DUNIA KEMATIAN?

Part 3

Dunia Kematian?

Glup! Glup!

Tika tak kuasa menahan tubuhnya yang masuk dengan cepat ke dalam air. Hidung dan mulutnya terasa megap karena kemasukan air. Dengan menahan perih, dia berusaha mengejapkan mata untuk mempertahankan kesadaran. 

Air yang terminum semakin banyak. Tubuhnya jatuh semakin dalam meskipun dia dengan sekuat tenaga berusaha menggerakkan kaki dan tangan seperti gaya renang orang-orang yang ahli. Dia memang tidak tahu berenang. Dalam pikirannya yang kalut, terbersit suatu penyesalan, seandainya dia tahu akan ada saat seperti ini, dia akan belajar berenang meskipun harus mati-matian.

Waktu terasa melambat mengimbangi kecemasan dan ketakutan Tika yang semakin menyiksa. Sempat terlintas dalam benaknya kemungkinan jika dia akan mati saat itu juga. Tiba-tiba saja banyak kejadian dalam ingatan gadis itu seolah terputar kembali dalam bayangannya: keluarga, kuliah, teman-teman, impian, dan semua yang sebentar lagi akan hilang tak berbekas. Bahkan dirinya sendiri pun akan hilang dari kehidupan ini. 

'Benarkah begini akhirnya?' pikir Tika tak terima. Dia berusaha meraih ke atas dan semakin ke atas. Namun, sekali lagi dia terjatuh kembali ke dalam air meskipun kali ini terasa lebih cepat. Sekilas dia teringat film Alice Wonderland. 

Antara sadar atau tidak, dia melihat sebuah tempat yang tidak pernah disaksikannya sebelumnya di sisi kanan dan kiri air. Tempat itu ibarat kerajaan zaman dahulu yang dilihatnya di buku sejarah dan ada di daratan. Tangannya terulur. 
Gadis berambut sebahu itu merasa tempat itu begitu dekat untuk diraih. Dia menggerakkan lagi tangan dan kakinya untuk bisa menggeser tubuhnya ke dinding air kemudian menjulurkan tangan sekali lagi.

Berhasil! Tangannya bagaikan memegang tirai air yang mirip gorden lalu menyibakkan tirai itu. Dengan tirai air sebagai pegangan, dia mendorongkan badan ke depan.

"Ah! Tolong!"

Tika menjerit minta tolong karena tanpa disangka-sangka, dia terjungkal lalu terjun bebas bagaikan jatuh dari langit. 

Untunglah dia berhasil terjatuh di kolam kecil yang airnya dangkal dan tanah dasarnya lunak. Tak menyerah, di berhasil keluar dari air dengan napas memburu dan lelah luar biasa. Sempat terpikir olehnya, ada yang aneh, namun dia keluar dengan menyeret tubuhnya ke daratan. Lalu, sesampai di pinggir, dia berbaring dan akhirnya tertidur karena lelah.

   ***

Krak! Tika terbangun oleh suara ranting yang sepertinya patah oleh sesuatu. Kesadarannya ternyata telah kembali, namun dia menggeliat seolah semua ini hanya ada dalam mimpinya. 

Sekali lagi, gadis itu mendengar suara yang sama seperti sebelumnya, namun lebih keras lagi. Kali ini, dia tersentak bangun dan mencoba berpikir apa yang terjadi. Tidak mudah sebenarnya karena rasa lapar dan rasa sakit seluruh badannya seolah menelan kemampuan berpikir otaknya. Otak itu kini menjadi lamban dan kepalanya pusing.

Dengan mengandalkan kekuatan yang masih tersisa, gadis itu membuka kelopak matanya perlahan. Pandangannya sayu dan menyipit akibat cahaya yang menyerang secara langsung.

'Sudah berapa lama aku tertidur? Di mana aku? Apakah aku sudah selamat atau sudah di surga?' pikirnya tanpa jeda tanpa satu pun dari pertanyaan itu yang sanggup terjawab olehnya.

Kesadarannya mulai kembali. Benaknya kini mampu memberi gambaran akan posisinya yang ternyata sedang bertelungkup di tanah dan rerumputan. Dia merasakan seluruh badannya sakit dan kebas ketika berusaha digerakkan.
Dipandangnya segala sesuatu yang bisa terlihat secara lurus ke depan. Ada sesuatu yang tidak dikenalinya berada di daratan. Sesuatu seperti ekor dan berwarna keemasan. Perlahan dia mendongakkan kepala untuk melihat apa itu. 

"Hah?!" Tika berteriak saking terkejutnya.

Seekor ikan besar berdiri dan menatapnya tajam dari atas.

Dengan refleks, Tika berguling menjauh lalu terduduk dengan ekspresi pucat.

(Bersambung)

Komentar

Login untuk melihat komentar!