Empat : awal mula
KUPERMALUKAN SUAMIKU DAN SELINGKUHANNYA SAAT PENYULUHAN DESA 4

Tiga : Awal Mula

Jangan membuat perempuan yang kamu cintai menangis, karena akan sangat menyakitkan bila kamu melihat laki-laki lain membantu mengusap air matanya.

***

FLASH BACK ON :

Aku bersimpuh di makam ibuku. Mengelus nisannya sambil berurai air mata.

"Ibu, Rena sudah menjadi bidan sekarang, jadi Rena bisa menolong orang melahirkan." Kataku lirih.

"Sudah mbak, ayo kita pulang, hari sudah malam," kata Dimas menyentuh bahuku.

Aku tahu pasti dia yang paling terpukul. Karena ibu meninggal tujuh belas tahun yang lalu setelah melahirkan adikku yang mempunyai berat badan 4 kilo dan terjadi perdarahan.

Karena rumah kami yang jauh dari fasilitas kesehatan, maka ibuku terlambat dirujuk ke rumah sakit untuk menerima penanganan  segera.

Karena itu setelah lulus SMA, aku bertekad untuk menjadi seorang bidan agar bisa memberikan penyuluhan dan pencegahan terhadap kesakitan dan kematian ibu dan bayi. Beruntung sekali, bapakku sangat mendukung cita-citaku.

Dan kini untuk melupakan kenangan pahit wafatnya bunda, bapak menjual rumah lama kami dan membeli rumah mungil yang jaraknya dekat dengan rumah sakit maupun puskesmas.

"Nduk, duduk dulu," kata bapak setelah aku dan Dimas sampai di rumah.

"Apa rencana kamu setelah lulus jadi bidan sekarang?" tanya bapak padaku.

"Sepertinya Rena akan melamar menjadi tenaga honorer di puskesmas sumbersari Pak, nanti kalau ada pendaftaran CPNS, Rena akan ikut," jawabku.

"Oh bagus, bapak dukung, kalau perlu bapak bantu untuk mengurus pembangunan tempat praktek bersalinmu, lahan di sebelah kan kosong, nanti bisa dimanfaatkan," kata bapakku bersemangat.

"Wah, masalah itu nanti saja Pak, yang penting sekarang Rena memperbanyak pengalaman kerja dulu," tukasku tersenyum.

"Yowis kalau memang itu maumu, misalkan butuh bantuan, bilang saja. Dan kamu Dimas, lanjutkan sekolahmu, kamu ingin jadi arsitekkan? kalau butuh biaya, masih ada sawah bapak yang bisa dijual," kata bapak.

"Bapak, sebenarnya Rena kasihan sama bapak, sejak kita pindah ke rumah baru, bapak jadi bolak balik ke sawah, apa sawahnya dijual saja sekarang dan ditabung, nanti untuk kebutuhan sehari-hari biar Rena yang mengusahakan sekaligus untuk menyekolahkan Dimas," usulku.

Bapak tertawa. "Bapak hargai keinginanmu meringankan beban bapak Nduk, tapi kamu harus tahu jika gaji tenaga honorer kadang belum bisa mencukupi kebutuhan sekolah, 

Biarlah bapak bolak balik ke sawah supaya ada pemasukan untuk keluarga kita, lagipula bapak nggak sendirian kok ngurus sawah kita, kamu tenang saja, fokus pada pekerjaan kamu ya,"

"Hm, baiklah kalau memang menurut bapak itu yang terbaik." Sahutku.

"Kamu memang kapan akan memasukkan lamaran kerja di puskesmas Sumbersari?" 

"Besok Pak, doakan Rena diterima ya,"

"Insyallah diterima, desa sini masih kekurangan tenaga medis," kata bapak tersenyum.

***

Akhirnya aku diterima sebagai tenaga honorer di puskesmas sumbersari yang berjarak sekitar sekilo dari rumah.

Aku mengamalkan ilmu dengan sungguh-sungguh dan berusaha ramah terhadap sesama sejawat maupun senior.

Tak terasa setahun sudah aku bekerja sebagai tenaga honorer di puskesmas dan beberapa minggu lagi ujian pendaftaran CPNS dibuka.

Aku mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, berbagai kisi-kisi soal kulahap, membaca lagi buku-buku saat kuliah selepas kerja dan...

Aku berhasil menjadi seorang ASN. Tak terkira betapa bahagianya aku dan bapak. Apalagi saat Dimas juga mendapatkan nilai kelulusan terbaik di SMAnya. 

Aku berinisiatif mengadakan tasyakuran kecil-kecilan yang mengundang tetangga dan teman kerja di puskemas.

