6. Malu!
Bab 6
Malu!

Kami tiba di resto Jepang yang dimaksud Ayah tepat jam 19.00. Saking laparnya, perutku berbunyi dari tadi. Aku berharap semoga suaranya tidak terdengar. Memalukan sekali kalau sampai itu terjadi di depan orang lain. Kalau hanya Ayah saja yang dengar cincay lah ya. Ayah pasti sudah paham kelakuan anaknya ini.

Dari parkiran kami berjalan menuju resto itu. Kugandeng tangan Ayah erat-erat bagai anak kecil yang takut hilang di keramaian. Orang-orang terdekat kami tahu, bagaimana dekatnya aku dengan Ayah. Bukan hanya dekat, bisa dibilang Ayah tempatku bermanja-manja. 

Malam itu, resto Jepang tersebut tak terlalu ramai. Beberapa mobil diparkir di halamannya. Tepat di dekat Ayah memarkir mobilnya, ada tempat parkir motor. Resto itu tergolong sering kami kunjungi. Ramennya enak, sushinya bikin nambah berkali-kali. Ayah dan Ibu sudah tak heran lagi jika aku memesan sushi sashimi favoritnya lebih dari satu porsi hanya untukku. Aku tahu, makan di resto seperti ini pasti butuh uang yang tak sedikit. Aku beruntung memiliki mereka yang hingga saat ini selalu memenuhi keinginanku sehingga aku bisa merasakan makanan apapun.

Sambil membetulkan pashminaku dengan sebelah tangan, aku menoleh pada Ayah. 

“Dalam rangka apa makan malam ini, Yah?” 

“Buat kenalan saja. Mereka kebanyakan mahasiswa Ayah dulu. Sekarang mereka sudah jadi dokter. Ayah mau minta mereka praktik di klinik. Siapa tahu mereka mau. Beberapa dokter di klinik kita mengajukan resign, karena mereka buka praktik di tempat mereka sendiri.” 

Aku tertegun mendengar perkataan Ayah. Meski aku masih ogah-ogahan terlibat, Ayah dan Ibu selalu menggunakan kata “kita” saat menyebutkan tentang klinik tersebut. Seolah-olah mereka punya harapan besar akan keterlibatanku kelak. Terkadang, aku jadi merasa terbebani dengan hal ini. Bagaimana mungkin aku yang ceroboh, grasak-grusuk, dan berpikir pendek ini bisa memegang baik kepercayaan mereka kepadaku?

“Ayah yakin nggak apa-apa aku ikut?” tanyaku ragu. Berada di antara para dokter itu, apakah aku bisa mengikuti pembicaraan mereka? 

“Tenang saja. Ini hanya ngobrol santai. Salah satu cara supaya Ayah bisa mengenalkan kamu dengan calon suami pilihan Ayah. Mana mungkin Ayah tiba-tiba panggil dia seorang hanya buat ketemu kamu, kan?” kata Ayah.

Rupanya Ayah sudah merencanakan semuanya. Ayah bahkan mikirkan harga diriku yang harus dijaga. Akan terlalu menyolok jika hanya bertemu dia. Untunglah, Ayah mengenal baik para dokter itu.  Selain membuka praktik di rumah, Ayah juga bekerja di rumah sakit dan mengajar. Sebagai seorang dokter spesialias anak yang senior, Ayah juga membimbing calon-calon dokter. Tak heran jika Ayah sering menerima undangan makan dari para mahasiswanya. Terkadang mereka mengundang Ayah sekadar untuk berterima kasih atas bimbingannya.

Seorang pelayan membukakan pintu dan menyapa dalam bahasa Jepang saat kami masuk. Dia lalu mengantarkan kami ke meja yang sudah dipesan oleh Ayah. Ada tiga orang yang sudah datang dan duduk mengeliling meja tersebut. Mereka langsung berdiri bersiap menyapa Ayah ketika melihat kami. Ayah melambaikan tangan pada mereka, yang disambut anggukan takzim mereka. Mendadak aku grogi memikirkan bakal ketemu cowok keren. Apakah di antara mereka ada seseorang yang akan dikenalkan Ayah padaku?

“Yah,” bisikku. “Amira ke kamar mandi dulu ya.” Akhirnya aku memilih menenangkan diri dulu, menyingkir ke toilet sebelum bergabung dengan mereka. Siapa tahu setelah dari toilet, aku bisa meredakan kegelisahan ini. Sekalian touch up make up.

