10Juta.

"Ehh...Mbak Dewi,  baru kelihatan, kemana aja?" 

Aku menoleh. Mendapati Bu Fatma tetanggaku tengah menatapku,"Nggak dari mana-mana kok, Bu, lagi betah dirumah aja, " jawabku pelan, sedikit tersenyum. 

Bu Fatma ber-oh ria,"Kirain kemana aja, kayak saya dong. kemarin baru pulang dari luar negeri... " ucap Bu Fatma bangga. 

Aku hanya tersenyum menanggapinya, Sudah kuduga.

"Yasudah Bu, saya buru-buru, sebentar lagi Mas Bagas pulang. " kataku hendak berlalu pergi. 

"Alahhh.... Alasan,  Bilang saja kamu iri kan?" 

Aku tak menanggapi, mencoba menyabarkan hatiku dan terus beristigfar menanggapi ucapan tetanggaku itu. 

"Huh. Dasar gak sopan!" teriak Bu Fatma yang masih bisa ku dengar. 

Setelah sampai rumah, aku langsung memasak untukku dan Suamiku.

"Assalamualaikum, " 

Aku tersenyum,"Waalaikum'salam," jawabku lalu menghampiri dan mencium punggung tangannya dengan takzim. 

Mas Bagas mencium keningku,"Dek, kamu masak apa?" 

"Masak ayam kecap kesukaan, Mas, " 

Mas Bagas tersenyum, matanya berbinar mengetahui aku masak makanan kesukaannya. 

"Yasudah, Mas mandi dulu, setelah itu kita makan bersama, " Aku menganguk dan mengikutinya kekamar, sekalian mempersiapkan pakaian yang akan di pakai untuk Mas Bagas. 

Tak lama Mas Bagas selesei, kita berdua langsung menuju meja makan dan menikmati makanan dengan khidmat. Aku selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepadaku dan memberikan suami sebaik Mas Bagas, walaupun setahun pernikahan kami,  kami belum di beri kepercayaan memiliki sang buah hati. 

Setelah selesei makan malam dan melaksanakan shalat isya berjamaah, aku menceritakan kejadian sore tadi bersama Bu Fatma. Mas Bagas hanya tersenyum menanggapi. 

"Jangan di dengarkan Dek, sudah biarkan saja," Kata Mas Bagas, aku mengangguk meng-iyakan. Aku memang tidak terlalu perduli sama omongan orang,  apa lagi tetangga, Tapi kadang suka sedikit kesal saja. 

* * * * * 

Minggu pagi ini,  aku berniat untuk membeli sayuran di abang-abang yang suka lewat di komplek perumahan tempatku.  Aku memang jarang membeli sayuran, karena malas mendengarkan gosip ibu-ibu komplek. Jadi, untuk masak sehari-hari aku membelinya di supermarket atau di pasar langsung untuk satu minggu, Dan menyimpannya di dalam kulkas. Tapi kali ini, aku malas untuk kepasar. Jadi terpaksa harus beli di abang sayur. 

"Ehh, Bu-ibu. Tau gak? Kemarin saya liat Mbak Dewi sama suaminya jalan-jalan ke mall loh... " kata Bu Fatma. 

Aku mendesah. Belum sampai saja kupingku sudah panas duluan. 

"Ah, udah biasa jeng, Orang saya sering liat mereka berdua makan di KFC. Apa Mbak Dewi nggak masak ya? Hambur-hambur uang suami terus... " Sahut Bu Fitri.

"Nggak bisa masak kali," Kali ini disahuti sama Ibu-Ibu yang berdaster merah. Aku tidak tau siapa, karena terlalu jarang keluar rumah. 

"Iya-ya? Apa nggak di ajarin masak sama mama atau mertuanya? Kasihan ya Mas Bagas punya istri nggak guna seperti itu." kata Bu Fatma sambil berjinjit seolah jijik. 

Aku berjalan dan memilih sayur, mengacuhkan mereka yang masih bergosip tentangku. "Bang, ini berapa?" 

Aku melihat Ibu-Ibu tersentak kaget menyadari kedatanganku. 

"Pagi Bu," Kataku lalu tersenyum tipis. 

"Pa-pagi Mbak Dewi." Mereka menyahuti pelan. 

Aku terkekeh,  lalu memilih kembali sayuran yang akan ku beli untuk seminggu kedepan.

"Bang, Ini semua jadi berapa?" 

Abang sayur terlihat menghitung belanjaanku dan memasukannya ke kantong plastik putih."Jadi 500Ribu, Mbak." sahutnya.

