3. Putus Hubungan


Bismillah, sebelum membaca jangan lupa klik berlangganan dan rate bintang lima ya. Makasih banyak.

**

Bab 3
Putus Hubungan

“Rendy nyari elo, tuh,” ujar Nana sambil menyenggol lenganku, membuatku cepat-cepat mengalihkan pandangan dari buku-buku yang kubawa.

Mataku mengedar, mencari sosok yang disebut Nana.

Mata kuliah Sociolinguistic baru saja selesai. Teman-teman mereka berhamburan keluar dari ruang kuliah seperti butiran beras yang tak sengaja kujatuhkann saat membantu Ibu memasak. Di antara puluhan mahasiswa, tubuh mungilku tak leluasa melihat jauh ke depan. Berbeda dengan Nana yang lebih tinggi dariku. Dia bagaikan menara mercusuar bagiku.

Aku berjingkat sebisaku. Namun di depanku yang terlihat hanyalah kepala-kepala.

“Mana?” tanyaku mencolek Nana.

“Tuh! Di bawah pohon kedondong,” sahut Nana sambil cekikikan.

Aku mengerucut bibir, membuat Nana makin geli melihatku.

“Serius. Mana?”

“Ya Tuhan, masak cowok secakep itu nggak kelihatan sih? Noh!” Nana terang-terangan menunjuk ke suatu arah. Tepat di seberang ruangan mereka, seorang lelaki mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jeans tersenyum. 

Aku langsung gelagapan, ketahuan mencari-cari sosoknya. Kucubit lengan Nana, hingga dia memekik.

“Hush, nggak usah pakai nunjuk-nunjuk. Gue bisa lihat, tahu!” sungutku kesal. 

“Iiih, tadi nanya. Giliran dikasih tahu malah protes. Gimana sih? Dasar, bawel!”

Aku mendorong Nana menjauh. Sengaja, karena aku tak mau Nana ikut-ikutan mendengar obrolanku dengan Rendy. Rahasia, dong. Masak lagi pedekate bawa-bawa teman. Bisa nguping dia nanti.

“Gih, sana ke kantin duluan. Ntar gue susul ke sana.”

Mata Nana melotot, kesal karena aku mengusirnya.

“Awas, ya! Gue tinggal pulang nanti. Kalau ada butuh sama gue, mohon-mohon. Giliran mau berduaan, ngusir,” omel Nana. Kebetulan tadi Nana menjemputku lalu kami berangkat kuliah bersama. Hingga sekarang, Ayah masih belum mengizinkanku menyetir mobil sendiri karena beberapa kali aku belum sukses memarkir mobil.

“Emang elo mau dikacangin? Nggak usah banyak protes. Tunggu di kantin, gue traktir ntar. Oke?” Akhirnya aku terpaksa membungkam mulut Nana dengan rayuan maut yang tak akan bisa ditolaknya.

Sambil bersungut-sungut, Nana meninggalkanku. 

“Susah memang kalau ngomong sama orang jatuh cinta! Omongan orang cuma numpang lewat saja, alias nggak didengarkan,” omelnya lagi sambil berjalan menjauh.

Aku membetulkan pakaiannya yang kusut karena kelamaan duduk mendengarkan kuliah Pak Dudi yang panjang bagai jajaran pulau-pulau. Lalu mencium lengan blouseku, berharap tidak bau keringat. Syukurlah, harum lembut deodorant masih tercium. Segera aku memasang senyum terbaik. Kutarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk lesung pipit yang manis. Senyum termanis yang bisa kuhasilkan hari ini.

“Hai! Udah lama, Ren?” 

Rendy tampak terkejut melihatku. Aku yakin dia tak menyangka aku tiba-tiba menegurnya. Ditegur cewek semanis aku, gimana nggak kesengsem? Ahay! Namun dia lalu membalas pertanyaanku.

“Barusan,” jawab Rendy membalas senyumku sambil lalu. Matanya memperhatikan seseorang di belakangku. Eh, lihat apa dia? Aku jadi curiga.

Spontan, aku menoleh, mengikuti arah pandangannya. Elena, salah seorang teman sekelasnya sedang berdiri sambil mengibaskan rambut panjangnya. Matanya tajam memandang mereka berdua, membuatku merasa jengah. Ish, mau coba-coba menarik perhatian gebetan gue? Jangan harap! 

Aku buru-buru berpaling pada Rendy di depannya. Kugeser tubuhku agak ke kanan, tempat Elena berdiri, supaya mata Rendy hanya memandangku. Biar belum ada komitmen apa-apa, aku agak posesif.

“Ehm!” Aku sengaja berdeham, berharap mendapat perhatian dari Rendy.

