang tidak setegang tadi.

***

"Mas Suma, bolehkah aku menambah satu minggu lagi? Aku harus mempersiapkan semuanya, supaya aku bisa siapkan sistem untuk kontrol dari rumah," pintaku. 

Minggu ini, aku sudah tidak diperbolehkan ke Galeri lagi, karena kandunganku sudah di semester akhir. 
Tidak tega sebenarnya. 
Meninggalkan galeri di kondisi sekarang, aku bagaikan seorang ibu yang akan meninggalkan rumah saat anak sangat membutuhkanku. 

Mas Suma tetap pada pendiriannya. Ini minggu terakhirnya di galeri, setelahnya hanya diperbolehkan memantau dari rumah.

"Ran, tidak ada yang lebih penting dari pada anak kita dan kamu. Aku tidak mau saat di galeri, kamu mendadak melahirkan," jelasnya saat aku merajuk karena larangannya.

"Tapi Mas Suma. Itu masih satu bulan lagi," protesku.

"Honey, dengar apa yang dikatakan Dokter kemarin, kan. Prediksi bisa maju atau mundur. Kalau kamu kecapekan, stress, bisa jadi lahir lebih awal dan itu membahayakan. Bukankah kamu bisa mengawasi dari rumah atau Aitu setiap pagi ke rumah dulu?" ucap Mas Suma menawarkan solusi. 

Dia merangkul dan mengusap lenganku. Seperti biasa saat meredakan marahku. Aku hanya diam memendam rasa dongkol di dada.  Meminta tambahan waktu satu minggu saja tidak boleh. 

Huuft ....

"Atau, sesekali kita ke galeri bersama-sama," tambahnya setelah menengadahkan wajahku. Perlahan, wajahku cerah kembali. Itu artinya aku mempunyai jadwal rutin untuk berkunjung ke galeri.

"Boleh?" tanyaku memastikan dengan senyum mengembang.

"Boleh! Asal, suster harus ikut seperti biasanya dan aku juga mendampingimu," ucapnya menyurutkan senyum ini.

Kalau Mas Suma ikut, sama saja kegiatanku dibatasi. Ini tidak boleh, itu dilarang. 

Yah, tapi ini sudah cukup. Lambat laun aku akan mencari sistem yang efisien dan tidak mengharuskan aku hadir di galery.
***

Tidak hanya aku yang cuti dan berdiam di rumah. Mas Suma pun begitu.

Dia menjiwai sebagai suami siaga. Cerewetnya luar biasa. Kalau suster, aku masih bisa main mata dan mengerjaan apa yang aku mau. Namun, dengan Mas Suma aku harus bilang iya. Titahnya tidak terbantahkan.

Sudah ada jadwal senam hamil yang harus aku ikuti. Mas Suma mengundangnya ke rumah. Dia dengan sabar menemaniku. Memperhatikan instruksi saat penanganan pertama ketika mulai kontraksi. Seperti saat ini, kami melalukan senam hamil bersama. 

Makan minumpun sangat diperhatikan. Harus makan ini dan minum itu. Juga tidak boleh ini dan itu. Seingatku, kehamilan pertama saat mengandung Wisnu tidak seribet ini.

"Honey, besuk pagi aku memanggil arsitek untuk menggambar rumah baru kita," ucap Mas Suma saat kami bersiap tidur. Aku bersandar di dadanya, menselonjorkan kaki yang membengkak.

"Untuk apa? Rumah ini sudah cukup." Aku menutup majalah memasak dan menatap ke arahnya.

"Rumah ini sudah tidak cukup untuk keluarga kita. Rumah bertingkat tidak aman untuk bayi. Aku juga ingin membuat kantor bersama untuk kita berdua. Kamu ingin rumah seperti apa?" tanyanya kemudian menyandarkan kembali kepalaku.

"E, usulan kantor bagus. Karena setelah melahirkan, aku juga harus merawat bayi kita. Aku ingin kantor masih di areal rumah, namun terpisah dari privat area. Trus ada taman rumput di belakang untuk anak kita belajar jalan ataupun bermain. Ada teras belakang untuk kita berkumpul. Itu saja! Yang lain, terserah Mas Suma."

"Dapur akan aku buat spesial buat kamu. Berarti kita membuat kamar tidur minimal enam."

"Kok enam? Banyak sekali?"

"Iya, kamar kita, kamar Amelia, kamar Wisnu, kamar Ibu kalau berkunjung dan minimal dua kamar untuk baby."

Aku mengernyitkan dahi dan mendongak ke arahnya. "Kenapa untuk bayi harus minimal dua?"

"Iya, karena setelah anak kita ini lahir, aku ingin langsung punya anak lagi," jawabnya dengan senyum.

"Mas Suma! Kapan istirahatnya?" protesku. Membayangnya aku harus hamil lagi dan menunda semua pekerjaanku. 
Huuft. 

"Honey, tugasmu melahirkan anak-anakku. Berapapun baby sister, akan aku siapkan!" 

"Mas Suma, mempunyai anak tidak sekedar melahirkan dan memberi makan. Mendidik mereka dan menyiapkan menghadapi hidup, itu tanggung jawab yang besar!" protesku.

"Pokoknya, aku ingin punya anak lagi dan rumah menjadi ramai."

Hhmm, sudah keluar kata sakti yang tak terbantahkan. 
Pokoknya.

Kalau sudah seperti itu, bom atom pun tidak bisa menghentikannya. Dasar! Ingin menangnya sendiri.
.
.
.

"Ran, kok diam? Marah?"
"Tidak!" ucapku singkat. Hatiku masih merasa kesal. 

"Ran ...."
"Hmmm .... "
"Kata dokter, untuk kelancaran melahirkan boleh sering jenguk adik bayi."

"Maksudnya?" Aku menghadap ke arahnya. Mas Suma sudah mulai halusinasi, aku belum melahirkan sudah akan menjenguk. 

"Aku kangen," bisiknya dan tersenyum genit. Memberi kode spesial yang aku tahu artinya.

"Minta bekal, sebelum puasa empat puluh hari. Boleh matiin lampu sekarang, ya?" ucapnya dan tanpa menunggu jawabku, ruangan sudah menggelap. Tersisa sorot lampu dari lampu tidur yang mendongak ke atas.

BERSAMBUNG
********
Astika Buana

Bab berikutnya adalah post ulang bab 57 dari sesion 2 yang masih gabung di PEMBANTU RASA BOS 1.