Pagi yang normal

Bab 1 kemarin, diawali dengan berita virus korona di televisi. Tepatnya tanggal 2 Maret 2020, mulai ada penderita covid-19 pertama di Indonesia, tepatnya di Jakarta.

Bab 2 ini menceritakan rutinitas pagi Kirana yang masih normal, sebelum virus korona benar-benar sampai di Makassar, kota tempat tinggal Kirana. Yuk, baca, ya...

Kirana bangun pagi hari dan melihat papanya sudah duduk di kursi meja makan, dengan perhatian terfokus pada ponsel di tangan. 

Tadi malam, ternyata papa tidak jadi pulang cepat, melainkan lanjut rapat dengan tim dokter di rumah sakit. 

Papa menoleh dan tersenyum menyadari kehadiran Kirana.

“Halo, anak papa sudah siap pergi sekolah?” senyum papa sambil meletakkan ponsel.

Kirana mengangguk sambil tersenyum. Ia senang mendengar suara papanya yang bersemangat, walaupun gurat-gurat lelah tak bisa disembunyikan di wajahnya.

“Papa sudah mau berangkat kerja lagi?” tanya Kirana. Ia mengambil roti tawar yang tersedia di meja makan, dan mengolesnya dengan selai cokelat.

“Papa agak siang ke rumah sakit, tapi papa sudah siap untuk mengantar tuan puteri ke sekolah, dan ibunda ratu ke tempat kerja pagi ini,” gurau papa.

“Beneran, papa mau ngantar sekolah?” tanya Kirana senang.

“Bener, dong. Tadi mamamu sudah menelepon sopir mobil antar jemputmu agar tak usah datang hari ini,” jelas papa.

Mama muncul dari kamar, sudah berseragam putih rapi.

“Hari ini kita beruntung bisa berangkat disopiri driver yang ganteng, Kiran,” gurau mama. 

Mama melirik arloji di tangannya lalu mendesah.

“Harus tetap sarapan,” ucap papa pelan, menebak bahwa mama pasti akan berkeluh kesah bahwa waktu sudah terlalu mepet untuk sarapan. Mama tertawa kecil, lalu berjalan ke rak piring dan mengambil kotak plastik.

“Aku bawa saja beberapa potong roti untuk dimakan di kantor. Kiran, mau bawa bekal juga?”

Kirana menggeleng dan mengatakan bahwa ia sudah kenyang. Lagipula di sekolah nanti ia akan mendapat jatah makan siang dan kudapan dari catering sekolah. 

Mama memang memilihkan sekolah yang menyediakan catering mengingat mama tak bisa selalu memasak untuk keluarga karena kesibukan pekerjaan.

Mereka segera bersiap pergi beraktivitas dengan memakai kendaraan keluarga. Papa menyetir, Kiran duduk di sebelahnya dan mama di jok tengah.

“Selama papa sempat, papa akan antar jemput kamu mulai sekarang, Kiran. Karena mungkin beberapa minggu ke depan, kesempatan seperti ini akan sangat langka,” ucap papa sambil sekilas menoleh pada Kiran.

Kiran mengangguk. Pasti maksud papa karena beberapa minggu ke depan, covid-19 akan segera tiba di Makassar dan entah kesibukan sekeras apa yang akan dijalani papa dan mama.

“Bagaimana ceritanya virus korona bisa masuk ke Indonesia, Pa?” tanya Kirana.

“Virus itu diduga dibawa oleh seseorang berkewarganegaraan Jepang yang mengikuti sebuah acara di Jakarta. Orang Jepang itu kemudian menjalani tes di Malaysia, dan hasil tesnya positif. Tak lama kemudian ada satu orang warga Indonesia dengan gejala covid-19, dan orang itu berada pada acara yang sama dengan pria berkebangsaan Jepang itu tadi. Setelah pasien pertama dari Indonesia tadi terbukti positif, ternyata ibunya juga sakit dengan gejala yang sama. Jadi dua pasien covid-19 pertama di Indonesia adalah ibu dan anak,” jelas papa.

Kirana mengangguk tanda paham. Papa melanjutkan penjelasan bahwa virus korona, menular melalui ludah penderita yang tepercik saat ia bicara, batuk atau bersin. 

Percikan ludah itu biasa disebut dengan droplet. Jadi untuk menghindarinya, kita harus memakai masker untuk perlindungan diri yang pertama.

Kedua, kita harus rajin cuci tangan. Mengapa cuci tangan, karena kita sering tidak sadar kalau tangan kita menyentuh banyak permukaan benda-benda seperti pegangan pintu, pegangan tangga, dan lain-lain. 

Di permukaan benda-benda apalagi yang terdapat di area umum, bisa jadi terdapat bekas percikan ludah orang yang mengandung virus. 

Virus korona yang kecil itu dapat hidup di permukaan benda selama beberapa jam – bahkan ada yang bilang beberapa hari. 

Nah, seandainya tangan kita tak sengaja menyentuh benda-benda, kita harus segera cuci tangan memakai sabun sebelum tangan kita menyentuh hidung, mata, atau mulut kita. 

Zat pada sabun dapat mematikan virus, asalkan cara cuci tangannya benar, yaitu  seluruh area tangan terkena sabun.

“Seperti cara cuci tangan yang pernah kita lihat di sebuah video, Nak,” ucap mama mengingatkan. 

Mama mempunyai video pendek yang isinya beberapa tenaga medis sedang memeragakan cara cuci tangan yang benar.

“Coba kamu sebutkan lagi cara pencegahan penyakit covid-19, selain yang papa sebutkan tadi,” lanjut papa.

“Olahraga agar tetap sehat, makan dan minum yang bergizi sehingga menambah daya tahan tubuh, lalu … berjemur sinar matahari pagi?” jawab Kirana lancar. Papa tersenyum bangga.

“Sepertinya Kirana cocok menjadi dokter seperti papa, karena ingatannya kuat,” ucap papa.

“Jadi perawat kayak mama juga butuh ingatan kuat, lho. Siapa nama pasien di kamar A, mana obat untuk pasien B, pasien C keluhannya apa …,” sambung mama.

“Itu kan bisa dilihat di catatan pasien, Ma?” tanya Kirana. Papa terbahak.

“Kalau mamamu memang ingatannya kuat. Dia tidak mau melihat catatan. Setiap dokter bertanya, langsung sigap dia jawab dengan hafalan di luar kepala. Yang paling sering diingat mamamu juga, adalah apakah papa sudah transfer gaji ke rekeningnya atau belum,” papa terbahak lagi menggodai mama.

“Itu memang yang paling penting untuk diingat!” seru mama membuat papa semakin tergelak.

“Kiran tidak mau jadi dokter ataupun perawat. Kiran kan, takut lihat darah,” ucap Kirana memotong impian papa dan mamanya yang masing-masing ingin Kirana berprofesi seperti dirinya.

“Iya, lagipula Kiran masih kecil. Masih panjang jalan untuk menentukan cita-cita. Mamamu dulu juga takut sama jarum suntik. Sekarang tiap hari dia menyuntik pasien,” ucap papa.

Tak terasa kendaraan sudah sampai di depan gerbang sekolah Kirana. Kirana mencium tangan papa dan mamanya, lalu turun dari mobil.

“Selamat belajar, Sayang. Jangan bermain terlalu dekat dengan temanmu, ya? Jaga jarak dan rajinlah cuci tangan setiap selesai beraktivitas,” pesan mama.

Kirana mengangguk. Ia melambai-lambaikan tangan hingga mobil tak tampak lagi dari pandangannya.**