“Eh … maaf,” kata Rendy sambil menatap mataku. Kali ini tentu bersungguh-sungguh. Jika tidak, aku sudah siap menepok jidat Rendy. Nah, akhirnya aku mendapatkan perhatiannya penuh.

“Makan, yuk. Laper,” ajakku.

“Yaah … maaf.” Rendy mendadak gelagapan. “Gue mau ….”

Aku mengerutkan kening. Kenapa pula dia? Kehabisan duit? Aku paling tak suka ditolak. Kuputar otak dengan cepat. Sedetik kemudian aku menemukan alasan yang tepat. Anak kost macam dia, nggak akan nolak ditraktir.

“Udah, nggak usah banyak alasan. Yuk, aku yang traktir,” potongku sambil menarik lengan kemeja Rendy, menjauh dari kerumunan orang yang masih mondari-mandir. Tak kupedulikan Rendy yang terseok-seok mengikutiku, sementara pandangannya sesekali masih ke arah tempatnya duduk semula.

Akhirnya, kami berjalan bersisian menuju kafe kecil di dekat kampus. Beberapa mahasiswi, adik kelasku menatap kami saat melintas. Tepatnya menatap Rendy. Wajah Rendy yang serupa artis Korea itu memang menarik perhatian. Berjalan di sisinya membuatku merasa berada di atas awan. Udara panas tak lagi terasa. Justru hatiku terasa sejuk, sesejuk pagi. Biarin dibilang norak. Sayang sekali jika perhatian Rendy disia-siakan. 

“Elo duluan, deh,” kata Rendy sambil menyodorkan menu, saat kami berdua sudah duduk di kafe. 

Aih, perhatian banget! Hatiku melambung seketika. See? Dia jelas perhatian sama aku. Itu yang kusuka dari Rendy. Rendy bisa membuatku merasa dinomorsatukan. Aku meliriknya yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Entah sedang bertukar pesan dengan siapa, sesekali dia tersenyum. Aku ingin bertanya tapi tak enak. Akhirnya aku segera memilih menu dan mengabaikan pikiranku tersebut.

“Jus jeruk sama roti bakar ya, Mas,” kataku pada pelayan. “Kamu?”

Rendy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lalu menggeleng.

“Nggak laper,” ucapnya malas.

Alisku hampir bertaut mendengarnya. Tak biasanya dia begini.

“Kenapa kamu? Tumben-tumbenan nggak semangat.”

Rendy memalingkan wajah, seolah-olah aku adalah makhluk yang harus dijauhi. Dia menggoyang-goyangkan kaki dengan gelisah. Tingkahnya sangat aneh.

Eits, ada apa ini? Aku baru tersadar hari ini Rendy lebih diam dari biasanya. Apa ada yang salah dariku?

“Kamu marah sama aku?” tanyaku. “Jawab dong.” Aku mulai merajuk.

Rendy menghela napas.

“Ra, dengar ya. Gue tuh mau ngomong ini dari tadi sebetulnya,” kata Rendy akhirnya. 

Hatiku mendadak berdentum-dentum. Dalam sekejap, bunga-bunga di hatiku merekah, seiring detak jantung yang bertalu. Wajah Rendy yang manis, terlihat makin menawan di mataku. Jangan-jangan, karena inilah dia irit bicara hari ini. Apakah dia mau menyatakan cinta? Pikiranku sudah berkelana. Imajinasi seketika tumbuh subur, sama halnya ketika aku sedang menulis cerita. Eh, sebentar … apa dia bilang? Gue? Tumben-tumbenan dia menyebut “gue” saat bersamaku. 

“Ra …,” panggil Rendy.

Aku mengerjapkan mata. Duh, dasar halu! Aku meruntuki diri sendiri.

“Ya?” Tenang, Amira. Jangan norak, bisikku dalam hati. Aku mengerjapkan mata, meyakinkan diri saat ini bukan mimpi.

“Gue cuma mau bilang, mulai sekarang kita ….”

Ah, akhirnya Rendy mau menyatakan cinta, Mak! Jeritku dalam hati. 

“… putus hubungan. Cewek gue, nggak suka gue deket-deket elo.”

“Apa?!” Wajahku seketika terasa panas. Aku yakin warnanya sudah serupa tomat rebus. Angan yang tadi melambung, seketika terhempas. Jika boleh meminta, ingin rasanya aku menghilang dari bumi. Saat itu juga, harga diriku tercabik-cabik! Belum juga naik status dari teman biasa menjadi, teman dekat tiba-tiba Rendy sudah memutus hubungan.

Ya Tuhan, mau kutaruh mana mukaku! Pekikku dalam hati.

**

Duh duh, Amira! Othor jadi ikutan malu nih nulisnya. Lanjut nggak yaa?