Aku menyodorkan lima lembar uang merah dan langsung diterima sama abang sayur,"Terima kasih, Mbak, saya kasih bonus deh, nih, " Abang sayur memasukan 1 tempe dan seikat kangkung ke plastik.

"Terima kasih, Bang," 

"Mbak Dewi, belanjanya banyak banget," Bu Fatma memperhatikanku sinis. 

"Iya Bu,  buat beberapa hari kedepan. " sahutku.

"Kenapa tidak beli setiap pagi saja Mbak? Biar bisa kumpul sama kita-kita, " sahut Bu Fitri membuat yang lainnya menganguk. 

Aku tersenyum, " Nggak apa-apa Bu, biar Ibu-Ibu bebas ngomongin hidup saya, Kan lumayan ngurangin dosa saya. Mari Bu, saya pulang dulu. " kataku lalu beranjak dari abang sayur. 

Sekilas aku melihat raut wajah Ibu-Ibu itu menegang. Makanya, jangan urusin hidup orang mulu. 

Aku masuk kedalam rumahku dan langsung memisahkan dan membersihkan sayuran serta daging yang aku beli. Perasaan sedikit tidak enak, 
mungkin karna tadi aku sedikit menyindir Ibu-Ibu di abang sayur.  Tapi gimana lagi, mereka sudah keterlaluan.

Bell rumahku berbunyi. 

Aku berjalan kearah pintu dan membukanya, siapa yang datang sepagi ini? Setelah aku membuka pintu, terlihat ada dua orang lelaki berpakaian hitam menatap tajam kearahku. 

"Ada apa ya, Mas?" tanyaku. 

"Maaf Bu, apa Ibu yang bernama Bu Fatma?" tanya lelaki yang berbadan jangkung. 

Aku menggeleng,"Bukan Mas, rumah Bu Fatma yang sebelah," jawabku seraya menunjuk rumah berlantai dua berwarna cream.

Dua lelaki itu mengernyit, "Tadi kami dari sana Bu, kata Ibu itu, rumah Bu Fatma disini. " ucap lelaki yang bertubuh tambun tapi kekar itu. 

"Maaf, Mas, saya tidak berbohong.  Nama saya Dewi, bukan Fatma. Memang ada masalah apa, ya, Mas?" Aku menatap lelaki yang terus-terusan menatapku sinis.

"Kami dari dekoleptor Bu, ingin menarik dana yang belum sempat Bu Fatma setorkan. Sudah lebih dari tiga bulan tapi belum ada kabar, jika tidak mampu membayar tunggakan, saya akan mengambil kembali mobil yang di kredit. Dan mengambil barang lain untuk menutupi mobil yang sudah terpakai."

Aku sedikit terkejut. Masa Bu Fatma tidak membayar tunggakan kredit mobil? Padahal waktu itu mobil yang Bu Fatma beli dan banggakan katanya langsung cash. Dan seminggu lalu dia juga bilang habis pulang dari luar negeri? Ah, dasar Bu Fatma, ada-ada saja. 

"Maaf, Mas, saya bukan Bu Fatma, rumah Bu Fatma yang sebelah itu."kataku.

Dua lelaki itu saling berpandangan. 

"Memang waktu pengambilan Mobil, Mas-Mas ini tidak tau wajah Bu Fatma?" tanyaku lagi. 

"Tidak Bu, yang mengambil suaminya." Jawabnya. 

"Yasudah kalo begitu, saya dan rekan saya minta maaf karena sudah menggangu waktunya, kami permisi, Bu, " 

Aku mengganguk, "Tidak apa-apa, Mas." mereka pun berlalu pergi. Aku bernafas lega, kenapa Bu Fatma malah menyuruh dekoleptor ke rumahku? Tidak bertanggung jawab. 

BRAK! 

DUK! DUK! 

Aku terlonjak kaget, kala mendengar suara bantingan dari arah rumah Bu Fatma. 

Aku keluar pagar untuk memastikan bahwa Bu Fatma tidak di apa-apakan dekoleptor tadi.

"Mas, saya janji, akhir bulan saya bayar," terdengar lirihan Bu Fatma. 

"Dari dua bulan yang lalu Bu Fatma bilang seperti itu! Kami tidak percaya!"

"Saya janji Mas, kali ini saya bayar, kemarin anak saya masuk Rumah Sakit. Jadi, uangnya terpakai," Bu Fatma terlihat memohon sambil bertekuk lutut.  Aku hanya diam, masuk Rumah Sakit?

