Tercabik


"Asa diperkosa, Pak... Anak kita... anak kita." Marni menghambur ke pelukan suaminya ketika laki-laki dengan kulit legam itu baru saja pulang. Kakinya masih berlumur lumpur dan keringat belum pula kering dari tubuhnya. 

Ada apa ini? 

Marni meraung kian tak terkendali, tadi ia masih bisa menguatkan diri, berpura tabah dan menghibur hati, namun kini ia tak kuat lagi. Ia ingin mengungkapkan semua amarahnya. 

"Anak kita, Pak... anak kita." Marni terus menangis sambil menepuk-nepuk dadanya,  hancur rasa hatinya. Asa itu anak semata wayangnya. 

Pak Danu masih bergeming. Ia masih berusaha mencerna soal apa yang terjadi. 

Asa diperkosa?

Asa anaknya? 

Pak Danu mengusap pundak istrinya dan tersenyum. "Tak apa, tenang dulu, kita selesaikan nanti," ucapnya seraya menahan gemuruh di dada. 

Pak Kades yang telah lebih dahulu tiba langsung mengajak Pak Danu duduk. Ia menepuk pelan pundak laki-laki pekerja keras itu, sekedar untuk menguatkan. 

"Ada apa, Pak? Ada apa?" tanya Pak Danu pelan. Ia masih berharap bila raungan istrinya tadi hanya sekedar gurauan saja. Tak mungkin kan Asa-nya yang seorang guru mengaji diperkosa? 

"Kebetulan aku dan istri menemukan Asa sudah tidak sadarkan diri di gubuk bekas gudang kopi di ujung desa. Ia sudah pingsan, lalu kami bawa ke bidan dan menurut bidan Asa telah diperkosa." Pak Kades menjelaskan dengan sangat berhati-hati. Ia tahu ini tak akan mudah bagi Pak Danu dan istrinya.

"Siapa pelakunya?" Pak Danu meremas sisi celananya. Netranya berkaca dengan tubuh yang bergetar.

"Menurut saksi mata, pelakunya adalah  Wira anak Pak Rusdi anggota dewan," sahut Pak Kades. 

Pak Danu langsung beranjak, ia berjalan menuju kamar  Asa putrinya, ada yang semakin menusuk di dadanya. Putrinya tengah terbaring tak sadarkan diri ada seorang bidan yang tengah menemaninya. 

"Bagaimana dia?" tanya Pak Danu. 

"Sudah membaik tapi masih trauma," ucap Bu Bidan. 

Pak Danu mengangguk, mengusap netranya dan kembali menghampiri Pak Kades. "Saya mau membersihkan diri dahulu dan bersiap sholat di masjid," ucapnya tetap tenang. 

"Pak Danu yang sabar ya, jika bapak ingin melaporkan kejadian ini ke polisi, bilang saja, saya siap mendampingi," ucap Pak Kades. 

Pak Danu mengangguk. Ia butuh waktu sendiri kini memikirkan soal semua yang baru saja terjadi. 

***

Harga diri seorang ayah itu ada pada anak wanitanya dan ketika kehormatan putrinya telah direnggut paksa oleh laki-laki tak bertanggung jawab maka saat itu pula seorang ayah harus mengangkat senjata menuntut keadilan. 

Marni istrinya sudah lebih tenang, ia meminta istrinya itu untuk sholat sunah dan berzikir, tak ada tempat mengadu yang paling tepat selain pada-Nya. Ia lah sebaik-baiknya tempat berkeluh-kesah. Asa putrinya pun sudah agak tenang, masih terus menangis namun tak lagi menjerit-jerit. Pedih rasanya menyaksikan keadaan buah hatinya itu.

Pak Danu pergi ke dapur kayu rumahnya, mengambil parang dan mengasahnya, sudah lama ia tak menggunakan senjatanya ini, sudah jarang ke hutan, paling pergi ke sawah dengan cangkul. 

