Semakin Panik
Didalam sebuah cinta terdapat bahasa
Yang mengalun indah mengisi jiwa
Merindukan kisah kita berdua
Yang tak pernah bisa akan terlupa
Bila rindu ini masih milikmu
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu
Harus brapa lama aku menunggumu aku menunggumu
Didalam masa indah saat bersamamu
Yang tak pernah bisa akan terlupa
Pandangan matanya menghancurkan jiwa
Dengan segenap cinta aku bertanya
Bila rindu ini masih milikmu
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu
Harus brapa lama aku menunggumu aku menunggu

Ada yang berdenyut di dalam sini, saat mendengar setiap bait alunan lagu yang Dewa nyanyikan. Suara merdunya semakin membuat lagu tersebut menyentuh hati. Sebab setiap syairnya seolah tengah mengisahkanku di masa silam. 

Harus berapa lama aku menunggumu? 

Ingatan kembali di masa itu. Aku menatapnya dari jauh. Meski begitu, rasa bahagia tetap mampu kurasakan. Jangankan bisa melihat wajah itu, melihat punggungnya dari kejauhan pun membuat jantungku terus berdebar tak menentu. 

Tapi apalah dayaku, itu semua nggak mungkin terjadi. Bahkan Dewa pun mungkin nggak pernah mengira ada aku yang hidup di muka bumi ini. 

"Kita main seru-seruan, yuk!" ajak Mona.

"Apaan?" tanyaku curiga. Mengingat terkadang kelakuan anak itu memang di luar nalar. 

"Aku traktir makan bakso, tapi makannya harus adu cepat. Siapa yang menang, dapet traktiran bakso selama satu minggu di kantin, dan yang kalah dapet hukuman." 

Benar dugaanku. Lagi-lagi dia menciptakan game yang melibatkan dan pastinya mempertaruhkan harga diri. 

"Yang kalah hukumannya apa emang?" tanya Novi, mewakili pertanyaanku juga.

"Rahasia. Mulai aja dulu lombanya." 

Aku mengerutkan dahi. "Kasih tau dulu. Kamu kadang suka nguji nyali orang masalahnya!" ketusku. 

"Enggak. Ini rahasia negara!" 

Aku dan Novi memutar bola mata malas. Mentang-mentang yang keluar modal buat taruhan, peraturan seenaknya dia yang tentukan. 

Akhirnya aku dan Novi menyetujui. Lumayan juga kalau menang, uang jajan dari Ibu bakalan utuh karena dapet traktiran dari Mona. 

Satu jam kemudian. 

Kali ini nasib baik lagi nggak berpihak pada anak tercantik di rumah ibu. Iya tercantik, karena satu-satunya anak perempuan di sana. 

Aku yang kalah, sedangkan Novi yang mendapatkan traktiran seminggu karena menang. Sementara Mona, kalah atau menang dia tetaplah donatur, yang maunya hanya mengatur. 

"Apa hukumannya?" tanyaku. Awas saja kalau aku harus bilang I Love You sama anak cowok. 

Mona terlihat tengah berpikir. Padahal semakin lama dia berpikir, akan semakin aneh yang bersarang di otaknya. 

"Kasih sesuatu ke cowok yang kamu suka." 

Refleks aku membulatkan mata. "Kasih apaan?" 

"Apa aja. Terserah kamulah!" 

"Nggak ada. Nggak ada cowok yang aku suka!" elakku. Apa yang ada dalam hatiku memang nggak ada yang tahu, termasuk mereka berdua. 

"Bohong kamu, orang aku sering liat kalo ada geng cowok IPS lewat kamu liatinnya sampe nggak berkedip tau, nggak!" Novi ikut memojokkanku. Mentang-mentang jadi pemenang.

Kasih apa coba? Kasih hati dan perasaan? Yang ada aku bakalan ditolak mentah-mentah sama si Jungkook. 

"Dipikir kita nggak tau ya, Nov?" ucap Mona, menyenggol lengan Novi dan saling melirik. Kali ini mereka berdua lagi kompak dan sekongkol menyerangku. Awas saja! 

Tapi ... gawat juga kalau mereka beneran tahu siapa yang sebenarnya aku taksir. Bisa gawat, malu setengah mati karena cinta ini tak mungkin sampai. 

"Buruan mikir mau kasih apaan? Kalo kelamaan, kita berdua yang nyamperin tuh cowok, terus bilang kalo kamu diam-diam suka." 

"Heh! Jangan ngadi-ngadi, deh!" Aku mulai panik. Bisa-bisanya si Mona main ngancem segala. 

"Emang tau siapa cowok yang aku suka? Main samperin aja?" tanyaku, sekaligus ingin memecah rasa penasaranku. 

"Taulah!" seru Mona dan Novi bersamaan. 

Gawat. Dunia sedang tidak baik-baik saja, kalau kedua pembuat onar itu tahu isi hatiku. Ini tidak bisa dibiarkan!

"Si-siapa emang?" tanyaku terbata, saking paniknya. 

Mona dan Novi saling berhadapan. Keduanya melempar senyum menyeringai cukup menyeramkan. 

"Ferdi, kan?" bisik keduanya. Membuatku bisa sedikit bernapas lega. 

Ferdi adalah anak IPS yang kebetulan satu geng dan ada di kelas yang sama dengan Dewa. Setahuku mereka juga duduk satu meja. Sukurlah, tebakan mereka meleset. 

"Tau dari mana emang?" 

"Udah ngaku aja! Buruan mikir mau kasih apaan, Git?" 

Aku berpikir sejenak. Aku cukup lega karena mereka masih nggak tahu siapa yang aku suka, tapi aku masih punya masalah harus kasih apa pada Ferdi. 

Setelah penuh dengan pertimbangan, akhirnya aku merahasiakan apa yang ingin kuberikan. Mona dan Novi hanya melihat kotak kecil yang membungkus sesuatu di dalamnya. 

Penuh dengan drama, kami ke kelas IPS untuk memantau sampai kelas kosong. Nggak mudah, karena aku benar-benar nggak mau sampai ketahuan siapa pun. 

"Buruan masuk, Git!" Mona mendorongku ke dalam kelas. Sementara mereka berdua berjaga di depan untuk melihat situasi dan kondisi. 

Aku menatap kedua tas yang bersandar si kursi. Tentu saja aku tahu mana tas milik Ferdi dan mana milik Dewa. 

"Buruan, Git!" bisik Novi dari balik pintu. 

Gegas, aku membuka tas Dewa untuk memasukkan kotak berisi puisi yang ditulis dengan tanganku sendiri, lalu segera menutupnya. 

Selanjutnya aku segera lari untuk keluar kelas. Setelah keluar, Novi dan Mona pun ikut lari mengejarku dari belakang. 

Ini benar-benar Gila! 

Lamunanku terpecah saat seseorang menepuk bahuku cukup kuat. 

"Ferdi dateng, Git!" bisik Mona, sambil menunjuk ke arah yang dimaksud. 

Aku menoleh, dan benar ada dia yang masih berdiri menatap Dewa yang baru saja menyanyi. 

"Cie ... ketemu lagi sama Ferdi!" goda Mona. Dia nggak tau kalau aku malah lagi berkecamuk karena Dewa. 

"Oke temen-temen, terima kasih untuk tepuk tangannya. Kali ini, aku ingin menunjukkan sesuatu sama kalian. Sekaligus bertanya, sekiranya ada yang tau milik siapa benda yang aku maksudkan tadi." 

Astaga ... Dewa benar-benar melakukan itu! 

Dahlah, kali ini aku harus pura-pura jadi rumput yang bergoyang!