Salah Paham
"Dewa ...!" teriakku, dengan berjalan cepat mendekatinya yang masih ada di atas panggung kecil itu. 

Seketika lelaki yang terlihat tengah berusaha mengambil sesuatu di sakunya itu, kini seolah mengurungkan niatnya dan mengangkat wajah menatap ke arahku. 

Nggak mungkin aku membiarkan diriku malu di depan orang sebanyak ini. Memang betul hanya sebagian yang mungkin mengenalku, tapi tetap saja harga diri ini dipertaruhkan kalau seorang Gita Arsyavani mengirim surat pada Dewa, cowok terganteng di sekolah dulu. 

Napasku cukup terengah saat sudah ada di hadapan Dewa. Aku melirik ke arah tamu undangan, semua pasang mata tertuju pada kami berdua. 

"Kenapa?" tanya Dewa. Dahinya terlihat mengerut, mungkin nggak pernah nyangka aku bakalan naik menyusulnya. 

"Aku ... aku ...." Entah, aku belum sempat berpikir apa yang harus aku katakan. Yang jelas, yang kuinginkan hanyalah pindah ke planet Mars saja sekarang juga.  

"Ada apa, Git?" tanyanya sekali lagi. Sementara aku semakin panik hingga hanya bisa memainkan jemari. 

"Aku--" 

"Kenapa?" 

"A-aku mau nyanyi," sahutku asal. Lalu refleks memejamkan mata, menyesali apa yang sudah kukatakan tadi. 

Gimana enggak, suara induk bebek yang lagi cari anak-anaknya jauh lebih merdu dibandingkan suaraku. Rasanya muka ini pengen aku umpetin di selangk*ngan saja. 

"Oh ... boleh. Mau nyanyi sendiri? Apa mau duet?" Pertanyaan Dewa membuatku kembali berpikir. Mungkin nggak jadi malu-malu banget kalau aku ngajakin temen buat duet di atas sini. 

Ada kucing nggak, ya? Paling enggak suara sumbangku akan samar dengan suara mengeong. 

"Nyari apa, Git?" tanya Dewa, saat aku tengah kebingungan mencari sesuatu. 

"Nyari harga diri." 

"Hah?" 

Sekali lagi aku melirik ke arah semua alumni, mereka masih menatapku sinis. Entah karena aku yang mendekati Dewa, atau karena tengah heran dengan apa yang kulakukan. 

"Gita ... nyanyi sama Ferdi aja!" teriakan Mona, kali ini membuat perhatian semua orang teralihkan. 

Ternyata kini ia sudah berdiri di dekat panggung. Saking paniknya, aku nggak tahu kalau Mona sejak awal mengikutiku. 

Sementara Ferdi yang masih berdiri, wajahnya seketika berubah kebingungan. Semua orang menatapku, Mona, lalu Ferdi secara bergantian. Sampai-sampai gerakan menoleh semua orang seolah serentak. 

"Apa? Saya di mana?" ucap Ferdi, dengan satu tangan membawa gelas yang mungkin berisi es tea jus gula batu, dan satu tangan lainnya membawa seblak porsi mini. 

"Ferdi, sini nyanyi duet sama Gita!" teriak Mona lagi. Kali ini membuat Ferdi mengerutkan dahi. 

Runyam. Suasana kian mencekam. 

"Mona!" kesalku. Bukannya bantu teman yang nasibnya lagi di ujung tanduk ini, dia malah memperkeruh keadaan.  

"Nggak apa-apa tahu, kesempatan nggak datang dua kali."  

"Ferdi ... Ferdi ... Ferdi ...!" teriak Mona sambil tepuk tangan. Beberapa saat kemudian, para alumni pun melakukan hal yang sama. 

Sontak aku membulatkan mata. Semua orang meneriaki nama Ferdi dan bertepuk tangan. Sementara aku ... jangan tanya, nyawaku hampir saja lepas landas dari tubuh yang belum punya kerjaan ini. Ingat, Bestie, aku pengangguran. 

"Cie ... Ferdi!" Beberapa alumni pun meneriaki kami. Sudah bisa dipastikan bahwa mulai ada kesalahpahaman di sini. 

Kenapa semuanya jadi runyam begini? 

"Nggak apa-apa, sama Ferdi aja, Git," ucap Dewa, semakin menambah beban hidupku. 

