Like A Sister
“Ayo kita cari makan diluar” Nev menepuk pundah Shan begitu workspace-nya tutup. Shan menatap bingung, Ia lalu menuliskan sesuatu dikertas.
‘Aku belum beres-beres. Dan lagi, kita masih punya nasi yang bisa digoreng’ Shan menunjukkan apa yang ditulisnya.
Nev geleng-geleng dan meletakkan kertas ditangan Shan “Masa tidak boleh memanjakan diri sendiri sekali-sekali? Ayolah Shan, kita hunting kuliner malam ini.”
Nev mengaitkan lengannya ke lengan Shan dan mengiringnya keluar. Shan yang digeret menyeringai lebar tak mampu menolak. Nev memang seperti itu, Dia kadang tak terduga. Hangat, menyenangkan dan memanjakan pegawainya. 
Nev menghampiri motor matic bekas yang Ia beli dari tetangga sekitar. Motor penunjang operasionalnya kalau-kalau Ia butuh membeli keperluan pribadi, keperluan Shan ataupun workspace.
Nev yang sehari-harinya mengenakan dress duduk di kemudi, sedang Shan yang memang tak bisa mengendarai motor dan sehari-hari bercelana panjang duduk di boncengan belakangan.
“Pegangan ya.” Nev menarik tangan Shan agar berpegangan dipinggangnya.
Shan menurut, Ia mengaitkan jemarinya di pinggang kanan kiri Nev. Kalau sedang dibonceng seperti ini, Shan suka tanpa sadar memperhatikan punggung Nev.
Menurut Shan, punggung Nev seperti punggung laki-laki. Punggungnya bidang dan bahunya tegap. Saat memakai dress, tubuh Nev seperti model. Tapi entah jika memakai kemeja, mungkin Nev akan seperti perempuan berbadan laki-laki. 
“Aneh.” Shan membatin. Ia merasa konyol dengan apa yang ada dipikirannya. Kenapa Ia harus memusingkan postur dan gender saat dibonceng Nev. Apa yang salah dengan benaknya ? Shan heran.
Ia mungkin memikirkannya karena belum pernah bertemu perempuan yang seperti Nev sebelumnya. Punya wajah cantik, tinggi menyamai pria dan penampilan yang selalu anggun. Nev juga baik, pintar bergaul dan tak mudah jatuh dalam rayuan pengunjung yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikan. Nev tak seperti perempuan cantik kebanyakan yang gemar tebar pesona, Nev berbeda. Nev membuatnya ‘kagum.’
“Kita sudah sampai.” Nev membuyarkan lamunan Shan yang selama perjalanan hanya diam memandangi punggung Shan.
Nev memarkir motornya dihalaman dan turun bersama Shan. Mereka beriringan ke pendopo dalam resto De Tumpit.
Shan menyapukan pandang ke sekeliling, ini pertama kalinya Ia diajak ke tempat ini. Sementara bagi Nev, ini kesekian kalinya. Sebelumnya Ia biasa mampir di De Sumpit tiap kali berlibur bersama kakaknya. 
“Kita duduk di pojok sana saja.” Nev mengaitkan lengannya di lengan Shan.
Shan tersenyum mengangguki. Ia senang kalau sedang berjalan dengan Nev seperti ini, Ia jadi seperti memiliki kakak yang perhatian. Kakak yang tak pernah ada dalam hidupnya. Kakak yang benar-benar menjaganya.
“Kau mau pesan apa?” begitu pelayan datang dan menyodorkan buku menu, Nev menyerahkan pada Shan 
Shan melihat-lihat isi buku menu, namun tak enak memesan karena Nev yang mentraktir. Jadi Ia mendorong buku menu ke hadapan Nev dan menuliskan sesuatu di notes yang selalu Ia bawa kemana-mana ‘Aku tidak tahu mau pesan apa. Aku ikut saja apa yang kau pesan.’
Membaca tulisan Shan, Nev tersenyum. Ia mengembalikan buku menu ke pelayan dan menyebutkan pesanannya “Nasi, ikan bakar, capcay, cumi tepung dan jus tomat dua.”  
Pelayan menuliskan pesanannya dan membacakan ulang sebelum berlalu. Begitu pelayan menjauh Nev melempar pandang ke Shan yang tengah memperhatikan orang-orang yang tengah berfoto di sekitaran area luar pendopo. Area yang menawarkan pemandangan Instagramable dengan pohon-pohon yang dihias lampu dan tampak bermandikan cahaya saat senja tenggelam seperti sore ini.
“Kau mau berfoto?” 
Shan menggelengkan kepala cepat mendengar pertanyaan Shan.
“Tapi sepertinya kau menyukai pemandangan disini.”
Shan mengulas senyum dan mengangguk. Ia kemudian menuliskan sesuatu di notesnya ’Aku bisa menyimpan pemandangan disini dalam ingatanku.’
Nev yang membacanya mendadak terpikir, kalau Ia belum pernah melihat Shan mengeluarkan ponsel sejak tinggal bersamanya. Mungkin Shan tidak mau difoto karena tak punya ponsel.
“Kau punya ponsel ?” Nev menanyakan.
Shan menggeleng, Ia menjual ponselnya saat akan berangkat ke Banyuwangi. 
“Nanti selesai makan, kita beli ponsel untukmu.”
Shan menggeleng cepat. Ia buru-buru menuliskan sesuatu ‘Aku tak butuh ponsel.’
“Kau butuh. Sejak tinggal bersamaku, kau tak pernah menghubungi keluargamu. Itu karena kau tak punya ponsel kan?”
Shan tak mengangguk, atau menuliskan sesuatu. Ia hanya terpaku menatap Nev, seperti enggan untuk menjelaskan.
Nev memandang heran. Selama ini mereka memang tak pernah bicara tentang keluarga masing-masing. Namun Shan, gadis itu terlalu mungil untuk hidup sendiri. Tak mungkin Ia tak punya keluarga.
“Shan.” Nev mendadak ingin tahu.
Shan menolehkan kepala pada pelayan yang datang mengantarkan makanan. Ia membantu meletakkan ke meja, seolah mencoba mengalihkan perhatian Nev dari menanyakan kehidupannya.
“Kau pasti sudah lapar?” Nev melihat ke Shan yang mengangguki dengan cepat. Anggukan yang bagi Nev sebuah upaya untuk menghindari pertanyaannya.
Shan pasti tak ingin berbagi rahasia tentang keluarganya. Sama seperti Nev yang tak ingin berbagi identitas aslinya kalau Ia seorang pria. 
Mereka berdua hanya atasan bawahan, rekan kerja satu atap, sahabat di permukaan yang tak lebih terikat dari itu. 
Mereka dua orang yang nyaman dengan relasi sekarang, relasi ala kadarnya tanpa perlu tahu latar belakang kehidupan masing-masing atau menggali sebab kenapa mereka memilih mempercayai orang asing yang baru sekali mereka temui.


Komentar

Login untuk melihat komentar!