7. Mas Dokter Itu
Bab 7
Mas Dokter Itu.

S*al! Pasti karena anak kecil tadi menabrakku jadi lipstikku jadi mencoret keluar jalur. Usai merapikan lipstik, ponselku kembali berbunyi. Aku mengangkatnya.

“Ra, lama benget ke toilet. Buruan, Ayah udah pesankan salmon sashimi kesukaanmu, nih,” kata Ayah segera setelah aku mengangkat ponsel.

“Iya, Yah. Maaf. Ada sedikit insiden tadi,” jawabku. 

“Ada apa?” Suara Ayah terdengar khawatir.

“Nggak apa, Yah. Sudah beres. Amira segera ke sana,” kataku akhirnya tak ingin membuat Ayah cemas. Begitu mendengar kata salmon sashimi, aku jadi ingat perutku yang tadi lapar. Mudah-mudahan dia yang tak ingin kusebut namanya itu, sudah keluar dari resto ini. Aku tak mau melihat lagi, meski hanya seujung rambutnya.

Kuayun langkah bergegas menuju meja tempat Ayah dan tamu-tamunya berkumpul. Susah payah kupincingkan mata, berusaha mengenali wajah-wajah orang yang bersama Ayah. Hanya berhasil melihat sosoknya saja dari kejauhan. Total ada empat orang bersama Ayah. Satu orang perempuan berambut sebahu, yang tadi sudah datang di awal kami masuk. Yang lainnya lelaki. Artinya, bertambah satu orang lelaki lagi. Mataku benar-benar tak bisa kuajak bekerja sama. Akhirnya aku menyerah, kudekati mereka. 

Ayah langsung menoleh ketika aku melangkah mendekat.

“Sini, Ra,” kata Ayah memintaku duduk di tepat di sebelahnya.

Aku tersenyum pada mereka. Ketika aku berada di sebelah Ayah barulah aku bisa melihat siapa lelaki yang duduk tepat di depan kursi yang ditunjukkan Ayah untukku. Dialah lelaki yang tadi bertemu denganku di depan toilet! Aku tertegun seketika. Tak mungkin menghindar dan mencari kursi lain. Satu-satunya kursi yang kosong hanyalah yang ada di samping Ayah. Terpaksa di sanalah aku akan duduk. Aku menarik kursi, bersiap akan duduk. Kusetel wajah seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Aku merasa di atas angin saat ini, karena aku yakin dia tak akan menggangguku saat aku berada di dekat Ayah. Lagipula, posisi saat ini merupakan anak dari seseorang yang dihormatinya.

“Kenalkan, ini putri saya, Amira,” ujar Ayah dengan senyum sumringah. 

Tamu-tamu Ayah berdiri dan hendak menyalamiku. Aku menangkupkan kedua tangan di dada. Lalu menyungging senyum sedikit. Sejujurnya, aku masih sering lupa untuk tidak bersalaman dengan lelaki yang bukan muhrim. Tapi kali ini ini, aku ingat karena ingin menghindari bersalaman dengan lelaki itu.

Ayah memandangku heran. Beliau tahu seperti apa grasak-grusuknya aku. Melihatku agak diam, agak di luar kebiasaan. Ditambah pula aku buru-buru menangkupkan tangan sebagai pengganti salaman. Namun kemudian, Ayah kembali meneruskan perkenalan.

“Yang ini dokter Hana, dia baru dapat gelar Spesialis Kandungan,” kata Ayah menyebutkan nama tamu perempuan satu-satunya di meja kami. “Lalu, yang itu dokter Reza, dokter gigi.”

Aku mengangguk pada keduanya sambil tersenyum.

“Yang ini, dokter umum. Namanya dokter Angga. Sebentar lagi akan menempuh pendidikan spesialiasi,” lanjut Ayah meneruskan perkenalan.

“Lalu yang terakhir, yang cakep ini. Dokter Arga, dia dokter umum. Baru lulus dengan nilai cemerlang.” Ayah meperkenalkan sambil bercanda.

Semua orang di meja itu tertawa mendangar canda Ayah, termasuk Arga. Ya, Arga dialah lelaki yang kubenci itu. Mengapa Ayah memperkenalkan dia secara istimewa? Aku jadi menduga yang tidak-tidak.

“Di antara semuanya, hanya Mas Arga ini yang masih single. Ya kan, Mas?” Ayah memperjelas kalimatnya.

