Kemampuan Pemahaman Konsep (bagian 7)
Secara keseluruhan, berdasarkan data statistik, jumlah seluruh peneliti di Puspemas kurang-lebih ada 1.000 orang. Banyaknya peneliti yang ada di Puspemas menyebabkan DPN membangun dua gedung Puspemas, satu gedung untuk peneliti dalam bidang pendidikan dan yang lainnya untuk peneliti nonpendidikan. Gedung A, gedung yang ditempati Lema bekerja saat ini merupakan gedung Puspemas yang berisi peneliti pendidikan.
Luhung bercerita, jumlah peneliti pendidikan yang bekerja di sini ada 457 orang. Sebetulnya, enam lift ini masih kurang cukup, mengingat jumlah penelitinya yang lebih dari empat ratusan. Belum lagi ditambah dengan staf lainnya seperti pesuruh kantor, bahkan pengunjung yang ingin berkunjung ke ruang multimedia. Mungkin bisa lebih dari 1.000 orang yang memasuki gedung Puspemas setiap harinya.
“Coba ya kita hitung-hitungan. Satu lift muatannya 20 orang. Ada enam lift, berarti hanya bisa mengangkut 120 orang. Sedangkan jumlah orang yang berkunjung ke Puspemas bisa lebih dari seribu orang,” cerita Luhung.
“Jauh ya, bedanya. Bisa sampai sepuluh kloter supaya semua orang bisa terangkut,” timpal Lema.
Ting!
Pintu lift di depan mereka terbuka. Dari belakang Luhung dan Lema, tiba-tiba saja sudah ada beberapa peneliti yang juga menunggu untuk menaiki lift. Luhung dan Lema pun akhirnya terdorong masuk hingga ke belakang lift.
Sebelum pintu tertutup, beberapa peneliti yang baru saja keluar dari ruang kerjanya bergegas lari dan berhamburan masuk ke dalam lift. Ada juga beberapa peneliti yang selain berlari bahkan sampai berteriak ‘tunggu’, berharap orang yang ada di dalam lift menahan tombol agar lift tetap terbuka. Namun, karena kapasitasnya yang hanya memuat 20 orang, beberapa peneliti yang berteriak dan berlarian itu pun tidak bisa ikut masuk ke dalam lift sehingga perlu menunggu kloter berikutnya.
Wah…
Lema bergumam mendengar teriakan histeris orang-orang dan pemandangan desak-desakan yang ada di hadapannya. Luhung menyadari gumaman Lema sehingga menoleh padanya dan hanya bisa tersenyum.
“Tenang, ini masih mending dibandingkan naik kereta,” bisik Luhung.
Lema terbelalak kaget. Mata cokelatnya membulat.
“Serius?”
“Wah, lu belum pernah coba naik kereta ya?”
Lema hanya menggeleng bingung.
“Kapan-kapan lu harus coba sensasi naik kereta kalau lagi jam berangkat atau pulang kerja.”