Sudah lebih dari setengah abad ia hidup, pahit manis kehidupan telah ia lalui, tak pernah sekalipun ia mengeluh, selalu bersyukur pada Yang Kuasa. Dan ini, bukankah terlalu kejam, ujian ini rasanya tak pantas ia terima. Ini begitu menyiksa. 

Pak Danu membungkus parang itu dengan karung dan membawanya, tujuannya hanya satu, rumah anggota dewan itu. Akan ia tuntut keadilan untuk putrinya. 

Rumah Pak Rusdi adalah yang terbesar di desanya, paling megah dengan halaman luas yang sengaja disemen untuk menjemur kopi dan jagung dari hasil taninya yang berlimpah. Orang kaya dan berpengaruh, sungguh perpaduan yang sempurna.  Ia membuka pintu pagar rumah yang tak terkunci, berjalan perlahan memasuki pekarangan rumah.

Demi harga diri putrinya akan ia korbankan nyawa sekalipun. 

"Rusdi! Keluar kamu dari rumah, serahkan putramu itu!" Pak Danu berteriak sambil mengacungkan parangnya. Jiwanya telah benar-benar dirasuki amarah. 

Suasana yang awalnya hening mendadak menjadi gaduh, dengan tergesa Pak Rusdi dan Mira istrinya ke luar rumah. Ada apa kiranya yang membuat orang berteriak di depan rumah mereka. 

"Ada apa?" tanya Pak Rusdi kesal, ia paling tak suka dengan orang yang tak tahu tata krama, malam-malam datang hanya untuk membuat onar.

Bu Mira menarik tangan suaminya, ia kenal laki-laki ini, ia lah yang dibicarakan oleh Bu Surti tadi sore. Ayah dari gadis yang diperkosa oleh Wira putranya. Suaminya tak boleh tahu, ia pasti akan murka pada putranya. 

"Sudah masuk saja, Mas, gak usah diladeni, orang gila." Bu Mira mencegah suaminya yang hendak menghampiri Pak Danu. 

"Aku ingin tahu apa yang terjadi," ucapnya seraya menepis tangan istrinya. 

"Jangan kau sembunyikan putramu yang tak bermoral itu! Suruh ia keluar biar merasakan tebasan parangku!" Pak Danu mengacungkan parangnya dengan marah. 

"Jangan sembarangan, ada apa? Kita bisa bicara baik-baik," ujar Pak Wira. Di sekeliling rumahnya sudah banyak tetangga berkumpul, bila ia bertindak gegabah maka akan mencoreng nama baiknya. Tahun depan ia harus menghadapi pilkada lagi, perlu suara orang desa. 

"Baik-baik katamu! Anakku diperkosa oleh putramu dan kau bilang aku harus bicara baik-baik! Kurang ajar kamu!" 

"Jangan asal bicara, jaga mulutmu!" Kali ini laki-laki di hadapannya telah melampaui batas dengan memfitnah putranya. Tak bisa dibiarkan. "Kau bisa kutuntut karena mencemarkan nama baik!" 

"Ini kenyataan, kau tanya dengan warga satu desa soal kejadian tadi sore. Anakku kini tengah menderita sementara tak ada niat baik dari keluarga kalian. Sombong kalian! Aku tak takut dengan harta dan jabatanmu!"  

"Apa maksudmu?" Pak Rusdi bertanya tak mengerti. "Ada apa ini, Bu?" Ia menoleh pada istrinya yang tengah menunduk. 

Bu Mira mengangguk ragu, awalnya ia kira bisa menyelesaikan ini secara diam-diam saja, besok baru akan ia urus, namun terlambat, suaminya sudah tahu kini.

"Apa kau sudah tahu soal ini?" Pak Rusdi menatap tajam istrinya yang hanya menunduk. 

Bu Mira mengangguk lagi. 

"Benar anak kita memperkosa putri bapak ini?" 

Bu Mira kembali mengangguk ragu. 

Plak! Pak Rusdi menampar istrinya. "Tak berguna, kau panggil anak kurang ajar itu!" 