"Sekali lagi selamat ya atas diterimanya kamu sebagai ASN," ujar dokter Radit, kepala puskesmas tempatku bekerja saat acara syukuran telah selesai digelar.

"Wah, terimakasih dok, semua ini tak lepas dari bimbingan dokter dan teman-teman di puskesmas," jawabku malu.

"Ah, kamu merendah Ren, kamu telaten, sabar, dan cerdas menghadapi pasien, sehingga kamu memang pantas lulus, duh, ini kok saya belum dijemput juga sih," seru dokter Radit melirik arlojinya.

"Memang mau dijemput siapa dok?" mendadak aku kepo.

"Anak saya, kemarin datang dari ibu kota. Dia baru selesai kuliah dan saya suruh pulang biar ikut membangun desa," sahut dokter Radit.

"Memang anaknya dokter sudah tahu rumah saya?" 

"Sudah, tadi dia juga yang mengantar saya kesini," 

"Oh, ya sudah dokter, tunggu di dalam rumah saja ya, daripada duduk di teras?" tawarku.

"Nggak usah, disini saja, eh, itu dia datang," tukas dokter Radit menunjuk ke arah mobil bryo warna abu-abu yang menuju ke arahku.

Setelah mobil itu berhenti di halaman rumahku, seorang pemuda tegap keluar dari dalam mobil. 

"Lama nunggu Pa?" tanya pemuda itu pada dokter Radit.

"Lama lah, kamu lelet banget," sahut dokter Radit manyun.

"Hehe, maaf Pa," katanya lalu memandang ke arahku.

"Oh, iya, kenalin ini Renata, bidan yang baru diterima sebagai ASN," kata dokter Radit. 

"Ren, ini anak saya," sambungnya kemudian.

"Saya Adi, Adi sugara," pemuda itu mengulurkan tangan dan memamerkan senyumnya yang rapi.

"Saya Renata ayu," jawabku sambil menerima uluran tangan Adi.

"Wah, kamu sesuai dengan namanya ya, Ayu," tukas Adi tersenyum lagi.

"Elah, kamu ini mau jemput papa atau mau tebar pesona?" tanya dokter Radit pada anaknya.

Adi tampak tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya.

"Ya sudah, ayo pulang," kata dokter Radit lagi. "Mana bapak kamu? saya mau pamit," sambungnya.

Aku lantas memanggil bapak ke dalam rumah. 

"Bapak, terimakasih atas undangan makan-makannya,  dan untuk Rena, sekali lagi saya ucapkan selamat bertugas dan semoga amanah," kata dokter Radit menyalami bapak dan aku yang kemudian diikuti oleh Adi.

"Kami pulang dulu," pamit dokter Radit dan anaknya kemudian berlalu dari rumahku.

***

[Save nomorku ya, Adi]

Aku tertegun membaca whatsapp dari anak dokter Radit.

"Kenapa anak dokter Radit repot-repot mengirim pesan whatsapp padaku. Batinku heran.

Tapi tak urung juga, untuk menghormati dokter Radit, aku membalas pesan Adi.

[Oke]

Aku memang kaku, introvert dan tidak bisa basa basi. Jadi cukup jawaban yang singkat, padat, dan jelas yang kuberikan.

[Singkat bener jawabnya]

Aku bingung dengan maksud whatsapp dari Adi.

[Terus, aku harus balas apa?] tanyaku.

[Ya, coba kamu tanyain apa saja tentang aku, misalnya aku kerja apa, umur berapa, gitu]

Aku menghela nafas. Aneh bener anaknya dokter Radit ini. Gumamku. Dan aku memilih untuk mengabaikan whatsapp terakhir yang dia kirim untukku.

***

Beberapa hari kemudian, bertepatan dengan hari sabtu malam, setelah aku makan bersama bapak dan adikku, terdengar pintu rumahku diketuk.

"Biar Rena yang bukain Pak, kan Rena sudah selesai makan dari tadi," 

Aku segera berlalu ke ruang tamu dan betapa terkejutnya aku melihat siapa yang berdiri di depan pintu, "Kamu?!"


Next? 

Pasti sudah bisa menebak kan siapa yang bertamu di rumah Renata?

Boleh banget baca karyaku yang lain :

 1. Aku Lelah, Mas (tamat)
 2. Saat Pasienku adalah Istri Mantan (tamat)
 3. Ternyata Pasienku adalah Istri Kedua suamiku (tamat)
 4. Kupermalukan Suamiku di Penyuluhan Desa (on going)
 

Terimakasih



 







Komentar

Login untuk melihat komentar!