“Nanti langsung ke sana ya,” sahut Ayah.

Aku mengangguk, lalu buru-buru ngacir ke toilet. Mendadak pingin buang air kecil. Aku segera masuk ke salah satu toilet. Lega rasanya setelah menuntaskan hajat. Iseng, kulihat cermin, memeriksa make up-ku. Rasanya wajahku terlihat agak pucat. Kuambil lipstik warna pink dari tasku lalu mulai mengoleskannya ke bibir. 

Tiba-tiba, pintu toilet terbuka lebar, seorang anak kecil melesat masuk diikuti ibu-ibu yang meneriakinya supaya berhati-hati. Tanpa diduga, tubuh kecilnya menabrakku hingga aku oleng seketika.

“Aduh!” spontan aku menjerit.

“Duh, maaf, Kak. Maaf. Ini anak memang agak aktif,” kata sang ibu meminta maaf.

Tadinya aku mau marah, tapi tak jadi ketika melihat gadis kecil yang lucu itu. Apalagi dia lalu tersenyum padaku, membuat hatiku meleleh seketika. Aku suka melihat anak-anak, kecuali yang bandel. Segera kumasukkan lipstikku ke dalam tas, lalu berjongkok, menyetarakan tubuhku padanya. Sambil terengah-engah, dia tertawa kecil.

“Lain kali hati-hati ya. Nanti bisa terpleset, lho,” kataku padanya sambil mengusap rambutnya sekilas. Aku lalu berdiri, tersenyum pada ibunya yang masih memandangiku. Ponselku berbunyi, membuatku bergegas ke luar toilet. Sambil mengambil ponsel di dalam tasku, aku membuka pintu. 

“Amira!” terdengar suara seseorang memanggilku tepat ketika aku berada di depan pintu toilet.

Aku mendongak, mencari sumber suara itu berasal. Tak ada orang lain selain dia. Seorang lelaki yang berjalan mendekatiku. Aku lupa mengenakan kacamata maupun softlens. Mataku minus parah akibat kesukaanku membaca sambil tiduran. Kupicingkan mata berusaha keraa mengenalinya. Kami hanya berjarak dua meter ketika aku menyadari aku mengenalnya. Meski tak terlalu jelas, aku masih ingat si culun menyebalkan itu.

“Surprise banget kita ketemu di sini. Sama siapa?” tanyanya ramah. Dia membetulkan kacamatanya. Sudut bibirnya tertaik membentuk senyuman. 

Cih! Aku mendengus, tak berminat menanggapinya. Dasar sok akrab! Aku sudah lama menghapus namanya dari memoriku.

“Bukan urusanmu!” ketusku.

Dia mengerjapkan mata, masih bersikap tenang. Jujur, aku agak heran melihat sikapnya. Dulu, dia akan dia memilih menghindar daripada berhadapan denganku, tapi tidak kali ini.

“Ra …, kalau boleh aku ….”

“Apa?!” desisku sengit. Ya, jutek is my middle name. Aku tak mudah melupakan kesalahan orang lain. Apalagi dia yang tak boleh kusebut namanya yang ada di depanku ini.

Lelaki di depanku menyugar rambut, lalu memandangku yang melotot padanya. Kami sungguh kontras. Aku seperti api yang siap menyambar apapun di dekatku. Dia setenang air danau. 

“Dengar dulu. Itu …,” katanya menujuk bibirku.

Refleks aku meraba bibirku. Kedua tanganku spontan menutup mulut. Benar-benar nggak sopan dia ini! Datang-datang nunjuk-nunjuk bibir. Apa maksudnya? Kesalku langsung naik ke level tertinggi.

Dia menjulurkan tangan tanpa permisi. Aku takut dia akan menyingkirkan kedua tanganku yang menutup mulut. Lekas, aku menghindar, menggeser tubuhku ke samping. Masih dengan wajah yang tak bersahabat, aku memandangnya tajam. Berharap dia memahami ekspresiku menandakan tidak mau diganggunya.

“Apa-apaan sih?” kataku mulai panik.

“ … ada lipstik di sini,” katanya menunjuk sudut bibirku.

What?! Tanpa permisi, aku langsung berbalik arah, menuju toilet. 

“Ra!” panggilnya.

Bodo amat! Aku yakin wajahku sudah serupa lampu perempatan sekarang. Merah membara. Kuhentakkan kaki berkali-kali. Ingin rasanya aku menangis. Maluuu!

**