Part 7: Sebuah Asa


"Asa harus kuliah, Nak, jangan jadi orang bodoh seperti ayah dan emak," ucap Ayah ketika itu. 

"Tapi darimana biayanya? Kata ayah harga hasil ladang sudah tiga tahun ini menurun drastis, petani kesulitan, jangankan mau untung, balik modal saja sudah syukur," sahut Asa. Ia sadar diri karena tak diterima di perguruan tinggi negeri, berkuliah di swasta itu artinya biaya yang besar. 

"Karena itu kamu mesti kuliah, bantu masyarakat desa sini, buka wawasan penduduk sini, kenapa petani itu walau udah kerja keras setengah mati tetap gak bisa makmur," ucap ayah berapi-api. "Kamu lihat di kampung kita, pendidikan masih jauh ketinggalan tapi liat pengaruh HP, luar biasa. Sudah banyak anak-anak remaja putus sekolah yang keliaran merokok sampai mabuk-mabukan, belum lagi yang hamil di luar nikah. Astagfirullah, semua ini hanya bisa dibrantas dengan pendidikan dan agama."

"Tapi Asa gak keterima di negeri, kuliah di swasta mahal. Apa nunggu tahun depan?"

"Jangan ditunda. Kuliah saja di swasta, soal biaya biar ayah yang pikirkan, kamu jangan khawatir. Ayah kasih nama kamu Asa karena berharap kamu benar-benar menjadi Asa bukan hanya bagi ayah tapi warga kampung juga." Ayah membelai halus rambut putrinya. "Ayah dulu putus sekolah, gak ada biaya makanya jadi orang bodoh, kamu jangan sampai merasakan hal yang sama." 

Asa mengangguk. Dan ketika akhirnya ia mengambil jurusan pendidikan Sekolah Dasar di sebuah perguruan tinggi swasta, ayah pun tak pernah ingkar janji. Biaya tak pernah menjadi kendala, kata emak, ayah bekerja berkali lipat lebih keras dari sebelumnya. 

Bila mengingat ayah, laki-laki berkulit legam karena terpanggang teriknya matahari itu, sungguh perih rasa hati Asa. Ia hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah menengah pertama namun pemikirannya sangat maju, tak pernah menyerah oleh keadaan. 

"Ayah mau setelah Asa tamat kuliah, langsung mengabdi di kampung kita. Tapi kalau jodohmu membawamu pergi, ayah bisa apa, Nak," ucap ayah ketika kali pertama Asa mengutarakan niat Tara yang ingin melamarnya. Ada gurat kecewa di wajah ayah, karena ia tahu Tara pasti akan memboyong putrinya ke kota namun ia abai, kebahagiaan Asa adalah yang utama. 

Kini ketika seorang laki-laki baik, Adam memintanya untuk menjadi istrinya, ada banyak tanya dan keraguan. Bukankah menikah bukan hanya satu atau dua bulan saja namun merupakan ibadah seumur hidup. 

"Kenapa kau ingin menikah denganku?" tanya Asa pada Adam. Ketika bersama Pak Kades dan istrinya tadi Asa belum memberikan jawaban. 

"Tak ada alasan khusus, kau wanita baik dan aku hanya ingin ada di sisimu, itu saja," sahut Adam jujur.  

"Kau sudah tahu keadaanku kan?" 

"Soal peristiwa itu?" 

Asa mengangguk. "Menikah bukan hanya soal dua manusia tapi juga dua keluarga. Bagaimana dengan keluargamu jika tahu tentang keadaanku, mereka pasti akan menolak." 

Adam tersenyum. "Ibuku sudah meninggal lima belas tahun yang lalu, setelahnya ayah menikah lagi dan hidup dengan keluarga barunya. Aku dirawat oleh nenek yang juga telah meninggal dunia dua tahun yang lalu." 

"Ayahmu tak akan setuju dengan keadaanku." 

"Aku sudah lama tak berjumpa dengannya, setelah menikah lagi ayah hampir tak pernah menjengukku. Jadi tak ada masalah soal keluargaku, tinggal darimu lagi." 

 "Apa kau kasihan padaku?" 

"Aku hanya ingin melindungimu, Sa, itu saja. Kita bisa memulainya dengan menjadi teman terlebih dahulu." Adam berusaha meyakinkan. "Kau bisa percaya pada ucapanku, aku benar-benar serius ingin membina rumah tangga denganmu." 

