2
PK 2

Sandra bergegas membersihkan diri di kamar mandi kala ia baru saja tiba hotel tempatnya menginap. 

Meski Sari sudah meminta agar ia menginap di rumah mereka, tapi Sandra menolak dengan halus demi menjaga privasinya sendiri. Lagi, mereka akan menjadi besan dalam dua hari ke depan. Tak elok rasanya serumah dengan calon besan dan menantu. 

Sandra sangat senang kala teringat dengan ucapan Sari sebelum ia pulang tadi. 

"Naya pasti setuju. Mbak Sandra siapkan saja semua. Dua hari lagi mereka nikah." 

Sesaat, Sandra merasa sangat bersalah pada Naya, sebab gadis itu harus merelakan masa depannya dengan menjadi istri kedua. Niat awalnya hanyalah ingin bersilaturahim, tapi berubah haluan kala mendapati Naya yang masih sendiri. Ditambah lagi kala mendapati gadis kecil yang dulu begitu manja itu berubah menjadi wanita dewasa yang ayu lagi penurut.

Sebenarnya, Sandra tak pernah berniat menghadirkan orang ketiga di kehidupan anaknya. Namun, ia yang sudah sepuh sangat ingin menimang cucu sebab menantunya yang tak kunjung hamil. Ia sama sekali tak membenci menantunya perihal keturunan yang tak kunjung hadir. Oleh karenanya, sebelum berangkat ke kota ini, ia terlebih dulu meminta agar Aeera, menantunya, memberi ijin. Sebab kedatangannya ke kota ini adalah ingin mencari istri kedua untuk anaknya dan tak menyangka jika pilihan itu jatuh pada Naya. 

"Aeera ikhlas, Bu. Aeera ikhlas," ucap Aeera beberapa hari lalu. Perempuan itu terisak di pangkuan ibu mertua yang telah dianggapnya seperti ibu kandung.

"Ibu hanya ingin cucu, Ra. Ibu pastikan Arik berlaku adil pada kalian berdua," ucap Sandra seraya mengusap rambut legam milik menantunya penuh rasa sayang. 

Meski Sandra tahu bahwa tak ada wanita yang ingin dipoligami, tapi keinginannya untuk segera menimang cucu sebelum Tuhan memanggilnya pulang, tak dapat dibendung. 

Selain cantik dan cekatan, Aeera adalah menantu yang sempurna ahlaknya. Perempuan itu bersikap selayaknya seorang putri pada ibu kandungnya. Hanya saja, hingga pernikahan putranya memasuki usia delapan tahun, menantunya itu tak kunjung hamil. Meski dokter meyakinkan bahwa tidak ada masalah pada putra juga menantunya, Sandra sungguh tak dapat lagi menahan kerinduannya akan kehadiran seorang bayi di keluarga mereka. 

Sandra mengambil ponsel, lalu mencari kontak Arik dan melakukan panggilan. 

.

Lalu lintas yang tak begitu ramai memudahkan Arik sampai di rumah lebih cepat. Biasanya, lelaki itu kerap terjebak macet, hingga ia tiba di rumah menjelang isa. Namun, hari ini tampaknya semesta sedang berpihak padanya. 

Menjelang senja diantar langit berwarna jingga, akhirnya mobil yang ia kendarai memasuki halaman rumah. 

Arik baru saja menginjakkan kakinya di teras, kala ponsel di saku celananya berdering. Dahinya berkerut mendapati nama ibunya tertera di layar.

"Tumben Ibu nelpon," batinnya. 

Biasanya, Sandra lebih sering menelpon Aeera, jika perempuan itu memiliki keperluan pada Arik. 

"Assalamualaikum, Bu," ucapnya. 

" ... "

Mendengar ucapan ibunya di seberang telepon, Arik terdiam. Ia mencengkeram kuat ponsel dengan gigi yang bergemelutuk. Rahang lelaki itu mengeras, pertanda ia tengah berupaya menahan amarah yang siap meledak. 

"Iya, Bu. Waalaikumsalam," jawabnya singkat. 

Usai menutup telepon, Arik mengusap wajahnya, lalu menarik rambutnya kuat-kuat. 

"Mas," panggil Aeera yang masih mengenakan jubah mandi. 

