2. Janji
Hai, Kak. Terima kasih sudah mampir ke sini. Subs dan rate bintang limanya ya, Kakak. Happy reading!

**
 
Bab 2
Janji

“Amira!” panggil Ayah.

Pikiranku yang sedang berimajinasi jauh ke negeri impian langsung kembali ke dunia nyata. Buyar sudah adegan romantis yang akan kutuangkan dalam tulisan. Sebelum aku sempat mengumpulkan kembali puing-puing ide yang berserakan, kudengar pintu kamarku dibuka. Kulirik sekilas, Ayah masuk menghampiri aku.

Aku mendongak, menatap ayahnya yang berdiri tepat di depanku, masih mengenakan jas dokter dan berkalung stetoskop. Tampaknya beliau baru selesai praktik. Wajahnya tampak serius, membuatku berpikir yang tidak-tidak. Apa yang dilaporkan Ibu pada Ayah kali ini? Bahwa tempe hasil masakanku gosong karena aku menggoreng sambil melamunkan jalan cerita novel yang akan ditulis? Atau karena Ayah tahu uang yang kuminta kemarin bukan untuk membayar les bahasa Inggris melainkan dipakai membeli koin untuk membaca platform? Duh, jantungku jadi dagdigdug. Rasanya lebih menegangkan daripada nonton film horor! 

Pelan-pelan, aku beringsut dari kasur, tempat ternyaman untuk mengetik. Posisi telungkup, dengan laptop terbuka tepat di depanku bisa membuat betah berjam-jam mengetik. Lapar pun tak terasa. Bahkan terkadang Ibu harus menyambitku dengan bantal karena aku tak dengar dipanggil berulang kali. Namun jika Ayah sudah bersuara tinggi, aku tak boleh mengabaikan. Bisa-bisa uang jajan tambahan melayang kalau Ayah terlanjur marah. Bisa gawat kalua itu terjadi, karena Ibu hampir tak mempan kurayu soal uang.

“Duduk, sini!” pinta Ayah sambil menunjuk kursi di depannya.

“Yah, ada apa sih? Serius amat,” tegur Ibu yang kebetulan sedang melintas di depan kamarku. “Anaknya lagi ngetik juga, digangguin mulu.”

“Lah, justru karena lagi santai, Ayah mau ngomong. Ibu gimana sih, bukannya belain Ayah,” balas Ayah.

“Kalau soal yang kemarin kita bicarakan, Ibu nggak ikut-ikut ya, Yah. Tolong baik-baik bicaranya. Ibu nggak mau nanti kalian jadi berantem.” Ibu melirikku. Ibu memang sering mengomeliku. Meski demikian, dalam hati kecilnya, diam-diam aku tahu, Ibu mengasihaniku. Ibu yang sering menjadi penengah jika aku dan Ayah berdebat, meski biasanya perdebatan kami tak berlangsung lama.

Aku mengamati Ayah dan Ibu. Dari gerak-gerik mereka, aku merasakan aura yang tak biasa. Waduh, serius nih kayaknya. Ada apa gerangan?

“Kenapa, Yah?” Aku akhirnya menegakkan badan, siap disidang.

“Kamu ingat janjimu saat baru masuk kuliah?”

Pertanyaan Ayah membuat keningku berkerut. Menjawabnya lebih sulit dari PR matematika, karena tidak ada contekannya. Terlalu banyak janji yang kubuat sehingga aku lupa. Janji untuk lebih mandiri. Janji untuk belajar sungguh-sungguh. Janji untuk lebih rajin mengaji dan sholat. Janji untuk … ah, janji yang mana yang dimaksud Ayah? Aku menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Apa, Yah?” tanyaku putus asa. 

Ayah berdecak, pasti beliau memahami bahwa putri tunggalnya itu sering tak nyambung pikirannya saat sedang sibuk mengkhayal. Pikirannya dimana, badannya dimana.

“Ayah sudah dapat calon suami yang cocok buat kamu.”

Ya Tuhan, tentang itu rupanya.

“Hah? Memangnya harus menikah sekarang, Yah?” tanyaku berjengit. Meski suara Ayah terdengar tenang, tak urung aku melongo mendengarnya. Aku langsung duduk, menegakkan tubuh di pinggiran kasur. Dengan bingung, aku duduk di kursi yang ditunjuk Ayah tadi.

Ayah hanya bisa geleng-geleng kepala melihatku.

“Kamu ini …. Ya enggaklah, memangnya Siti Nurbaya sama Datuk Maringgih? Kenal langsung nikah. Ayah mau kalian saling mengenal dulu. Tapi jangan lama-lama. Kalau sudah halal baru boleh lebih dekat.”

“Tapi, Yah ….” Tiba-tiba, aku teringat sosok lelaki yang telah kujatuhi hati. Rendy yang super perhatian padaku. “Apa Amira nggak boleh pilih calon suami sendiri?”

