Bagian 01: Salam Hari Raya


Jangan lupa ke cerita aku yang berjudul: Kubuat Kamu dan Selingkuhanmu Menyesal! Status sudah Tamat. Jumlahnya ada 57 Part.


Aku bukan Sapi perah, Ibu


Bagian 01: Salam Hari Raya



"Minal aidin wal Faizin, ya Bu Nina," ucapku kepada ibu mertuaku. Aku baru saja selesai sungkeman kepada Ibu Nina. Namun, salamku tidak disambut baik olehnya.


Aku menghela napas lalu duduk kembali di atas sofa. Rasa haus telah lahir di tenggorokanku membuat aku hendak meneguk minuman yang telah tersaji di atas meja.


"Beli baju lebaran sanggup, ketika ngasih THR kepada aku, cuma sepuluh ribu sanggupnya."


Ibu Nina memonyongkan bibirnya ke kanan. Dia tidak terima kalau aku memakai baju lebaran tahun ini.


Aku mengelus dadaku yang mulai sesak. Ibu mertuaku tidak tahu kalau baju yang kupakai THR Mas Reno.


"Ibu ... Baju yang aku pakai ini THR Mas Reno. Iya 'kan, Mas!" balasku sambil melirik ke arah suamiku.


Mas Reno tidak pernah menoreh luka selama aku menjadi istrinya. Dia selalu membahagiakan aku walau hanya sederhana.


"Iya, Bu. Alhamdulillah aku dapat THR dan bonus tahunan. Mungkin ini rezeki buah hati kami di dalam perut istriku."


"Apa? Istrimu hamil lagi? Hei ...! Apa kamu nggak capek mengandung terus? Masa setiap tahun kamu ngidam."


Bu Nina kebakaran jenggot mendengar penuturan anaknya. Dia tidak menyangka kalau perkataan anaknya sangat melukai hatiku. Jiwaku nelangsa dan tulangku hampir saja mau rapuh.


Janin yang ada di dalam perutku ini adalah buah cintaku dengan Mas Reno. Aku sudah ketiga kali ini dikasih amanah, tapi selalu gagal dalam merawatnya. Sebenarnya aku sudah bilang kepada suamiku kalau aku pakai KB saja. Namun, Mas Reno tidak terima.


"Sudah tahu istrimu hamil lagi, kenapa uangnya nggak ditabung saja!" cela Bu Nina.


"THR nya berbentuk baju, Bu," sela Reno. "Bagaimana mau ditabung?"


Reno masih bisa mengontrol amarahnya. Kalau dia mengikuti emosinya yang sudah membara, mungkin sudah meluap laksana larva merapi siap menyembur.


"Kalau THR nya berbentuk baju, 'kan bisa di jual dan uangnya ditabung," sungut Bu Nina.


Bu Nina tidak mau kalah, dia merasa tersaingi menantunya. Baru kali ini dia tidak beli baju lebaran. Suasana ruang tamu hening, aku hanya bisa menunduk sambil mengelus perutku yang sudah mulai besar.


"Assalamualaikum, Bu."


Suara salam mengalihkan pembicaraan Reno, Nina dan aku. Semua mata tertuju ke asal suara itu.


"Waalaikum salam," jawab Bu Nina dengan semangat. Dia melangkah gontai menghampiri anaknya. Namanya Sopiah, anak kedua dari ibu mertuaku. Suamiku anak pertama. Reno dan Sopiah cuma dua bersaudara. Kehidupan Sopiah jauh lebih layak dari kehidupanku dari segi ekonomi. Namun, kabar burung yang aku dapat, semuanya hasil ngutang.


"Nenek apa kabar? Kok bajunya kumuh?" ucap Salsa. Anak Sopiah, usianya dua puluh tiga tahun. Dia laksana sapi perah dibuat Sopiah selama ini.


"Iya. Soalnya nggak ada yang mau ngasih THR sama nenek, sayang."


Nina merengek, dia sangat pandai sekali bersandiwara di depan anaknya dan cucunya. Seketika Sopiah merogoh tas kecil yang disandang. Dia membuka dompetnya lalu memberi lima lembar uang kertas berwarna merah. Mata ibunya membelalak melihat uang sebanyak itu.


"Ambillah, Bu! Uang ini THR dari aku. Anggap saja laksana mendapat durian runtuh."


Sopiah mengukir senyum smirk dan ekor matanya melirik ke arahku. Aku hanya bisa menelan saliva dan meneguknya dengan kasar.


"Serius uang sebanyak ini buat aku, sayang?!" tanya Nina, dia seolah tidak percaya melihat uang berwarna merah lima lembar.


"Serius lah, Bu! Sejak kapan aku bohong."


Sopiah merasa berhasil membahagiakan ibunya. Dia tidak peduli kalau uang yang diberikannya kepada ibunya uang untuk membayar koperasi harian.


"Kalau begitu aku ke kamar ganti baju. Aku nggak sabar mau beli baju lebaran ke Mall."


Nina langsung melangkah pergi meninggalkan Sopiah, Salsa, aku dan suamiku.


Netra Sopiah tidak berkedip. Maksud hatinya hanya menyenangkan hati ibunya di depan Mas Reno agar kelihatan kaya. Ternyata dia malah terperangkap atas ulahnya sendiri.


'Astagfirullah! Uang itu mau bayar hutang buat ...," ucap Salsa terjeda.


Salsa menepuk jidatnya. Hatinya sudah gelisah memikirkan uang lima ratus ribu. pikirannya pasti tidak akan kembali kalau sudah di tangan neneknya.


****


Nina sedang berputar-putar di depan kaca riasnya. Kali ini dia merasa dapat durian runtuh dari anaknya, Sopiah. Usia Nina sudah tidak pantas seperti anak gadis pada masa kini. Namun, gayanya masih seperti ABG.


'Senang sekali punya anak seperti Sopiah. Ada anak dan menantu seperti istrinya Reno tidak bisa membahagiakanku. Huft!' ucap Nina kesal sambil mengoleskan lipstik ke sudut bibirnya. Sesekali dia mengatupkan bibirnya.


Tidak membuang waktu, Nina sudah selesai berdandan. Dia berjalan gontai lewat ruang tamu. Tiba-tiba ada suara bertengkar.


"Sudah kubilang, jangan kasih uang itu kepada nenek, Bu! Kalau sudah seperti ini kita juga yang repot, Bu!"


"Aku hanya ini membahagiakan nenekmu di depan Om Reno dan istrinya ...."


Sopiah menjeda ucapannya. Dia ingin kelihatan kaya, tapi sebenarnya tidak ada. Dia itu terlalu memaksakan diri agar dipandang orang kaya dan dermawan.


"Ja-jadi ... Kamu itu ...," ucapnya terjeda.



Bersambung ....


Next?