Apa pula Ayah ini? Pakai menyebut Arga dengan panggilan “Mas”. Ayah memang biasa memberikan panggilan demikian untuk menghargai orang lain. Namun di hadapan tamu-tamunya ini, hanya Arga yang dipanggil Mas. Yang lainnya disebut “Dok”. Begitu nyata perbedaannya, bisa-bisa membuat dia besar kepala! Mendadak aku jadi makin kesal ketika menyadari, di antara tamu-tamu Ayah, dialah satu-satunya yang single. Jadi Ayah mau menjodohkan aku dengan Arga? Dih, yang benar saja!

Arga, di depanku tersenyum simpul. Sedangkan teman-temannya ikut menimpali perkataan Ayah.

“Mas Arga ini entah perempuan seperti apa yang dicari, kami kurang paham, Mbak Amira,” sahut Dokter Hana.

“Iya, betul. Padahal teman-teman seangkatannya sudah banyak yang berkeluarga. Apa sih maumu, Ga?” kelakar Dokter Reza sambil tersenyum simpul.

“Ya kita doakan saja mudah-mudahan sebentar lagi Mas Arga dapat pendamping. Biar kondangan nggak sendirian lagi.” Ayah terkekeh.

“Betul, Dok,” kata yang lainnya mengiyakan.

“Aamiin. Tuh, Ga banyak yang doakan kamu, lho.”

Aku melirik padanya. Dia tidak menjawab sama sekali, hanya ikut tertawa seolah ikut mengamini perkataan Ayah. Ish, aku jadi muak melihatnya. 

Syukurlah tak lama kemudian pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Semua obrolan bergeser ke topik lain. Aku berusaha tak mempedulikan Arga yang ada di depanku. Sebagai gantinya, aku memusatkan perhatian pada salmon sashimi di piringku. Meski kali ini warna oranye muda pada salmon itu tak terlalu membuatku berselera, tetap lebih menarik dibandingkan Arga. 

“Silakan dimakan ya. Kita ngobrol santai saja,” kata Ayah mempersilakan. “Jadi begini lho, maksud saya malam ini untuk menawarkan pekerjaan di klinik saya. Siapa tahu ada yang berminat mengisi kekosongan tenaga medis di sana.”

“Lho bukankah sudah ada beberapa teman kami yang praktik di sana, Dok?” tanya Dokter Hani.

Ayah menghela napas.

“Itulah. Beberapa resign di saat bersamaan, karena mulai fokus pada tempat praktik mereka sendiri. Tentu saja saya tidak punya hak untuk menahan mereka. Saat ini, memang kebutuhannya tidak banyak. Sekadar untuk membantu menggantikan saya dan spesialis kandungan yang sebelumnya. Beginilah susahnya kalau tidak punya anak yang mengikuti jejak saya,” canda Ayah.

“Bukankah Mbak Amira ini calon dokter?” tanya Dokter Angga yang sedari tadi lebih banyak diam.

Aku menggeleng, terpaksa menjawab pertanyaan itu dengan sopan.

“Bukan. Saya kuliah di Jurusan Sastra, Mas,” jawabku. Sengaja aku menyebutnya dengan panggilan tersebut. Sepertinya usianya tidak terpaut jauh dengan Arga. 

“Anak saya hanya satu, Amira ini,” jelas Ayah membuat semua mengangguk-angguk. “Tidak perlu dijawab sekarang, tapi tolong pikirkan saja dulu.”

“Baik, Dok. Terima kasih atas tawarannya,” sahut Dokter Angga.

“Atau … jika tidak ada yang bersedia, mungkin saya harus mencari calon menantu dokter sepertinya,” kata Ayah lagi sambil terkekeh.

Astaga Ayah! Salmon sashimi yang kujepit menggunakan sumpit, mendadak terlepas dari seketika, terlempar masuk ke dalam mangkuk saus berwarna kecokelatan. Kuahnya menciprat ke mana-mana, termasuk kemaja Arga.

“Ma-maaf,” kataku tergagap. Cepat tanganku terulur mau mengambil tisu untuk mengelap meja, diiringi pandangan semua orang.

“Sini, saya bantu bersihkan,” sahut Arga mendahuluiku mengambil tisu. Sebelum aku sempat bergerak, dia sudah mengelap meja sampai bersih. Wajahnya terlihat tenang, seolah tak terjadi apapun.

“Terima kasih, Mas Arga.” Ayah berkata padanya.

Cih, mau cari muka ya? Hatiku semakin kesal dibuatnya. Detik itu juga, aku menyesal datang ke resto Jepang malam ini. Dari sekian banyak kebetulan di dunia ini, mengapa dia yang ada di hadapanku saat ini? Kekesalanku padanya bertahun lalu, masih tetap kuingat. Bukan karena terlalu manis sehingga sulit dilupakan. Namun sebaliknya.

**