"Aku akan minta izin dengan emak dahulu," ucap Asa akhirnya. 

Sebuah senyum terukir di wajah Adam. Awalnya ini mungkin bukan soal cinta tapi ia yakin waktu akan menyemai rasa itu, kebersamaan pasti akan menumbuhkan rasa berwarna merah muda itu. 

***

Asa tengah mengamati proses pemetikan jagung di lahan ayahnya. Biasanya ayah dan emak turun tangan langsung namun kali ini semua harus ia ambil alih. Ayahnya memiliki lahan pertanian yang cukup luas, sebagian merupakan sawah dan sisanya ditanami jagung pertanian. Untuk sawah, dari proses panen hingga penggilingan semua sudah ditangani oleh Pak Dul tetangga mereka. Tinggal lahan jagung yang harus Asa awasi. 

Para pekerja tengah memetik tongkol jagung dan memasukkannya ke dalam karung. Untuk upah satu karung pekerja dibayar delapan ribu rupiah, sesuai harga pasaran. 

"Sudah dapat berapa karung, Pak?" tanya Asa pada Pak Pardi salah satu pekerja yang memetik jagung. 

"Sampai sore ini sudah hampir seratus karung, Sa," jawabnya. 

"Alhamdulilah, kira-kira berapa hari lagi kelar?" 

"Mungkin lusa sudah selesai." 

Asa mengangguk. Kalau setiap harinya sekitar seratus karung berarti lusa bisa tiga ratus karung, setelah dirontokkan untuk membuang tongkolnya, beratnya bisa sekitar sembilan ton. Bisa lebih atau kurang. 

Tadi dia sempat bertanya pada petani yang juga menanam jagung, ia bilang harga jagung di kampung ini sekitar dua ribu delapan ratus rupiah per kilo tergantung kadar airnya. Barusan ia search di internet bila harga jagung di Palembang bisa mencapai angka empat ribu. Selisih harganya lumayan.

"Pak, kok harga jual jagung di kampung kita murah banget ya, saya cari di internet bisa sampai empat ribu," tanya Asa pada Pak Pardi lagi. 

"Ya itu kan di Palembang, Sa, di sini kan kampung, jelas beda lah." 

"Lah kan kita tinggal bawa jagungnya ke Palembang terus jual di sana, gampang." 

"Kita ini orang kampung, Sa, mana bisa jual kayak gitu, di Palembang juga kita gak kenal siapa-siapa," jelas Pak Parman. 

"Nanti Asa cari informasi, Pak, kan lumayan selisihnya." 

"Terus kan petani sini banyak yang sudah terlilit hutang sama Pak Rusdi, bibit sama pupuk sudah dikasih duluan sama beliau, tapi entar kalau panen jualnya harus sama dia juga. Soal harga Pak Rusdi juga yang nentuin sesuka hati, petani gak boleh protes." 

Asa mengerti sekarang kenapa para petani di kampungnya tak berani berkutik, mereka sudah berhutang terlebih dahulu. Pak Rusdi selain anggota dewan juga merupakan toke yang memiliki toko besar yang menjual mulai dari bahan pokok hingga alat pertanian. Monopoli hasil tani penduduk kampung ini memang sudah dijalankan keluarga itu sejak jaman ayah Pak Rusdi. 

Asa tengah menghubungi beberapa nomor gudang jagung di Palembang yang ia dapat di internet ketika Adam baru saja tiba. 

"Lagi ngapain?" tanyanya.  "Kayaknya sibuk." 

"Aku lagi menghubungi gudang jagung di Palembang, hasil panen ayah mau aku jual ke Palembang langsung saja." 

"Bagus itu, nanti aku bantu cari sewa truk-nya." 

"Selain karena aku gak mau jual sama Pak Rusdi, ternyata selisih harganya lumayan. Per-ton bisa satu juta dua ratus." 

"Kira-kira panen ayah dapat berapa?"

"Kayaknya bisa hampir sepuluh ton." 

"Wah bener itu, lumayan itu selisihnya, nanti aku bantu pokoknya." 

Asa mengangguk. "Eh urusan kamu tadi gimana?" 

"Iya aku sudah minta persyaratan untuk nikah kantor, minggu depan kita ke Palembang untuk mengurusnya sekalian jenguk ayahmu." 

"Eh, iya," jawab Asa. 

