Flashback 6

"Bagaimana bila saya ... tak bisa memberikan keturunan."

Kalimat Inara tadi sore kini kembali muncul di pikiran Aufar. Sebuah pertanyaan tak terduga dan sayangnya tak memberi waktu lama bagi lelaki itu untuk berpikir, hingga ia hanya bisa menjawab agar tak baik berburuk sangka atas takdir Tuhan. Agar membuat Inara tenang.

Ditatapi wajah perempuan yang kini sedang terlelap di sampingnya. Tak seperti malam-malam sebelumnya, kali ini justru Aufar yang tak bisa terlelap.

Memikirkan bagaimana memenuhi kewajibannya atas Inara. Tentang rumah kedua yang belum bisa terbeli, tentang rasa yang mulai terbagi, juga tentang pertanyaan tadi.

"Bapak belum tidur?"

Inara akhirnya menyadari bahwa suami tidak terlelap, saat perempuan itu terbangun karena desakan kandung kemih yang harus dikosongkan.

Aufar hanya tersenyum merespon pertanyaan istrinya, lalu membiarkan Inara menuju kamar mandi hingga beberapa saat.

"Atau bapak mau saya pijitin di kepala, biar ngantuk?" tanya perempuan itu saat kembali.

"Boleh ... tapi bisakah jangan panggil saya Pak dulu malam ini? Cobalah buat satu panggilan baru."

"Om?"

"Saya bukan om-om seperti di panti-panti pijat itu Inara."

"Mas?"

"Jangan. Terlalu biasa."

"Juragan?"

Kini keduanya malah tertawa, tanpa mencoba lebih jauh demi menemukan panggilan menarik. Perlahan tangan Inara mulai bergerak memberikan tekanan pada kepala Aufar, tak ada percakapan apapun selama belasan menit berlalu.

"Kak Via kapan pulang ya?" tanya Inara tak ingin dilingkupi kebisuan.

"Besok sepertinya."

Salah satu hal yang membuat Aufar berpikir lebih banyak malam ini, juga tentang kepulangan Elivia.

Sebelum istri pertamanya meninggalkan rumah dua minggu lalu, tak ada ketertarikan apapun pada Aufar untuk Inara. Namun dengan keadaan seperti sekarang-- dimana kebutuhannya akan Inara menjadi lebih besar--Aufar takut melukai Elivia.

Bisa jadi ini malam terakhir ia akan tidur bersama dengan Inara, untuk waktu yang tak diketahui.

"Mungkin beberapa malam ke depan ...." ucap Aufar menggantung.

"Bapak tak tidur disini ..." terka Inara.

Sebuah senyum pias dari Aufar cukup menjadi sebuah jawaban bahwa tebakan Inara adalah tepat.

"Tak apa Pak, saya paham bagaimana menjadi istri kedua. Bapak jangan merasa bersalah seperti itu."

Senyuman Inara menjelaskan bahwa ia sudah cukup siap dan rela dengan pernikahan yang dipilihnya. Ditampung dan diperlakukan dengan baik saja, sudah menjadi hal yang sangat disyukuri oleh anak yatim-piatu.

Mendengar kalimat tulus dan melihat sorot mata istrinya tanpa dusta, Aufar mengusap pucuk kepala Inara dengan lembut.

"Kamu istri yang baik Inara ... saya menyayangimu."

Mendengar kata terakhir itu mata Inara menjadi berkaca-kaca dalam haru. Ini kali pertama ia mendengar kalimat seindah tadi, seumur hidupnya. Segera perempuan itu mengulurkankan tangannya memeluk sang suami dengan perasaan yang membuncah.

"Saya juga ..."



***

Pagi-pagi ketika usai sarapan, Aufar mendapatkan panggilan telepon dari Elivia. Tapi anehnya, bukan pemilik nomor yang berbicara. Terdengar suara  panik dari belakang sana.

"Pak, Bu Elivia pingsan. Sekarang kami berada di Rumah Sakit."

Mendengar hal mengejutkan itu, Aufar langsung bangkit dan meminta Inara segera ikut serta ke rumah sakit menemaninya. 

"Kira-kira Kak Via kenapa Pak?" tanya Inara saat mobil baru berjalan, tadi lelaki itu hanya berkata bahwa Elivia pingsan dalam perjalanan pulang ke rumah.

"Dia punya riwayat darah tinggi ... saya takut Elivia kenapa-napa."

Inara melihat jelas kecemasan dari garis wajah sang suami saat berkendara. Bahkan lelaki itu tak lagi menoleh ke Inara sama sekali, Aufar fokus memperhatikan jalanan saat berkendara dengan kecepatan tinggi. Teringat bahwa salah satu kerabatnya bahkan diserang stroke saat umur belum mencapai 40.

Tiba di rumah sakit  ternyata Elivia telah sadarkan diri dan berbicara dengan salah seorang rekan kerja di kampusnya.

"Ya Allah El ... aku panik sekali tadi. Sudah kubilang seharusnya kamu gak berangkat."

Aufar segera menciumi pucuk kepala istrinya lalu duduk di kursi yang tersedia. Inara hanya bisa menyaksikan semuanya sambil berusaha mendamaikan perasaan cemburu yang semestinya tak perlu ada.

"Aku gak apa-apa sayang. Cuma pingsan bentar karena pusing." jawab Elivia mencoba menenangkan suaminya.

"Sebenarnya Buk Elivia terlihat tidak fit beberapa hari ini, tapi saya paksa pulang gak mau ... karena beliau merasa punya tanggung jawab. Padahal saya bisa handle kalau memang beliau kurang sehat."

Seorang perempuan bernama Sandrina mencoba menjelaskan kronologis sebelum Elivia akhirnya tak sadarkan diri saat kembali naik ke dalam bus, usai dari kamar mandi.