“Boleh, kalau yang kamu pilih dokter!” tegas Ayah.

Ampun, harus dokter? Lututku seketika menjadi lemas. Jadi, tidak adakah harapan bagi Rendy? Kami memang belum ada hubungan apa-apa selain teman dekat. Namun aku terlanjur menaruh harapan besar padanya. Aku menggelengkan kepala. Bukan Amira namanya kalau tidak berjuang dulu. Aku tahu sebagai anak tunggal, Ayah akan sulit menolak keinginanku. Buktinya, hampir semua keinginanku akan dituruti, meski sebagian membutuhkan negosiasi panjang.

“Yah, memangnya harus ya nikah sama dokter?” kataku dengan nada memelas. Kali-kali saja, Ayah jadi luluh mendengarnya.

“Iya,” tegas Ayah tanpa kompromi. “Kita sudah sepakat dua tahun lalu, kan? Ingat?”

Ucapan Ayah seolah-olah meledekku, “Salah sendiri kamu setuju, Amira!”. Aku meneguk ludah, menyesali persetujuanku waktu itu. 

“Ayah tidak usah khawatir. Tentang manajemen klinik, Amira akan belajar mengurusnya. Meski bukan dokter, Amira yakin bisa.” Aku mendekati Ayah, memijit pundaknya pelan, berharap bisa menggoyahkan keputusan.

Ayah mendengus.

“Kata siapa? Lihat saja kerjaanmu selama dua tahun ini. Melamun, nulis, berkhayal, tapi nggak ada hasil. Ayah nggak yakin kamu bisa mengelolanya sendiri. Lagipula, kamu yakin bakal bisa hidup dari menulis saja?”

Aku menghela napas. Ayah betul, selama aku belum bisa memberi bukti, tidak akan ada yang percaya kemampuannya. 

“Baiklah, nggak ada salahnya mencoba. Siapa dia, Yah?” Aku memberanikan diri bertanya. 

“Ada, deh. Nanti Ayah kenalkan padamu. Dia mahasiswa bimbingan Ayah. Anaknya cerdas, pernah lompat kelas saat ikut akselerasi di sekolahnya dulu. Dia lulus SMA lebih cepat dari anak-anak seusianya. Insya Allah, dalam beberapa hari ke depan kamu akan bertemu dia. Dia praktik di klinik,” kata Ayah sambil menunjuk sebelah rumah. “Atau bisa juga nanti Ayah undang buat makan malam di luar.”

Tepat di sebelah rumah kami, klinik milik Ayah berdiri. Bangunan bertingkat dua yang cukup besar itu dibangun, dirawat, dan dikelola dengan baik oleh Ayah dan Ibu sejak aku masih duduk di bangku SD. Selama itu, sekalipun aku tak pernah terlibat. Aku terlalu asyik dengan duniaku sendiri.

“Ada banyak alasan mengapa klinik itu harus bertahan, Amira. Bukan hanya untuk kamu, anak Ayah satu-satunya,” ucap Ayah berat. “Banyak orang yang hidupnya bergantung pada klinik itu. Meski sedikit, Ayah ingin berbagi rezeki.”

Aku tersenyum, mengerti maksud Ayah. Di balik sikap tegasnya, hati Ayah lembut sekali. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin aku tega menolak permintaan Ayah? Yang penting turuti dulu keinginan Ayah untuk berkenalan dengan lelaki itu. Jika tidak cocok, aku bisa mencari alasan lain. 

Aku melingkarkan kedua lengan dari belakang melalui leher Ayah. Lalu kusandarkan dagu pada pundak Ayah. Kedua pundak itu, yang dulu menggendongku saat kecil. Bagai boneka, aku akan tertawa-tawa hingga keluar air mata saat Ayah sengaja mengguncang-guncangkan tubuhku di atas pundaknya.

“Yah, memangnya dia mau sama Amira?” tiba-tiba pertanyaan itu terlintas.

“Coba Ayah lihat muka anak Ayah?” goda Ayah sambil menoleh padaku. “Hmm … manis. Kayak Park Shin Hye. Ayah yakin dia nggak bakal nolak!”

Mau tak mau aku tergelak mendengar perkataan Ayah. Hidungku kembang kempis karena dipuji. Ayah selalu punya cara membuatku senang. Tak heran, susah bagiku menolak permintaannya. 

“Ayah, bisa aja! I love you, Ayah!” 

Tawa Ayah mengiringi ucapanku. 

Di luar kamar, Ibu berteriak, “Nah gitu, dong. Yang akur!” Tanda ikut lega mendengarnya. Jika kami belum mencapai kata sepakat, aku yakin Ibu merasa perlu ikut turun tangan.

**

Coba tebak, kayak apa lelaki pilihan Ayah?