Ramadhan Tanpa Papa Mama


 

         Pagi-pagi di satu hari jelang puasa pertama, Kirana sudah tidak belajar lagi karena sekolahnya libur awal puasa selama sepekan. Kirana membantu tante Ai di dapur. Usai sarapan ia sudah duduk manis di meja dapur menghadap dua wadah bawang merah dan bawang putih. Tugasnya adalah mengupas duo bawang itu. 

Tante Ai sedang menyiapkan bahan-bahan lain yang hendak ia masak. Rencananya selain ayam nasulikku, tante Ai juga akan memasak kari ayam dan kentang, serta ayam goreng kecap. Tante Ai memang suka memasak dalam porsi besar. Nanti sebagian hasil masakannya akan dikirimkan untuk orangtua Kirana dan juga untuk tetangga kanan kiri.

            Kak Asso’ pagi-pagi heboh memaksa agar dia sendiri yang masak ayam nasulikku. Demi konten youtubenya.

            “Mau diapa … nanti malah tidak berhasil itu ayam. Rasanya tidak enak, bagaimana?” tanya tante Ai agak gusar.

            “Bundolah tetep yang racik-racik, tapi nanti divideokan seolah-olah aku yang masak dari awal, gitu,” jelas kak Asso’.

            “Konten palsu, dong?”

            “Lha, kan, bundo nggak mau kalau aku yang masak sendiri. Padahal kan tinggal dibilangin aja resepnya kayak gimana, tinggal diikuti, kan?”

            “Eeeh, ndak begitu rumusnya kalau orang memasak,” sergah tante Ai. “Orang memasak itu pakai perasaan. Pakai hati. Kalau sudah terbiasa memasak, otomatis itu jumlah bumbu, lama menumis, saat memasukkan ayam, cara mengaduk, semuanya tepat dan menghasilkan hidangan yang bercitarasa tinggi,”

            “Aiii, Bundo, niy … bantulah anakmu ini. Lagipula konten youtubeku yang ini tujuannya mulia, Bun,” ucap kak Asso’ mencoba beralasan.

            “Mulia bagaimana?” tanya Tante Ai sambil mengangkat satu alisnya.

            “Nanti dikasih judul “Anak Muda Cinta Kuliner Lokal”. Jadi intinya mengajak anak-anak muda macam Asso’ ini, untuk nggak malu punya hidangan favorit ayam nasulikku’. Hidangan khas suku Bugis.”

            Tante Ai manggut-manggut.

            “Hmm, boleh juga idemu,” gumamnya. “Bagaimana menurutmu, Kiran?”

            “Bagus itu, Tan. Bagus kak Asso’,” jawab Kirana mengacungkan jempol.

            Setelah disetujui oleh tante Ai, bertambahlah kehebohan di dapur karena kak Asso’ ikut ribet memasak dan menggambil gambar. Diselingi banyak pertanyaan ke ibunya tentang ayam nasulikku’, dan tentu banyak canda dan tawa di dapur. Sejenak Kirana lupa kesedihannya karena tidak dapat berkumpul dengan kedua orangtuanya. Kelucuan kak Asso’ dan tante Ai saat saling menimpali dan saling mengejek, sangat menghiburnya.

            Usai maghrib, tante Ai menata semua makanan di meja makan. Ada ayam nasulikku, ayam kari, dan ayam goreng kecap. Sebakul nasi putih hangat dan satu wadah sokko’ atau nasi ketan. 

Berbeda dengan daerah lain, kalau di Makassar, sokko’ ini biasa dimakan sebagai pengganti nasi. Makan sokko’ dengan lauk ayam nasulikku sangat sedap. Kalau Kirana tidak terlalu suka sokko’ karena mamanya jarang membuatnya.

            Tante Ai meminta kak Asso’ untuk berdoa. Mendoakan keluarga supaya sehat-sehat selama bulan puasa sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar. Juga mendoakan agar situasi pandemi covid-19 dapat segera usai dan teratasi. Setelah berdoa bersama mereka makan. Sambil makan, kak Asso’ melakukan videocall dengan mama dan papa Kirana.

            “Ini kami sedang makan, tante sama om sudah makan juga kan, nasulikkunya?” sapa kak Asso’.

            “Alhamdulillah, enak sekali. Makasih sudah nganterin tadi sore, ya, So’,” sahut mama Kirana sambil melambai-lambaikan tangan. “Kiran sayang, makan yang banyak yaa, nanti harus cepat bobok supaya nggak susah bangun sahur.”

            “Iya, Ma! Mama sama papa juga ya, makan yang banyak supaya tetap sehat dan dapat mengalahkan si korona jelek!” seru Kirana.

            “Dek, kalau kepingin buka puasa makanan tertentu, bilang saja, ya? Nanti kakak bikinkan!” seru tante Ai bersemangat.

            “Iya, iya, Kak … terima kasih banyak,” sahut mama Kirana mengangguk dan tersenyum. Papa Kirana tampak ikut melambaikan tangan di layar ponsel.

 **

Ramadhan ini memang sangat berbeda dibandingkan ramadhan-ramadhan sebelumnya. Kirana harus membiasakan diri shalat tarawih berjamaah hanya bertiga di rumah, dengan kak Asso’ sebagai imam. Kak Asso’ sebenarnya enggan tapi tante Ai mendesaknya.