"Kita bicarakan baik-baik di dalam rumah," ucap Pak Rusdi. Sebisa mungkin ia harus mengontrol emosinya, warga desa yang menonton sudah semakin banyak.

"Tidak, aku tak sudi menginjakkan kaki di rumahmu. Panggil anakmu itu dan biar darahnya yang menyelesaikan masalah ini!" Pak Danu masih mengacungkan parangnya. 

"Pak Danu tunggu... Jangan gegabah." Pak Kades datang dengan tergopoh-gopoh, untung saja ada warga yang memberitahunya soal keributan ini. Hampir saja ia terlambat. 

"Jangan seperti ini, kita selesaikan baik-baik. Jika kamu membunuh, yang paling menderita adalah Asa anakmu," ucap Pak Kades lagi. 

Pak Danu masih bergeming. 

"Kamu akan masuk penjara, kasihan istri dan anakmu," bujuk Pak Kades lagi. 

"Aku tak mau berdamai," ucap Pak Danu. "Anak laki-laki itu sudah menghancurkan masa depan putriku." 

"Ada dua pilihan, Pak," ucap Pak Kades. "Berdamai, menyelesaikan ini secara kekeluargaan atau melaporkannya ke polisi," lanjutnya. 

"Kita lapor polisi," ucap Pak Danu akhirnya. Netranya menatap tajam pada bangunan megah di hadapannya, mungkin ia tak bisa membunuh pemerkosa itu tapi lihatlah, akan ia penjarakan bajing*n itu. "Aku ingin pemerkosa anakku di penjara." 

***

"Menikahlah denganku," ucap Tara. Ia adalah kakak tingkatnya di kampus dan baru saja diterima di sebuah BUMN sebagai pegawai tetap. 

Asa menunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya. Sudah sejak lama ia tahu bila kakak kelasnya itu menaruh hati padanya. 

"Aku akan datang menemui bapakmu," ujarnya lagi. 

"Kapan?" tanya Asa malu. 

Tara tersenyum, hatinya begitu lega kini. Ini pertanda bila cintanya tak bertepuk sebelah tangan. 

"Nanti,  kalau aku sudah bisa mengambil cuti."

Dan asa kembali ke desa, menanti janji dari laki-laki itu. Emak dan Bapak sudah tahu soal rencana kedatangan Tara Minggu depan, keduanya semringah akhirnya putri semata wayang mereka akan menjadi seorang istri. 

Ia bahagia menghitung hari menanti pujaan hatinya datang memenuhi janji. Untuk mengisi waktu Asa mengajar mengaji anak-anak di kampung, selepas kuliah ia memang belum sempat melamar pekerjaan. 

Dan ia pun tak pernah menyangka bahwa kembalinya ia ke desa seolah menjemput petakanya. Ia diperkosa oleh seorang laki-laki mabuk sepulang mengajar mengaji. 

Sore itu seharusnya belum terlalu gelap namun mendung yang menggelayut sejak siang dan rintik hujan yang mulai mengguyur bumi membuat suasana desa yang biasanya ramai menjadi sunyi.

Asa tengah berlari kecil menerobos gerimis,  melewati gubuk tua itu ketika sepasang tangan kekar menarik paksa tubuhnya, membekap mulut dan menyeretnya masuk ke gubuk itu. Sekuat apapun ia melawan, memukul dan meraung namun semuanya tenggelam oleh kekuatan laki-laki itu. Laki-laki itu tanpa ampun mengoyak kehormatannya. 

Saat itu... setelah semuanya berakhir dan laki-laki dengan tubuh bau alkohol itu pergi, dengan sisa kekuatan yang ada ia berusaha merangkak keluar mencari pertolongan. Hanya satu orang yang ia ingat kala itu... Ayah... laki-laki yang selalu berjanji untuk menjaganya. 

Bersambung...

Alhamdulilah semoga ada yang suka dengan cerita ini.