Kemampuan Pemahaman Konsep (bagian 12)
"Memangnya tadi sampai sini jam berapa?"
"Jam tujuh kurang dua puluh lima kayaknya. Saya enggak lihat jam sih. Lihatnya saat sudah di lift, jam tujuh kurang lima belas."
Perempuan itu mengamati Lema dari atas hingga bawah. Lema, yang sedang mengelap cucuran peluhnya dengan selampainya tak menyadari jika perempuan itu mengamatinya.
"Habis lari-lari ya?"
Lema kembali melipat selampainya lalu menoleh ke arah perempuan itu.
"Iya," jawab Lema sambil tersenyum.
"Padahal menurutku jam 7 kurang 15 itu enggak terlalu mepet kok. Tapi kamu sampai lari-lari begitu."
Lema tidak menimpali perkataan perempuan itu dan hanya tersenyum canggung.
Ya memang tidak terlalu mepet sih. Akunya saja yang salah tekan tombol lantai lift dan sudah terlanjur panik. Jadilah lari kocar-kacir, batin Lema.
Lema melihat orang-orang di sekelilingnya. Dilihatnya tidak ada satupun yang membawa tas. Hanya ada pena bola dan buku catatan yang sampul depannya terdapat foto gedung Puspemas. Mungkin saja, buku catatan itu diberikan kepada seluruh peneliti yang loyal bekerja di sini. Atau mungkin, bisa jadi untuk semua peneliti Puspemas, tetapi Lema belum mendapatkannya karena baru kemarin dirinya resmi bekerja menjadi peneliti di sini.
Belum lama Lema mengamati buku-buku catatan bergambar gedung Puspemas itu, terdengar suara pintu ruang rapat dibuka. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu refleks melirik ke arah pintu dan segera berdiri melihat bahwa yang datang tersebut adalah Pak Eksin. Begitupun dengan Lema yang juga segera berdiri melihat orang-orang berdiri.
"Selamat pagi, Pak Eksin." Luhung menyapa Pak Eksin sambil membungkukkan badan dan diikuti oleh peneliti lainnya.
"Selamat pagi, semua. Bagaimana kabarnya hari ini?" Pak Eksin berjalan ke tengah depan ruang rapat.
"Alhamdulillah baik, Pak!" jawab salah seorang peneliti dengan bersemangat.
"Mantap! Saya suka semangatmu, wahai anak muda."
"Asyik betul!" ledek peneliti lainnya dan ditimpali tawa oleh beberapa peneliti lain. Pak Eksin hanya tersenyum. 
"Oke. Jadi, kalian mau ngapain di sini?" Pak Eksin bertanya dengan mengangkat kedua alisnya.
"Mau kerja dong, Pak!" jawab peneliti yang tadi juga menjawab dengan penuh semangat. Peneliti lainnya hanya tertawa. Ada juga yang bergumam, "Semangat banget jawabnya." Pak Eksin hanya tersenyum mafhum, seperti orang yang sudah mengerti sifat peneliti tersebut.