Bagian 02: Diserang Sopiah
Aku bukan Sapi perahmu, Ibu


Bagian 02: Diserang Sopiah



Mata Sopiah dan Salsa melirik ke arah suara itu.

"Nenek ... Ibu ...." 

Sopiah dan Salsa terkejut mendengar perkataan Nina.

Nina memutar bola matanya sambil berpikir. Namun, dia tidak peduli uang yang diterima untuk keperluan membayar koperasi harian.

"Ne-Nenek ...,"

Salsa ingin berkata yang sesungguhnya, tapi dihalangi ibunya, Sopiah. Sopiah menutup mulut anaknya dengan telapak tangannya. Namun, Salsa meronta. Dia sudah tidak tahan melihat ulah ibunya yang selalu gila hormat dan gila dipandang kaya.

"Uang itu untuk bayar koperasi harian ibu, Nek!"

"Jadi uang ini mau bayar koperasi harian?" tanya Nina.

Nina mulai berpikir agar uang itu tidak diminta Sopiah dan Salsa.

"Ii-iya?" jawab Salsa spontan.

Salsa berkata terus terang. Niatnya ingin sekali membongkar rahasia ibunya. Namun, belum ada waktu yang tepat.

"Salsa ... Tutup mulutmu itu!"

Sopiah tersulut emosi. Dia tidak mau kalau kedoknya terbongkar. Matanya menyalang ditambah wajahnya memerah.

"Aku tidak akan tinggal diam. Ibu kira aku ini sapi perah kamu."

Nina heran mendengar ucapan Salsa. 

'Apa maksud Salsa berkata seperti itu kepada Sopiah?' tanya Nina dalam hati.

"Lebih baik apa adanya daripada memaksakan diri agar kelihatan kaya."

Aku melangkah menghampiri Sopiah, Salsa dan ibu mertua. Setelah jarakku dengan Sopiah, aku berdiri tegak dan melipat kedua tangan sejajar dengan dada.

"Kamu menguping pembicaraan kami, hah!" sergah Sopiah. Dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Antara malu dan merah padam kepadaku.

"Berarti selama ini kamu pura-pura kaya supaya Bu Nina menyanjung dan memuji kamu. Sementara aku selalu di pandang sebelah mata karena hidup miskin."

Sopiah sudah tidak bisa lagi menahan emosi. Darahnya mendidih dan wajahnya memerah.

"Siapa bilang aku pura-pura kaya?! Coba katakan!" seru Sopiah. Dia menarik ujung jilbabku.

"Lepaskan!" ucapku.

Aku mencoba meronta dari amukan Sopiah. Namun, tenaganya lebih kuat daripada aku. Napasku sesak seolah tidak bisa melawan.

"Lebih baik kamu mati bersama janinmu ini," hardik Sopiah.

Sopiah mencoba memukul perutku membabi buta. Aku terus meronta dan menghindar.

"To-tolong ...!" teriakku. Aku terus berusaha lepas dari amukan Sopiah. 

Sudah lima menit aku dihajarnya, tidak ada sama sekali ibu mertuaku membela begitu juga dengan Salsa.

"To-tolong ibu ...! Jangan biarkan aku mati tersiksa di tangan Sopiah. Aku masih mau hidup."

Reno baru saja selesai mandi. Handuk kimono masih membalut seluruh tubuhnya. Ketika kakinya melangkah ke arah lemari pakaian, dia mendengar suara minta tolong.

"Desmi!" ucap Reno. Dia berlari mencari asal sura itu dengan keadaan rambut basah.

"Hentikan ...!" teriak Reno dengan nada tiga oktaf. Dia melepaskan tubuhku dari amukan Sopiah yang sudah membabi buta menyerang aku.

Aku dehidrasi membuat tubuhku lemas. Kalau tidak ada suamiku, aku kira tamat sudah riwayatku.

"Apa yang kamu lakukan, Sopiah? Tindakanmu sudah mengarah ke pasal pembunuhan berencana. Apa kamu tidak takut kamu aku jebloskan ke dalam penjara?" ucap Reno sambil mengelus pucuk kepalaku.

Salsa, Bu Nina hanya diam dan tidak membela siapa pun. Mereka laksana menonton adegan teater yang sedang live di depan mata kepala mereka sendiri.

"Kamu akan aku laporkan ke pihak berwajib. Batas kesabaran aku sudah cukup."

Sopiah tidak gentar mendengar ucapan Reno. Dia malah tertawa sampai puas.

"Mas Reno, sudahlah! Nggak ada gunanya kita melawan manusia seperti Sopiah. Lebih baik kita pulang ke rumah sekarang juga daripada mati tersiksa di tangan jahilnya, Sopiah."

Aku mencoba bangkit perlahan, sudah sering aku dipukul Sopiah kalau pulang ke rumah ibu mertuaku. Aku tetap sabar menghadapi semua perlakuannya. Namun, untuk kali ini aku tidak bisa tinggal diam.

"Sopiah! Jangan kamu kira selama ini aku diam berarti tidak mau melawan. Tidak selamanya diam itu emas, kalau sudah amarahku meluap kamu pasti tahu sendiri akibatnya."

Aku melangkah gontai meninggalkan Sopiah menghampiri suamiku.

"Ayo kita pergi dari sini. Ibu sama adik ipar aku tidak pernah menganggap aku ada."

Kuraih lengan tangan suamiku, dia menuntun aku jalan menuju kamar.

****

Ibu Nina pergi begitu saja, dia merasa datar seolah tidak ada masalah sama sekali dalam rumahnya.

Baru beberapa langkah, kakinya berhenti. 

"Mau kemana kamu, ibu?!" ucap Sopiah.

Sopiah menghalangi langkah kaki ibunya. Namun, ibunya menepis tangan Sopiah.

"Jangan halangi aku mau pergi kemana!"

"Uang itu mau bayar koperasi harian aku, ibu. Aku mohon jangan dipakai buat beli baju baru di Mall."

Sopiah bersembah lutut, dia menangis memohon kepada ibunya. Namun, ibunya tidak peduli.

"Aku tidak peduli! Kalau uang yang sudah diberikan kepadaku. Tidak bisa lagi diminta. Cuma lima ratus ribu kamu kasih, setelah kamu beri. Diminta kembali lagi, dasar kamu nggak bermalu."

Suara bel berbunyi membuat Ibu Nina, Sopiah dan Salsa diam laksana patung liberti. 


Bersambung ....

Next?




Jangan lupa singgah ke cerita saya yang lain, berikut listnya:

1. Minta Mahar Jutaan, Akhirnya Perawan Tua status On going (sudah Part 29).

2. Buku Resep Makan dan Minuman status On Going ada 43 resep.

3. Derita Satu Atap dengan Ibu Mertua status On Going baru BAB 2.

4. Tetesan Air Mata Seorang Istri status On Going sudah BAB 14.

5. Aku Yang Kerja, Calon Suami Yang Foya-Foya status On Going sudah BAB 11.

6. Kulawan Pengkhianatan Mereka Diam-Diam Status On Going sudah BAB 22.

7. Aku Bukan Mesin ATM Pencetak Uang, Mas Status On Going sudah Part 39.

 8.  Kubuat Kamu dan Selingkuhanmu Menyesal Status Tamat jumlah 57 part


Terima kasih semuanya.