Pesan Masuk
Apa dia ingat lagi soal sayembara? 

Dia akan mengulanginya untuk mengumumkan pada semua orang? 

Matilah kau, Gita! 

Begitulah kalimat demi kalimat yang berkecamuk di dalam kepala. Seolah tengah mengepungku yang memang sudah terpojok sejak awal. 

"Udah ... udah, suara radio rusak tau?" ucap Dewa sambil merebut mikrofon dari Ferdi. 

"Enak aja! Lagi mau nyanyi sama Gita ini!" Ferdi merebut mikrofon itu lagi. 

"Lu ngelawak aja udah, nggak usah sok-soan nyanyi. Yang ada bikin semua orang di sini kudu pergi ke dokter THT!" Dewa merebut lagi untuk kedua kali. 

Kenapa jadi berebut mikrofon, sih? Padahal, kan, sudah punya masing-masing. 

Musik berhenti. Kali ini yang terdengar hanya gelak tawa dari semua alumni. Mereka tahu betul keduanya sering kali bercanda kelewat batas. 

Sementara aku masih mematung, meski merasa beruntung karena keduanya masih berdebat dan tentunya aku nggak jadi nyanyi. 

"Udah turun aja, turun! Malu-maluin nenek moyang lu!" omel Dewa, lalu memberikan mikrofon itu pada penyanyi yang diundang dalam acara reuni ini. 

Tanpa bicara, aku pun melakukan hal yang sama. Dewa menarik tangan Ferdi untuk turun dari panggung, sedangkan aku menunggu Dewa untuk menurunkan harga diriku, aku rela. Enggak dong, Bestie. Turun sendiri, nggak boleh manja kata Pak Guru.  

Meski gagal menyanyi, semua orang bertepuk tangan dan menyoraki. Sudah pasti yang mereka soraki adalah kedua bestie yang berjalan di depanku itu. 

Baiklah, yang jelas kali ini aku masih selamat. Seenggaknya Dewa sekarang lupa dengan tujuan sayembaranya. Bisa bernapas lega akhirnya. 

"Wah ... payah, masa nggak jadi nyanyi!" Mona menyusulku yang berjalan menuju kursi tempat di mana kami duduk sejak awal datang. 

"Au, ah!" kesalku. Dia yang sudah bikin suasana semakin runyam, tega-teganya! Bestie macam apa dia? 

"Padahal ini kesempatan langka, Git. Kapan lagi bisa duet sama cowok idaman pas sekolah dulu?" 

"Bisa diam tidak?" kesalku lagi, sambil melotot. Rasanya ingin kumakan hidup-hidup itu anak sampai ke tulang-tulangnya. Dia adalah satu-satunya dalang di balik kerunyaman ini semua. 

"Ferdi tambah ganteng ya, Git? Mana jomblo juga katanya." Mona masih belum menyerah. Rupanya masih berusaha untuk menaikkan tekanan darahku. 

"Kamu juga jomblo. Nggak usah mikirin nasib orang." 

"Dih, aku mah lagi nungguin Erik. Emang kamu, yang suka dari jaman sekolah sampe sekarang nggak bisa ngungkapin!" 

Capek banget sumpah jadi bestie dia! 

"Eh, ngomong-ngomong, dulu yang kamu masukin ke tas Ferdi apaan emang, Git?" tanya Mona. Padahal aku sudah frustasi di buatnya. 

"Kepo!" ketusku, sambil mengurut pelipis. "Kita pulang sekarang, yuk, Mon! Serius aku udah nggak tahan." 

"Nggak tahan pengen nembak Ferdi?" 

Buk!

Akhirnya sling bag yang kubawa mendarat di wajah Mona. Itulah jawaban atas ribuan pertanyaan yang selalu merepotkanku. 

"Auw ...! Jahat banget, anak Raja Firaun!" kesalnya, sambil memegangi kening. 

"Buruan pulang." 

Aku bangun dari duduk, lalu menggandeng tangan Mona untuk segera pergi dari tempat yang menyiksa ini. Sebelum Dewa sadar dan membahas soal surat itu lagi. 

"Gita!" Suara memangil dari seseorang membuat langkahku kembali terhenti sama sekali. 

Aku dan Mona menoleh ke sumber suara dengan bersamaan. Ternyata Ferdi, ia berjalan mendekati kami berdua. Sementara tatapanku tertuju pada Dewa yang berdiri di belakang Ferdi. Ia tengah sibuk dengan gawainya. Juga ... surat yang ada di tangan kirinya. 

Keinginanku untuk pergi dari tempat ini memang keputusan yang tepat, sebelum terjadi peristiwa yang lebih menakutkan lagi. 