“Asso’ ndak hafal juz amah, Bund,” kilah kak Asso’ awalnya. Ia malu kalau nanti baca surat-surat pendek, bacaannya hanya itu-itu saja.

“Ndak apa, surat Al Baqarah juga mamakmu ini masih sanggup berdiri di belakangmu sebagai makmum,” jawab tante Ai.

Kak Asso’ manyun. Surat-surat pendek saja dia belum hafal semua, bagaimana mau hafal surat Al Baqarah yang sangat panjang?

Tante Ai tersenyum melihat wajah kesal kak Asso’.

“Biarmi, Nak … kalau tidak sekarang, kapan lagi kamu mau belajar jadi imam? Mungkin virus korona ini sengaja diturunkan Allah ke muka bumi, supaya lebih banyak lagi pemimpin Islam bermunculan. Kalau kamu malu surat pendeknya hanya itu-itu saja, berarti saatnya memperbanyak hafalanmu mulai sekarang. Istirahat dulu bikin konten youtube, buka qur’an sana!”

“Iya, iyaaa, Bundooo. Tapi nanti jangan diketawain ya, kalau aku terlalu sering baca qulhu,” ucap kak Asso’ malu-malu. “Kiran, jangan diketawain, ya?”

            Kiran hanya mengangguk, lalu berjalan pelan menuju kamarnya.

            “Eh, kenapa, Kiran?” tanya kak Asso’. Tante Ai juga memerhatikan Kirana.

            “Kiran mau istirahat sebentar, Kak,” jawab Kiran, lalu menghilang di balik pintu kamarnya.

            “Nanti tante panggil kalau kita sudah siap mau tarawih, ya, Kiran?” tante Ai mengingatkan. Terdengar suara Kirana mengiyakan dari kamar.

            “Kiran sering kelihatan sedih, ya, Mak?” tanya Asso’ dengan suara pelan.

            Tante Ai menghela napas.

            “Kondisi ini memang tidak terlalu baik untuk Kiran. Di saat banyak temannya gembira karena lebih banyak berkumpul dengan keluarga di rumah terkait imbauan #stayathome, Kiran justru harus menerima kenyataan kalau ia hidup terpisah dari mama papanya.”

            Asso’ mengangguk. Ia memikirkan sesuatu yang bisa menghibur adik sepupunya itu.

          “Sering-seringlah kauhibur adikmu itu. Kauikutkan proyekmu. Bantu-bantu bikin video, atau apa, kek.”

      “Iya, ini Asso’ juga lagi mikir, Bund.”

         Di dalam kamarnya, Kirana termenung. Kesedihannya memang tidak lepas dari perkiraan tante Ai tadi. 

Ia sudah mengobrol dengan kedua sahabatnya tentang tarawih di rumah. Kalau Novia, ada banyak lelaki dewasa di rumahnya. Bapaknya, omnya, dan kakak laki-lakinya. Mereka bertiga yang akan bergantian menjadi imam tarawih. 

Kalau Tina, hanya papanya yang akan menjadi imam tarawih setiap malam. Belum lagi di waktu-waktu shalat wajib, tetap didirikan shalat berjamaah di rumah para sahabatnya itu. 

Mau tidak mau, Kirana membandingkan kondisinya dengan kondisi sahabatnya. Tidak ada harapan papanya akan pulang ke rumah lalu mengimami shalat tarawih. Mamanya sudah menekankan bahwa mereka hanya akan meluangkan waktu untuk berkumpul dengan Kirana saat lebaran.

            Kirana sudah menyadari ini risikonya menjadi anak dari tenaga medis. Dan ia sudah sangat paham kalau pilihan kedua orangtuanya itu mulia. Tapi bagaimanapun, ia hanyalah seorang gadis kecil biasa. Wajar jika punya berbagai keinginan, punya kecemburuan pada teman-temannya. Kecemburuannya itu ia lontarkan pada teman-temannya melalui chat wa.

 

Kirana

: Kalian enak. Kumpul sama keluarga terus. Aku?

Tina

: Sabar, Kiran.

Novia

: Iya, sabar, Kiran. Kita doakan saja korona segera lenyap dari muka bumi.

Kirana

: Pokoknya aku nggak mau jadi tenaga medis kayak mama papaku nanti. Jadi yang lain saja.

Tina

: Jadi apa, dong?

Kirana

: Jadi PNS kayak papamu enak. Bisa WFH, work from home.

Novia

: Mending jadi pengusaha saja, dan berkantor di rumah. Kayak tanteku ada yang begitu.

 

            Kiran mengakhiri chatnya ketika terdengar panggilan tante Ai mengajak salat tarawih bersama. Di akhir salat tarawih pertamanya, Kirana tak lupa mendoakan kedua mama papanya agar selalu sehat dan terhindar dari penularan virus korona.

Setelah tarawih, Kiran pamit tidur. Asso’ memandangi adik sepupunya yang tampak lesu. Ia berjanji akan membuat wajah lesu Kirana jadi bersemangat lagi. Tunggu besok, ya, Kiran!**