Akta Lahir
Kamar berukuran 3 x 4 meter ini terasa pengap. Padahal AC sudah menyala. Dadaku rasanya seperti terhimpit batu besar. Sesak. 

Dulu kamar ini menjadi tempat ternyamanku. Setiap kali lelah sepulang sekolah, aku akan dengan mudah tertidur di ranjang empuk ini. 

Sudah hampir dua jam aku menumpahkan seluruh perasaan kecewa ini. Namun rasanya air mata tak habis-habis. Mungkin mataku juga sudah bengkak. 

Memory selama sepuluh tahun yang terekam indah di otakku kembali berputar. Setiap pagi mama selalu membuatkan sarapan bubur ayam kesukaanku dan membuatkan bekal makan siang dengan berbagai bentuk. Terlihat cantik dan menarik. Terkadang kawan-kawanku berebut ingin mencicipi. 

Sudut bibirku tertarik kala mengingat masa-masa itu. Kemudian sekelebat bayangan papa yang selalu sabar membimbingku mengaji. Memantau hafalanku setiap habis maghrib. Lalu akan memberikan aku hadiah kecil ketika berhasil menyelesaikan muraja'ahku dengan baik. Ah, tapi itu dulu. 

Mataku menatap nanar sederet benda-benda berharga yang diberikan papa setiap kali aku berhasil menyelesaikan hafalanku. Kini aku sudah hafal seperempat juz Alquran. Alhamdulillah. Dan itu semua berkat kesabaran papa. 

Hatiku kembali teriris ketika mengingat penolakan papa tadi pagi. Tidak biasanya papa menolakku. Bahkan sekarang papa mulai menjaga jarak denganku. 'Papa, aku rindu. Rindu pelukan hangatmu. Rindu tatapan lembutmu.'

Kembali air mata ini mengalir. Bantalku sudah basah menampung air mata. Perlahan aku bangun dan mengambil album merah jambu yang berada di rak buku. Kubuka lembar demi lembar. Ada fotoku mulai dari bayi sampai SMP. 

Mama selalu rajin mengabadikan setiap momen. Perkembanganku selalu diabadikan dalam album ini. Kususuri setiap foto dengan jemari mungilku. Tak kuasa aku menahan sesak ketika sampai pada sebuah foto kami bertiga. Aku dalam gendongan mama dengan papa yang mencium pipi gembilku. 

***

Aku Keisya Najma. Umurku saat ini 16 tahun. Mamaku bernama Jasmin dan papaku bernama Akbar. Kami adalah keluarga kecil bahagia. Semua orang iri padaku. Selain papaku orang kaya, dia sangat baik dan sabar. 

Mamaku juga sama baiknya dengan papa. Selain cantik, mamaku juga sangat lembut dan penyayang. Kami tak pernah bertengkar. Papaku sangat sayang pada kami. 

Aku selalu teringat nasehat papa. Suatu ketika papa memintaku untuk menutup aurat. Katanya jika aku tak mau menutup aurat, papa akan disiksa di akherat. Aku selalu menurut apa kata papa. Aku tak ingin papa menanggung dosa atas kesalahanku. Karena aku sayang papa.

Papa juga pernah bilang kalau perempuan itu, sebagus apapun ibadahnya jika tidak menutup aurat dia tidak akan bisa masuk surga. Itulah sebabnya aku selalu menutup auratku kalau keluar rumah. 

Tapi sekarang papa dan mama memintaku untuk menutup aurat di mana pun. Bahkan ketika di rumah. Hanya di kamar aku boleh membuka auratku. Aku nurut aja. Meski bertanya-tanya, bukankah di rumah cuma ada aku, mama, dan papa? 

Ah, aku jadi bingung.

Seketika otakku berputar. Aha! Kenapa aku nggak cari tahu aja? Tapi gimana caranya? Mama pasti nggak akan mau kasih tahu. 

Oke, mending cari tahu sendiri aja. Dengan mengendap-endap aku keluar kamar. Celingak-celinguk bak maling memasuki rumah tanpa izin. Lampu yang temaram membantuku menyelinap dalam ruang kerja papa tanpa ketahuan. 

Ah, lega sekali rasanya. Aku bisa masuk tanpa ketahuan mama dan papa. Oh iya, mereka kan sedang nggak di rumah. Aku menepuk jidat. Kenapa juga tadi aku harus mengendap-endap seperti maling yang takut tertangkap hansip komplek sih.

Dengan santai aku mencoba membuka laci meja kerja papa. Tak ada yang aneh. Lalu berpindah ke rak buku yang tersusun rapi. Sebuah map warna hijau terselip di antara barisan map dan berkas-berkas penting mencuri perhatian. Pasalnya map itu sangat mencolok. Selain warnanya yang mulai usang, bentuknya berbeda dengan map lainnya. 

Dengan hati-hati kutarik map itu. Ternyata berisi sebuah akta lahir. Deret demi deret huruf******dengan saksama. Tertera nama Najma Andriani. Hem, siapa ya? Aku berpikir keras. Tak sedikit pun terlintas seseorang dengan nama itu. Tapi ... tunggu kok namanya hampir sama denganku? Najma ... seperti nama belakangku. 

Mataku melotot kala melihat tanggal lahirnya. Sama persis dengan tanggal lahir yang tertera dalam akta lahirku. Mulai dari tanggal, bulan, bahkan tahunnya pun juga sama. Apa aku punya kembaran? Lalu di mana dia?

Otakku terus berpikir. Mencari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Tapi ... nihil. Otakku serasa tumpul. Tak terlintas secuil pun kenangan tentang seseorang yang bernama Najma dalam hidupku. 

Kembali ku susuri baris berikutnya. Kali ini nama orang tua. Sekar Arum. Ya itu nama ibunya. Tapi, kok nggak ada nama bapaknya? 


Komentar

Login untuk melihat komentar!