Ini lagi si biang kerok. Jangan sok-sokan perhatian dan kasih saran, deh. Sayangnya hanya bisa menyahut lewat suara hati, karena kalau lewat suara kent*t kayak kurang sopan, kan? 

Lebih terkejut lagi, ketika melihat beberapa alumni laki-laki mendorong Ferdi berkali-kali untuk maju ke depan panggung. Sampai gelas dan mangkuk kecil yang ia bawa kocar-kacir dan diletakkannya di meja dengan asal. 

"Weh ... gimana maksudnya, nih?" ucap Ferdi kebingungan. "Wa, baru dateng belum minum ini!" Kasihan, Gaes, es tea jus gula batunya belum sempet diminum sama dia katanya. 

Sumpah, rasanya mau pingsan saat ini juga. Kenapa semakin kacau saja? 

Aku melirik ke arah Mona. Benar saja, ia tengah kegirangan melihat aku dan Ferdi yang kini berdiri berdampingan. Gadis yang juga masih jomlo itu mengacungkan dua jempol ke arahku, sambil nyengir menampilkan gigi-gigi yang posisinya kurang kompak itu. 

"Nyanyi ... nyanyi ... nyanyi!" 

Teriakan itu terdengar sangat kuat, terutama di gerombolan alumni-alumni IPS yang kemungkinan besar dekat dengan Ferdi. Selain Dewa, Ferdi juga nggak kalah populernya. Mungkin karena dulu mereka memang satu circle. 

Pantas saja kalau Mona dan Novi menyangka aku sering mencuri pandang dengan Ferdi, sebab keduanya kerap kali berjalan beriringan. Entahlah, aku nggak pernah nyangka bakalan seriweh ini. 

Gara-gara surat keramat! 

"Insya Allah jodoh ...!" Sebuah teriakan dari seseorang yang nggak jelas wujudnya membuatku melotot. Bisa-bisanya doa semacam itu dengan mudah diserukan. 

Setelahnya, suara nyaring tepuk tangan dari semua orang yang datang terdengar memekakkan telinga. Aku nggak tahan, Bestie! 

Berawal dari menuruti Mona untuk hadir di acara Reuni karena takut kehilangan satu-satunya Bestie, sekarang aku justru tengah di ujung kehancuran, ditambah lagi kehilangan harga diri. 

"Kamu ngajakin aku duet, Git?" bisik Ferdi. Nggak salah dia tanya begitu, dari awal suasana memang memancing semua orang untuk salah paham. 

Harus jawab apa aku, wahai Netizen? 

"Oke, sebentar lagi kita akan menyaksikan duet dari dua teman kita, Ferdi dan Gita. Minta tepuk tangannya buat mereka berdua!" Suara Dewa kini berhasil mendominasi acara ini. Lalu diikuti tepuk tangan dari semua orang. 

Selanjutnya Dewa turun dari panggung. Seketika hati ini berteriak, "Bawa aku pergi dari sini, Dewa!" 

Tapi semuanya pupus. Dewa tetap turun dan nggak mungkin bisa mendengar jeritan anak tiri. Salah, jeritan anak pengangguran. 

"Mau nyanyi apa kita, Git?" tanya Ferdi.

"Kandas," jawabku asal, tatapanku masih tertuju pada punggung Dewa yang berjalan kian menjauhi panggung. 

"Kandas katanya, Mas," ucap Ferdi pada pengatur musik di sisi kanan panggung. 

Beberapa saat kemudian, musik mulai terdengar. Ferdi memberikan satu mikrofon yang mau nggak mau langsung kuterima. Aku menatap mikrofon tersebut, bentuknya seperti familiar kalau dilihat-lihat. 

Bila tiada mendalam
Cinta dan kerinduan
Tak kan terlalu dalam luka yang kurasakan
Bila saja kutahu bahwa kesetiaanmu begitu dalam padaku
Takkan aku mengingkari janjiku

Berbeda dengan Dewa, suara Ferdi terdengar cukup membuat sakit telinga, dan membuatku memejamkan mata. Belum lagi semua alumni mulai menertawakan kami berdua. Gimana kalau aku mulai nyanyi juga? 

Ada satu hal yang membuatku bergetar. Dewa berbalik dan kembali berjalan mendekati panggung. 

Kali ini mau apa dia kira-kira?