1. Titah Ayah
Selamat datang di cerbung baruku.

Sebelum membaca, jangan lupa subs dan follow ya. Ehm, sekalian rate bintang 5, Kak. Anyway, makasih banyak kunjungannya. Selamat membaca!

**

Bab 1
Titah Ayah

“Oke, fine! Kalau kamu tidak mau kuliah Kedokteran, kelak kamu harus menikah dengan dokter,” titah Ayah.

Astaga, aku tak menyangka Ayah akan bersikap setegas itu. Selama ini, Ayah begitu mudah menuruti permintaanku. Hanya dengan sedikit rayuan dan pelukan, hati Ayah akan luluh seketika. Lalu wus … apapun yang kuinginkan akan dikabulkan. Maklumlah, aku anak semata wayang. Namun kali ini tidak demikian. 

Sudah berhari-hari pembahasan mengenai pemilihan jurusan menjadi pembicaraan yang alot, seperti kerasnya daging yang kurang lama kurebus. Aku dan Ayah saling beradu argumen hingga membuat Ibu geleng-geleng kepala melihat kami. Aku ngotot memilih Jurusan Sastra sesuai dengan minatku di bidang menulis. Sedangkan Ayah, memintaku kuliah di Fakultas Kedokteran. Andai tidak masuk PTN pun, Ayah bersedia membiayai kuliah di PTS. Buat Ayah, uang tak jadi masalah.

Aku tak habis pikir, apa Ayah tidak tahu jika aku harus bekerja keras hanya untuk mendapatkan nilai 6 dalam pelajaran IPA? Bisa lulus dengan nilai pas-pasan sudah cukup membuatku lega. Bisa-bisa hidupku sengsara jika harus berhadapan mata kuliah sains selama kuliah!

Sekarang, ketika sudah menyetujuiku mendaftar jurusan yang diingikan, Ayah mengajukan kembali memberikan syarat. Seketika kepalaku pening mendengarnya. Setengah putus asa, aku bertanya pada Ayah.

“Memangnya kenapa mesti dokter sih, Yah?”

Ayah menurunkan kacamata bacanya, lalu menaruh gelas kopi yang sedang disesap. Dia menatapku dalam-dalam. Kerutan di keningnya terlihat makin jelas saat sedang menyampaikan hal yang serius. Sesungguhnya, aku sangat menyayangi Ayah. Dia satu-satunya lelaki yang tak pernah alpa memanjanku sejak kecil. Namun jujur, permintaan Ayah kali ini sungguh berat. 

“Klinik yang Ayah miliki sekarang harus ada yang mengelola. Ayah lebih yakin jika dikelola seorang dokter. Karena kamu sudah memilih jurusan sesuai kata hatimu, dengan terpaksa Ayah akan alihkan pada orang lain. Ayah yakin sepupu kamu pasti bisa dan mau.”

“Siapa? Kirana?” Perasaan waswas menjalar di hatiku. Di keluarga besar kami, Kirana seperti bintang. Bersinar cemerlang dan jadi kebanggaan.

“Iya. Sebentar lagi dia lulus.”

“Tapi aku kan anak Ayah satu-satunya. Kok Ayah tega sih sama aku?” protesku tak terima.

“Dengar, Amira. Ayah sudah memberi kamu kebebasan memilih jurusan. Terima konsekuensinya. Jika kamu menikah dengan dokter pilihan Ayah, seluruh penghasilan dari klinik tersebut untuk kalian setelah menikah. Jika tidak mau, silakan cari jalan hidupmu sendiri.”

Aku menatap Ayah lekat-lekat. Tak ada nada bercanda dari suara. Pun raut wajahnya menegaskan hal yang sama. Duh, merinding! 

Ucapan Ayah membuat aku berpikir. Mengabulkan permintaan Ayah, setidaknya menjamin hidupku ke depan. Aku pun masih bisa melakukan hobiku menulis. Menikahi dokter juga tak merugikan. Bagaimana dengan Rendy, lelaki yang kelihatannya menaruh hati pula padaku? Itu urusan belakangan!

“Baiklah, Yah. Siapa takut!” ujarku cepat. “Asalkan ….”

“Apa lagi?”

“Asalkan calon suamiku mirip Taehyung!” candaku berusaha mencairkan suasana.

“Ya Tuhan, Amira! Tolonglah, belajar dewasa,” keluh Ayah. “Kamu sudah jadi mahasiswi. Menikah itu nggak sekadar soal penampilan. Jangan kebanyakan halu!”

“Ciee … emang Ayah tahu, halu itu apa?” Aku terkikik geli. Senang sekali rasanya menggoda Ayah.