"Mau ke mana, Git?" tanya Ferdi. 

"Pulang duluan, Fer. Di rumah udah ditungguin soalnya," kilahku. 

"Gitu, ya? Emm, boleh save nomor kamu nggak, Git?" Pertanyaan Ferdi cukup membuatku terkejut.

Sementara Mona tiba-tiba menyenggol lenganku pelan, sambil matanya berkedip beberapa kali. Mulai cacingan kayaknya, perlu dibeliin  Combantrin. Maaf, sebut merk, tapi bukan endorse. 

"Boleh, Fer." 

Aku merogoh ponsel dari tas. Sebelum menyebutkan nomor, aku kembali melirik Dewa yang masih berdiri di tempat yang sama. Ia tampak tak acuh soal Ferdi yang meminta nomor padaku. Lagipula, memang seharusnya begitu, kan? Apa yang aku harapkan? 

Tentu saja Dewa nggak peduli dengan apa pun tentangku atau siapa pun. 

"Akhirnya," bisik Mona. Lagi-lagi dia berisik. Lama-lama kuaspal juga bibir lima sentinya. 

Aku mulai menyebutkan angka-angka dari nomorku, yang langsung dicatat oleh Ferdi sampai selesai. 

"Udah, Git. Makasih, ya?" ucapnya. 

Aku tersenyum santun. "Sama-sama, Fer." 

"Nanti aku chat, boleh?" 

Aku mengangguk. "Boleh." 

Kemudian aku memutuskan untuk pamit dan segera pergi dari tempat itu. Sampai pergi pun, Dewa masih saja terlihat sibuk. Kalaupun bukan sibuk, memang begitulah sikap cueknya. 

***

"Assalamualaikum ...!" ucapku saat masuk ke rumah yang terlihat sepi. 

Mungkin Ibu masih di acara arisan. Kalau Bapak biasanya memang pulang malam dari toko tekstilnya. Harusnya di rumah ada Abang Galih, apa mungkin dia belum lahir? Ah, hatiku memang sedang sangat kacau, karena balon hijau yang sudah meletus. 

"Bang ... tidur, ya?" teriakku, saat menghempaskan diri di sofa ruang tengah. 

"Iya!" 

Aku melirik ke pintu kamarnya yang tertutup. "Tidur, kok, nyaut!" gerutuku. 

"Bikinin kopi, dong, Dek!" teriaknya dari dalam kamar. 

Aku berdecak kesal. Hari ini sangat melelahkan, kenapa aku juga harus bikinin kopi buat si abang yang menyebalkan itu. 

Kali ini aku menyesal tadi sudah memanggilnya. Aturan langsung saja aku masuk ke kamar, dan pura-pura nggak tahu kalau dia belum lahir. 

"Kalo nggak mau, abang jodohin kamu sama temen tongkrongan abang!" 

"Ogah ...!" kesalku. Lalu terpaksa bangun dan berjalan ke dapur untuk membuatkan kopi. 

Beginilah nasib adek perempuan. Apa-apa selalu adek. Pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, nggak ada habisnya setiap hari. Itu pun biasanya nggak ada orang yang menyaksikan. Berbeda saat adek perempuan baru saja duduk santai dan menyalakan ponsel, barulah semua makhluk di muka bumi menyaksikannya, lalu menganggap anak gadis satu-satunya ini menyandang sebagai cewek termager di Pluto. 

Ponsel terasa bergetar saat aku selesai mengaduk kopi dalam cangkir. 

"Siapa lagi, tuh? Jangan sampe cari masalah juga, deh. Lagi pengen nelen seblak ini," gerutuku. 

Aku meletakkan sendok dengan asal. Lalu mengambil ponsel yang ada di saku. Ada satu pesan yang masuk, dan itu nomor baru. 

[Assalamualaikum, Git. Save nomorku, ya?]

Tanpa foto profil, tanpa nama profil, dan tanpa kasih nama di pesan itu. Lalu aku harus simpan nomornya? Pura-pura bingung nih orang hidupnya. Jangan salahkan, kalau nanti kukasih nama ayang di kontak. 

Meski masih ragu, tapi kemungkinan besar nomor baru tersebut adalah Ferdi. Jelas saja, dialah yang tadi siang meminta nomorku. 

Karena nggak ada kerjaan, aku memasukkan nomor tersebut ke aplikasi pelacak nomor baru untuk mengetahui siapa pemiliknya. 

Satu detik kemudian mataku membulat sempurna, saat nama yang tertera di layar membuatku tak menyangka. 

Dewangga Arkatama Pudlian.