Aeera terkejut melihat wajah suaminya yang mengeras. Arik melangkah maju, lalu mencengkeram pergelangan tangan istrinya dan membawanya masuk ke kamar. Lelaki itu bahkan tak peduli dengan istrinya yang kesakitan akibat cekalannya yang terlalu kuat. 

"Apa maksud kamu, Aeera?" tanya Arik marah. 

Dahi Aeera berkerut mendapati perlakuan aneh lagi kasar dari suaminya.

"Maksud Mas apa?" tanya Aeera takut. Tak pernah sekali pun ia melihat suaminya semarah ini. 

"Apa maksud kamu biarin Ibu cari istri buat Mas?" tanya Arik dengan suara penuh tekanan. 

Seketika, wajah takut Aeera berubah sendu. Perempuan itu tahu bahwa hari ini pasti terjadi. Oleh karenanya, ia telah menyiapkan hati juga mental menghadapi kemarahan suaminya. 

Aeera mendekat, lalu mengalungkan lengan di leher suaminya dengan kepala bersandar di dada bidang lelaki itu. Meski kemarahannya telah sampai di ubun-ubun, tapi mendapati perlakuan istrinya perlahan-lahan amarah itu redup. Arik balas merengkuh dan menciumi bahu istrinya yang wangi. 

"Aeera nggak ada pilihan lain, Mas. Ibu udah pengen cucu, tapi Aeera belum bisa ngasih." Suara yang bergetar dan air mata yang luruh itu adalah pertanda betapa hatinya sangat terluka. 

Arik mengeratkan pelukan, lalu menenggalamkan kepala di ceruk leher istrinya. 

"Mas nggak bisa, Sayang. Mas nggak bisa." 

Kedua suami istri itu larut dalam kesedihan. Keduanya berbagi keresahan juga pelukan satu sama lain. 

"Aeera ridho, Mas," ucap Aeera serak. Air matanya kembali luruh. 

Entah bagaimana nasib pernikahannya kelak, jika ia benar-benar harus berbagi suami dengan wanita lain. 

"Tapi Mas enggak."

Aeera melepas pelukan, lalu menangkup wajah suaminya. "Demi Ibu, Mas. Demi Ibu. Semoga dengan kepatuhan Mas sebagai anak bisa membuat takdir berbaik hati pada kita," rayu Aeera. 

Menatap sepasang mata istrinya yang berkaca-kaca, Arik kembali merengkuh tubuh mungil Aeera. 

"Ibu sudah nemu calon buat Mas?"

"Hmm."

"Jadi, kapan nikahnya? "

"Dua hari lagi."

Jantung Aeera seperti diremas mendengar ucapan suaminya. Meski telah menguatkan hati, tapi mengetahui suaminya akan menikah dalam waktu dua hari nyatanya membuat hatinya patah dan berdarah. Jika boleh, rasanya ia ingin berteriak dan menahan agar suaminya tak menikahi wanita mana pun selain dirinya. Namun, ia bisa apa? Ia tahu persis bahwa seorang anak laki-laki adalah milik ibunya. 

Jadi, yang bisa ia lakulan adalah memberi restu agar sakit hatinya tak terasah semakin tajam. Lagi, ia tahu bahwa sejak dulu Arik begitu memuliakan ibunya. Aeera tidak ingin suaminya menjadi anak durhaka hanya karena keegoisannya. 

"Ibu suruh berangkat besok. Kamu ikut, ya?" pinta Arik. 

Aeera tertawa pelan. "Mana boleh begitu. Mas berangkat sendiri saja. Aku biar tunggu di rumah."

"Kalau kamu nggak temenin, Mas nggak akan pergi."

"Mas." Aeera mendesis.

"Pergi atau tidak."

Aeera menarik napas, lalu mengangguk. Entah akan seperti apa penampilannya di sana. Menghadiri pernikahan suaminya hanya akan membuat rongga dadanya semakin menyempit. 

Setelah ini, Aeera tentu tahu harus bersikap bagaimana. Ia hanya berharap agar cinta dan kepercayaan yang mereka bangun delapan tahun terakhir tak'kan karam semudah itu dengan kehadiran orang ketiga.

Komentar

Login untuk melihat komentar!