"Kata perawat Bu Elivia disuruh tunggu, gak boleh pulang dulu untuk memastikan diagnosa, sedangkan kami membawa rombongan mahasiswa untuk segera kembali ..."

Perempuan itu berusaha menjelaskan bahwa mereka tak bisa berlama-lama di rumah sakit. 

"Oh iya, tak apa ... silahkan lanjutkan perjalanan kalian. Terimakasih telah membawa istri saya kesini."

Aufar segera mempersilahkan rombongan melanjutkan perjalanan. Hingga hanya menyisakan mereka bertiga di dalam ruang itu.

"Aku tak apa-apa sayang, maaf sudah merepotkan kalian." ucap Elivia kini menatap Inara dengan senyum khas miliknya.

"Tak repot sama sekali kak."

Inara berdiri ditengah ruang sempit berbatas tirai itu, tak tahu harus melakukan apa saat segenap perhatian Aufar tercurah pada istri pertamanya. 

"Saya keluar dulu Kak, mau cari kamar mandi." ucap Inara pada akhirnya, disambut anggukan kepala Elivia.

Keluar dari sana Inara hanya bisa duduk seorang diri, melihat lalu lalang orang di koridor rumah sakit. Hampir satu jam duduk disana, dengan pikiran berkelebat entah kemana.

Melihat bagaimana Aufar menggenggam tangan Elivia erat, bagaimana tatapan keduanya begitu dalam, Inara merasa hanya menjadi orang lain dalam hubungan mereka.

Seharusnya ia bisa memahami ini lebih awal, tapi entah kenapa rasanya tetap cemburu.

"Disini kamu rupanya?"

Saat mendongak, Inara mendapati sosok Aufar sedang berdiri menatapnya seperti minta penjelasan mengapa perempuan itu tak juga kembali ke dalam.

"Saya kira bapak dan Kak Via ... butuh privasi."

Hening, tak ada jawaban apapun dari Aufar. Lelaki itu hanya memilih duduk di bangku tunggu pasien, tepat disamping Inara.

Aufar menautkan kedua tangannya di belakang leher, dengan kedua kaki dijulurkan lurus ke depan. Seperti sedang berusaha menghalau sesuatu beban dari atas pundaknya.

"Kak Via sendirian ... apa perlu saya ke dalam?"

Inara menawarkan diri menggantikan Aufar menunggui Elivia.

"Ada perawat yang sedang memeriksanya, justru saya diminta keluar sebentar."

"Oo ... menurut Bapak kak Via bisa pulang hari ini?"

"Mudah-mudahan demikian,"

Aufar memang berharap Elivia segera pulang, karena perempuan itu terlihat tak tak punya masalah berarti. Tapi ketika melihat para perawat masuk dan ingin memastikan beberapa hal, entah kenapa dia mendadak cemas.

Lama keduanya duduk disana tanpa mengeluarkan kata apapun lagi. 

"Bapak cemas?"

"Sedikit."

"Insyaallah Kak Via gak apa-apa."

Reflek Inara meletakkan tangannya atas tangan Aufar, berusaha menenangkan. Hingga saat kedua mata mereka bertatapan, Inara segera melepaskan genggamannya. Canggung.

"Terima kasih Nara ..."

Nara menunduk saat tatapan Aufar makin lama membiusnya.

"Suami Ibu Elivia?"

Seorang perawat memanggil dari balik mereka.   Aufar segera bangkit disusul Inara yang berjarak di belakangnya.

"Kami bawa ibu ke Poli kebidanan ya. Untuk memastikan keadaan ibu."

"Poli kebidanan?"

"Iya, dugaan kami ibu hamil. Karena sudah dua bulan tak menstruasi."

Aufar menautkan alis ragu dengan apa yang didengarkannya. Sudah setahun belakangan siklus bulanan Elivia memang sedikit kacau, sempat beberapa kali menduga hamil nyatanya hanya ada satu garis di test pack. 

Telat datang bulan bukan perkara baru baginya.

"Oke, baiklah kita kesana." ucap Aufar tanpa antusiasme berlebihan. Ini bukan pertama kali mereka mengira hamil, lalu akhirnya mengecewakan. 

"Saya tunggu disini saja Pak." ucap Inara lirih, disambut anggukan Aufar yang sesaat kemudian meninggalkannya di koridor rumah sakit.

Mendengar penjelasan perawat tentang dugaan kehamilan Elivia membuat Inara tak tahu harus bereaksi bagaimana.

Di satu sisi ia senang bila itu terjadi, keinginan Aufar miliki anak akan segera terwujud. Namun di sisi lain ada kesedihan terasa. Bahwa anak itu bukan berasal dari rahimnya, padahal untuk itulah Inara dinikahi.

Dengan ragu-ragu akhirnya perempuan itu memutuskan menyusul  ke bagian Poli, untuk menunggu sedikit jauh di luar ruang dimana Elivia melakukan pemeriksaan lanjutan.

Beberapa menit kemudian terlihat Aufar dan Elivia keluar dari ruang tersebut dengan linangan air mata bahagia.

Dari kejauhan--sekalipun--Inara sepertinya sudah tahu apa yang sedang terjadi.

Keduanya terlihat dilingkupi cinta, Aufar berulang kali menyentuh perut Elivia sambil mengucap tahmid. Keduanya berpelukan sangat lama, larut dalam kebahagiaan.

Tanpa mereka tahu, sepasang mata tengah menatap keduanya sendu dari sudut rumah sakit.

Inara merasakan nyeri di hatinya, saat menerka-nerka ... apa yang akan terjadi kepadanya setelah hal ini.



(Bersambung)



Komentar

Login untuk melihat komentar!