"Mudah-mudahan prosesnya gak lama." 

"Iya." Asa tersenyum. Tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya jika Adam akan melamarnya, agak ragu awalnya namun setelah meminta persetujuan emak dan sholat memohon petunjuk, kini ia mantap menerima Adam sebagai calon imannya. 

***

Asa telah rutin mengajar mengaji di masjid, tahun ajaran baru nanti ia pun berencana akan mengajar di Sekolah Dasar kampung ini. Walaupun kepala sekolah telah menjelaskan bahwa ia hanya akan dibayar tiga ratus ribu perbulan tapi itu tak masalah. Ia hanya ingin mewujudkan cita-cita ayahnya, mengabdi di kampung kelahirannya. 

Asa baru saja selesai mengajar mengaji dan sedang menunggu Adam sholat ketika seorang pemuda bermotor berhenti tepat di hadapannya. 

Seorang laki-laki turun dari motor sambil melepaskan helm-nya. Ia tertawa melihat wajah pucat Asa. 

"Hai cantik, apa kabar?" Wira terkekeh melihat Asa yang tampak gugup. "Masih ingat aku?" tanyanya lagi. 

"Mau apa kau?" tanya Asa gugup. Ia melangkah mundur. 

"Jangan takut manis, aku hanya ingin melihat wajah wanita yang kuperkosa tempo hari, maklum lah waktu itu aku sedang mabuk jadi aku lupa wajahmu ha ha ha." Wira semakin girang melihat wajah Asa yang kian pucat. 

"Kau mau apa?" Asa memeluk tas-nya. 

"Jangan marah Sayang... Apa kita perlu mengulang saat romantis kita di gudang waktu itu. Aku rindu rintihanmu ha ha ha." 

"Apa maksudmu? Penjahat, seharusnya kau di penjara." Asa berteriak. 

Wira tersenyum. "Kau kira aku bisa dipenjara karena memperkosamu? Kau salah cantik, ayahku orang terpandang, sekali uang bicara maka urusan akan beres ha ha." 

Asa ingin menangis dan berteriak minta tolong sebenarnya namun ia harus bertahan, sebentar lagi. "Kau bukan manusia tapi iblis! Apa kau tak merasa bersalah karena telah memperkosaku?" 

"Ha ha ha, kenapa harus merasa bersalah? Bukankah kita sama-sama menikmatinya? Aku bisa memperkosa siapapun juga, gampang. Ayahku akan membebaskanku. Mudah itu." 

Asa baru saja hendak berteriak ketika ia melihat Adam keluar dari masjid dan segera berlari ke arah mereka. 

"Bajingan!" Adam segera melayangkan tinjuannya ke wajah Wira. "Kurang ajar kamu!" Ia kembali meninju laki-laki di hadapannya ini berkali-kali. 

Wira yang tak siap langsung tersungkur ke tanah. Beberapa jamaah masjid yang melihat kejadian itu langsung melerai mereka. Suasana sudah memanas, Wira hendak membalas namun segera ditahan oleh para jemaah masjid. 

Cukup lama untuk memisahkan keduanya, meminta Wira pulang dan menenangkan Adam. 

"Kenapa tak berteriak tadi?" tanya Adam kesal. Seharusnya Asa jangan diam saja. "Lain kali berteriaklah, kalau terjadi apa-apa tadi bagaimana?" 

Asa mengusap netranya, tubuhnya masih bergetar, perlahan ia mengambil ponsel di slaan tasnya menyerahkan pada Wira. "Di dalamnya ada rekaman pengakuan Wira kalau ia lah yang memperkosaku waktu itu. Aku sengaja memancingnya agar mengaku dulu," ucapnya sambil terisak. 

Adam mengambil ponsel Asa seraya menatap wajah gadis itu yang sudah bersimbah air mata. "Maaf," ujarnya. "Aku tadi hanya kahwatir saja." 

Asa menggeleng. "Tak ada yang perlu dimaafkan, aku tahu kalau kamu hanya khawatir." 

Adam menarik napas panjang. "Sa, sepertinya terlalu lama jika menunggu proses nikah kantor. Kita menikah saja secara agama dahulu. Aku tak tenang membiarkanmu sendiri." 

Asa mengangguk. "Iya... Aku juga takut... sangat takut, ayo kita menikah," ujarnya sambil terus terisak.

Bersambung...