Minta Antar
Setelah aku dan Mas Bagas sampai rumah, aku langsung membanting pintu dengan keras.

Mas Bagas yang masih belum mengerti perkaraku kembali terkejut. 

Aku langsung meninggalkannya menuju dapur, kembali menaruh soto, ayam dan nasi ke tempat semula. 

"Dek, " Mas Bagas memegang bahuku lembut, aku hanya menoleh sebentar lalu membawa rantang kotor ke wastafel. Mencucinya hingga bersih biar tidak seperti hati si Hesty, yang banyak nodanya! Huh, emosi aku. 

"Sayang..." Mas Bagas mendekapku erat dari belakang. Itu sedikit membuat hatiku tidak merasa nyeri. Aku sudah niat ingin berbagi dan bersikap baik pada tetangga baruku itu, ehh dia malah seenaknya sama aku! Dia fikir dia cantik banget apa? Masih cantikan aku ya. Cihh!

Mas Bagas memutar tubuhku jadi menghadap kearahnya,"Kamu kenapa?" tanyanya lembut. 

"Ngak apa-apa, Mas." jawabku. 

"Ya sudah, Mas mau mandi dulu. Nanti sehabis mandi sama makan, kamu cerita ya, Sayang?" dia menatapku dalam. Membuat Aku tambah takut. 

Takut kehilangan Mas Bagas suamiku. 

Aku mengangguk,"Mas... "ucapku lirih. 

Mas Bagas tersenyum lalu mengusap pelan wajahku,"Iya, Sayang?" tanyanya. 

"Jangan tinggalkan aku, Mas." aku memeluknya erat, menyalurkan rasa takut lewat dekapan hangatnya setelah dia membalas pelukanku tak kalah erat. 

"Nggak akan, Sayang." jawabnya lembut mengusap belakang tengkuk kepalaku. 

"Jangan tergoda sama pelakor mana pun. Atau pelakornya ku ajakin baku hantam!" ucapku menggebu-gebu.  Mas Bagas tertawa. 

"Iya, Sayang. Tenang aja, Mas nggak akan tergoda sama siapa pun, kecuali istri Mas yang cantik ini," 

"Mas, Cantikan aku atau Hesty?" aku bertanya ragu. Takut jawaban Mas Bagas membuatku tambah takut. 

"Kamu lah, Sayang!" jawab Mas Bagas tanpa ragu. Membuat aku semakin mengeratkan pelukanku. 

"Janji ya, Mas. Jangan tergoda sama siapa pun?" 

"Janji." 

* * * * * 

Setelah Mas Bagas selesai makan dan mandi, aku menceritakan kejadian tadi sore, saat aku hendak memberi Hesty makanan hasil masakanku. 

Mas Bagas terlihat kesal,"Tetangga baru kita titisan dajjal lagi?" ucapnya mendesah kecewa. 

Aku mengangguk, sama sepertinya sedikit kecewa. 

"Kamu sabar ya, Sayang," Mas Bagas mengusap kepalaku lembut. 

Aku hanya mengganguk meng-iyakan.

* * * * * 

Tok! Tok! Tok!

Aku menghembuskan nafas kesal. Kala merasa ada yang menggangu waktu santaiku yang lagi bermanja-manja pada Mas Bagas. 

"Buka pintu dulu, Sayang. siapa lagi sekarang, " Kata Mas Bagas lembut. Seolah tau akan ada kejadian tidak mengenakan lagi. 

Aku menghela nafas pasrah, berjalan kearah pintu dan membukanya. 

Terlihat Hesty tengah berdiri menenteng tas di lengan kirinya. Memakai baju ketat dan terbuka yang menampilkan bagian atas buah dadanya. 

"Ehh, Mbak Dewi... " dia tersenyum kearahku, Aku hanya menatapnya tak minat. 

"Ada apa, Mbak Hesty?" 

"Begini Mbak, Maaf nih sebelumnya.  Saya mau ke supermarket depan, tapi mobil saya mogok. Boleh minta tolong Mas Bagas buat anterin saya nggak ya?" 

Aku menatapnya datar. 

"Sebentar Mbak, saya bilang suami saya dulu," kataku lalu meninggalkannya di luar. Bodo amat dah! Nggak ku kasih pintu masuk. 

Aku berjalan menghampiri Mas Bagas yang sedang asik menonton televisi dengan cemilan di tangannya.

"Mas... "

Mas Bagas menoleh,"Iya, Sayang. Siapa yang datang?" tanyanya. 

"Itu sih Hesty minta anterin ke supermarket depan."Ucapku ketus. 

Mimik wajah Mas Bagas berubah kesal,  "Kamu saja sana. Mas males, sekalian beli apa yang kamu mau," 

Aku berbinar. Mas Bagas menolak? Yes!

"Beneran, Mas?" tanya sekali lagi. 

"Iya. Lagi pula ngapain minta anter sama Mas. Kalo alasan mobil rusak, ojek atau taksi banyak! Udah lah, kamu aja ya?" 

Aku mengganguk meng-iyakan. Lagi pula aku nggak ikhlas suami tampanku antar cewek gatel kayak si Hesty! Mau baku hantam? Ayo! Siapa takut. 

Aku langsung bergegas mengganti bajuku, dan sedikit merias wajahku. Setelah beres aku langsung pamitan pada Mas Bagas dan mengambik kunci mobilku. 

"Jangan lama-lama, Sayang, "Rengeknya manja. Aku juga sebenarnya malas, masih betah bermanja-manja sama Mas Bagas. Tapi dari pada Mas Bagas anterin si Hesty kan? Bisa nyesel tujuh turunan delapan tanjakan aku kalo sampe itu terjadi. 

Aku mengganguk,"Sebentar aja, Mas. Kalo dia lama aku tinggalin," kataku kesal lalu mengambil tasku dan bergegas pergi. 

Aku melihat Hesty yang lagi duduk di sofa ruang tamu dengan kaki kanan yang di tumpuk pada kaki kiri. sambil menengok kesana kemari memperhatikan fotoku dan Mas Bagas. 

Aku tersenyum sinis. 

Dia menyadari kehadiranku dan langsung buru-buru bangkit. "Mana Mas Bagasnya, Mbak?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan suamiku. 

"Suamiku lagi istirahat. Sama aku aja, sekalian aku mau beli sabun mandi." kataku lalu berjalan duluan. 

Pas aku sampai depan rumah, ingin menutup pintu rumahku, terlihat Hesty masih di dalam dan berjalan pelan menuju kamarku. Aishh! Menyusahkan.

"Hesty. Ayo!" ucapku kesal. 

Dia tersentak kaget dan berjalan kearahku sambil menghentak-hentakan kakinya kesal. 

Hesty kenapa? Apa dia beneran menyukai suamiku? Tidak akan aku biarkan!

Setelah menutup pintu, aku langsung masuk kedalam mobil yang diikuti Hesty. Tadinya dia akan duduk di kursi penumpang, tapi aku langsung menyuruhnya duduk di kursi depan bersamaku. Enak saja! emang aku supirmu?

Aku melajukan mobil dengan santai. Tidak berniat mengajak Hesty untuk berbicara dan sepertinya Hesty juga masih marah kepadaku karena meng-gagalkan rencananya untuk mendekati suamiku. 

Tapi, maaf Hesty. Aku tidak perduli walau kau marah sekalipun! Suamiku tetap suamiku. Mas Bagas tetap milikku! Aku tidak akan membiarkan hama sepertimu untuk masuk, walaupun hanya sedikit ke ruang kebahagiaan kami.