Ayah melotot.  “Hush!”

“E iya, maaf … maaf, Yah. Cuma bercanda. Maksud Amira, pilih calon suami yang cakep, Yah.” 

Ayah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku. Namun, tak lama, bibirnya yang rapat terlihat bergerak-gerak. Aku tahu, Ayah tak akan betah berlama-lama berbincang serius denganku. Melihat kesempatan itu, aku kembali bicara.

“Dia juga kudu cerdas dan pintar cari duit, Yah.”

“Iya iya, Ayah nggak akan sembarangan pilih calon menantu, Amira!” sergah Ayah mulai kesal.

Senyumku makin lebar. Selama janur kuning belum melengkung di depan rumah, Rendy atau siapa pun masih berstatus sama bagiku. Lagipula, kalau ternyata tak cocok, tinggal cari cara merayu Ayah lagi, kan?

**

Namaku Amira. Aku anak tunggal dari pasangan dokter. Ayahku, Dokter Yusuf Suryawinata, adalah seorang dokter spesialis anak. Sedangkan ibuku, bernama Ayu Retna adalah seorang dokter umum. Ibuku yang berwajah cantik, secantik namanya, mewariskan kulit putihnya padaku. Sayangnya tidak sekalian dengan ketelatenan dan sikap tenangnya. Ibu pernah mengambil kuliah pasca sarjana jurusan manajemen rumah sakit setelah Ayah menyandang gelar spesialis anak. Dengan ilmu yang diperolehnya, Ibu membantu Ayah mengelola klinik.

Sebagai anak satu-satunya, aku menyaksikan sendiri perjuangan kedua orangtuaku mengembangkan kliniknya. Sejak aku masih duduk di bangku SD hingga sekarang saat aku kuliah, pekerjaan bisa dibilang datang setiap waktu. Beginilah konsekuensi memiliki tempat usaha dan rumah yang berdampingan. Keuntungannya, lebih mudah untuk mengontrol setiap saat. Kekurangannya, hingga malam pun, harus siap dilapori segala hal tentang pasien dan klinik. 

Tak hanya itu, rumah kami yang besar, menjadi tempat bernaung beberapa karyawan. Mereka adalah perawat yang baru lulus kuliah, yang masih belum berpengalaman kerja, namun dengan telaten diajari oleh kedua orangtuaku. Mereka sudah dianggap keluarga oleh orangtuaku. Jadi meski kami hanya bertiga, sesungguhnya rumah kami yang besar itu tak pernah terasa sepi. Kamar-kamar karyawan ada di bagian samping kanan berbatasan dengan taman. Sementara aku, Ayah dan Ibu menghuni sayap kiri. 

Bisa dibilang, kami hidup berkecukupan setelah operasional klinik berjalan cukup stabil. Aku hampir tak pernah merasa kekurangan, meski Ayah dan Ibu juga selalu mengajarkanku untuk merendahkan hati. Mereka berasal dari keluarga sederhana yang harus bekerja keras untuk bisa hidup nyaman. Oleh karenanya, mereka tak pernah membeda-bedakan seseorang berdasarkan status sosial dan materi yang dimiliki.

Bagaimana denganku? Aku satu-satunya harapan kedua orangtuaku. Mereka menginginkan yang terbaik untukku. Hampir semua ajaran kedua orangtuaku, kecuali beberapa hal. Aku masih terlalu seenaknya, memikirkan diri sendiri karena kedua orangtuaku terlalu memanjakanku. Namun pada saat usiaku 20 tahun, Ayah sudah bertitah, aku harus mulai belajar mandiri dan bersikap dewasa. Sebagai anak yang menyayangi Ayah dan Ibu, tentu saja, aku akan berupaya menuruti permintaan mereka, karena aku yakin semua untuk kebaikanku.

Hanya satu hal yang sulit kuturuti, yaitu mengambil kuliah sesuai dengan permintaan mereka. Selain tidak sesuai dengan minatku, jelas tak sesuai dengan kemampuan otakku. Jika dipaksakan, aku yakin tak akan lulus. Entah mengapa, kecerdasan mereka tak menurun padaku. Namun kemudian jika dipikir-pikir, aku baru memahami betapa adilnya Allah padaku. Andai aku menuruni semua hal baik dari Ayah dan Ibu, rasanya akan menjadi sempurna hidupku sehingga aku menjadi lebih malas berjuang.

Seperti ketika aku menulis cerita, seorang tokoh yang terlalu sempurna hidupnya tak akan menghasilkan cerita yang menarik. Bagitupun aku. Kalau cerita hidupku serba sempurna, aku yakin tak akan di sini untuk menceritakan kisahku.

**