"Jual saja perhiasan Ibu yang di pakai! Beli perhiasan bisa, bayar cicilan tidak bisa!" sentak dekoleptor itu. Memang Bu Fatma memakai perhiasan yang lumayan banyak. Dari gelang di kedua tangan yang sudah mau sampai sikut, cincin di delapan jarinya, dan tiga kalung yang bertengger manis di lehernya. Aku hanya geleng-geleng melihat Bu Fatma. Sedikit kesal dan merasa iba. 

"Tidak pak! Ini perhiasan saya dari luar negeri! Kalo saya jual nanti apa yang akan saya pamerkan?!" Sentak Bu Fatma keras, wajah dekoletor terlihat memerah menahan marah. 

Karena suara berisik yang di timbulkan dekoleptor dan Bu Fatma, Ibu-Ibu yang lain mulai berkeluaran. Ada yang pura-pura menyiram tanaman, sapu-sapu teras, dan yang paling banyak berkumpul di warung. Mungkin akan ada berita hangat pagi ini. 

"KAMI BERI WAKTU SATU MINGGU! JIKA BU RATNA DAN PAK ROHMAN MASIH TIDAK BISA MEMBAYAR, KAMI PASTIKAN MOBIL DAN BARANG-BARANG DI RUMAH IBU HABIS KAMI SITA!"

GLEK!

Aku menelan saliva kasar, buru-buru masuk kerumah kala mendengar suara menggelegar pak dekoleptor itu. Mungkin dia geram, aku saja kesal mendengar perkataan Bu Fatma tadi. 

* * * * * 

Sore ini,  aku berniat mengajak Mas Bagas ke supermarket. Sekalian belanja bahan untuk membuat cemilan. Mas Bagas selalu senang jika aku membuat keripik dan brownis. Dia selalu betah berlama-lama dirumah kala libur kerja, dan membawa cemilan buatanku ke kantor untuk dibagi ke teman-temannya. 

Saat aku dan Mas Bagas sudah siap-siap untuk berangkat. Bu Fatma datang kerumahku. Aku sempat terkejut karena Bu Fatma langsung menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. 

"Mbak Dewiii, " katanya seraya langsung duduk di sofa ruang tamu. Aku menghampurinya, menatapnya dengan kesal. 

"Ada apa, Bu?" Tanyaku, Mas Bagas hanya diam memperhatikan dan langsung masuk kedalam kamar. 

"Mbak, Saya pinjam uang 10juta dong!"

GLEK! 

Aku meneguk saliva kasar, minjam uang 10juta seperti minjam permen loli satu saja. 

"Ma-maaf Bu, saya nggak punya uang sebanyak itu. Walaupun ada untuk kepentingan keluarga saya," kataku lembut. 

Bu Fatma melotot. 

"PELIT BANGET SIH, MBAK DEWI! CUMA 10JUTA AJA PELIT BANGET!" Aku tersentak kaget kala suara Bu Fatma menggelegar. 

Cuma? Apa maksudnya dengan menyebut uang sebanyak 10juta pakai kata cuma? Dia fikir aku banyak uang! Walaupun banyak malas sekali meminjamkan pada tetangga nyebelin satu ini. 

Mas Bagas keluar dari kamar. 

"Ada apa, Bu?" tanya Mas Bagas. Rahangnya mengeras, aku tau dia sedang emosi. Mungkin gara-gara Bu Fatma membentakku. 

"Saya pinjam uang 10juta aja istrimu pelit banget, Mas!" jawab Bu Fatma merendahkan sedikit suaranya. 

"Maaf Bu, istri saya bukan pelit. Tapi dia memang tidak ada uang, saya cuma memberinya uang bulanan." Jawab Mas Bagas ketus. Padahal, semua gaji Mas Bagas diberikan padaku. 

"Owh pantes! Dasar Istri tidak berguna. Uang bulanan saja di jatah," ucap Bu Fatma kemudian berlalu pergi setelah mengambil satu toples nastar. 

Mas Bagas mengepalkan tangannya geram. Aku langsung memeluknya untuk menenangkannya. "Sudah, Mas, biarkan saja. " kataku lembut.

"Kamu jangan dekat-dekat sama orang yang gak punya sopan santun kayak gitu, biarkan saja jika dia punya kebutuhan. Jangan di bantu!" Ucap Mas Bagas ketus. Aku hanya meng-iyakan Dan mengusap wajah tampannya, Mas Bagas menghembuskan nafas kasar.